<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900</id><updated>2011-09-06T04:54:48.147-07:00</updated><category term='edy'/><category term='elok'/><category term='doge'/><category term='pendidikan'/><category term='musik sanggar akar'/><category term='klaten'/><category term='soelastri'/><category term='ine'/><category term='pawai'/><category term='pendidikan anak'/><category term='sanggar anak'/><category term='tramtib'/><category term='dolorosa sinaga'/><category term='solidaritas'/><category term='pendidikan musik'/><category term='foto'/><category term='pangudi luhur'/><category term='bambang'/><category term='ibe'/><category term='dede supriyatna'/><category term='sekolah formal'/><category term='maria'/><category term='lare mentes'/><category term='maria hartiningsih.'/><category term='liteasi'/><category term='pramoedya ananta toer'/><category term='susilo'/><category term='street children'/><category term='musik'/><category term='foto anak'/><category term='anak jalanan'/><category term='anak pinggiran'/><category term='kampong dano'/><category term='penggusuran'/><category term='doge Abdurrahman'/><category term='ibe karyanto'/><category term='saleh'/><category term='bale rahayat'/><category term='terapi musik'/><category term='sanggar anak akar'/><category term='hari anak'/><category term='sanggar'/><category term='keseteraan'/><category term='kesenian'/><category term='sanggar anak alam'/><category term='sanggar akar'/><category term='operet anak'/><category term='instititut sosial'/><category term='indira'/><category term='bantar gebang'/><category term='elok dyah messwati'/><category term='slamet rahardjo'/><category term='karyanto'/><category term='workshop sastra'/><category term='susilo adinegoro'/><category term='hak anak'/><category term='elok dyah meeswati'/><category term='irwan julianto'/><category term='bambang wisudo'/><category term='pendidikan sastra'/><category term='anak marjinal'/><category term='soelastri soekirno'/><category term='lodi paat'/><category term='akar'/><category term='pendidikan kesetaraan'/><category term='literasi kiritis'/><category term=': akar'/><category term='sd pangudi luhur'/><category term='pendidikan seni'/><category term='institut sosial Jakarta'/><category term='dano'/><category term='andre'/><category term='anak'/><category term='kalimalang'/><category term='alternative education'/><category term='lodi'/><category term='Tags: akar'/><category term='marginalized children'/><category term='pendidikan alternative'/><category term='musik anak'/><category term='pendidikan alternatif'/><category term='dolorosa'/><category term='pedidikan'/><category term='ibe karyanto.'/><category term='nyanyian anak'/><category term='ibe karyanto bambang'/><category term='ISJ'/><category term='sastra'/><title type='text'>Niat</title><subtitle type='html'>Inspirasi Anak Semua Bangsa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-1958274930415768123</id><published>2008-12-26T15:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T15:52:41.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah formal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='operet anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=': akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literasi kiritis'/><title type='text'>Sejarah Konvensi Hak Anak (KHA)</title><content type='html'>Kata konvensi hak anak atau yang lebih dikenal dengan singkatannya KHA banyak orang yang sudah pernah dengar dan tahu terutama bagi orang-orang yang mempelajari tentang hukum. Lantas, bagi kita orang-orang yang tidak mempelajari hukum tahu ga sih artinya ? atau jangan-jangan belum pernah dengar dengan kata tersebut. Untuk itu mari kita simak semua dalam tabloid NIAT edisi kedua ini, karena kita akan mengupas semua tentang kata konvensi hak anak tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konvensi atau kovenan adalah kata lain dari treaty (traktat atau pakta), merupakan perjanjian diantara beberapa negara. Perjanjian ini bersifat mengikat secara yuridis dan politis. Oleh karena itu, konvensi merupakan suatu hukum internasional atau biasa juga disebut sebagai ‘instrumen internasional’. Konvensi Hak Anak adalah perjanjian yang mengikat secara yuridis dan politis diantara berbagai negara yang mengatur hal – hal yang berhubungan dengan hak anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan mengenai hak anak bermula setelah berakhirnya perang dunia I sebagai reaksi atas penderitaan yang timbul akibat bencana peperangan terutama yang dialami oleh kaum perempuan dan anak – anak, para aktivis perempuan dalam pawai protes mereka membawa poster – poster yang meminta perhatian publik atas nasib anak – anak yang menjadi korban perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang diantara para aktifis perempuan tersebut, Eglantyne jebb, kemudian mengembangkan 10 butir pernyataan tenteng hak anak. Pada tahun 1924, untuk pertama kalinya Deklarasi Hak Anak di adopsi secara internasional oleh Liga Bangsa – Bangsa. Deklarasi ini dikenal juga sebagai “deklarasi jenewa”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1959, Majelis Umum Perserikatan Bangsa – Bangsa kembali mengeluarkan pernyataan mengenai hak anak, merupakan deklarasi internasional kedua. Lalu pada tahun 1979, saat di canangkannya “Tahun Anak Internasional”, pemerintah polandia mengajukan usul bagi perumusan suatu dokumen yang meletakan standar internasional bagi pengakuan terhadap hak – hak anak dan mengikat secara yuridis. Inilah awal mula perumusan tentang Konvensi Hak Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1989, rancangan konvensi hak anak diselesaikan, dan pada tahun itu juga naskah akhir tersebut disahkan dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB (tanggal 20 november). Rancangan inilah yang kita kenal sebagai Konvensi Hak Anak (KHA) seperti yang kita kenal sekarang ini. Kemudian, indonesia meratifikasi KHA dengan keputusan presiden No. 36/1990 tertanggal 25 agustus 1990. Tetapi KHA berlaku di indonesia mulai 5 oktober 1990, sesuai pasal 49 ayat 2,”Bagi tiap – tiap negara yang meratifikasi atau yang menyatakan keikutsertaan pada konvensi (Hak Anak) setelah diterimanya instrumen ratifikasi atau instrumen keikutseraan yang keduapuluh, konvensi ini akan berlaku pada hari ketigapuluh setelah tanggal diterimanya instrumen ratifikasi atau instrumen keikutsertaan dari negara yang bersangkutan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang sudah mengerti belum kamu-kamu semua tentang KHA (Konvensi Hak Anak). Ternyata sejarahnya cukup lumayan panjang yah untuk mencapai draft akhir tentang konvensi hak anak. Dan yang pasti setelah kamu semua mengerti tentang KHA, jangan lupa yah bahwa kita sebagai seseorang yang lebih dewasa (19-keatas) dari pada anak-anak punya kewajiban untuk menjalankan prinsip-prinsip tentang KHA yaitu menghormati seorang anak sebagai manusia. Dan kamu-kamu semua yang masih berusia anak (0-18) harus tahu bahwa seorang anak itu punya hak yang harus di hormati oleh orang dewasa seperti orang tua, kakak, dsb. Mudah-mudahan kalian semua pada paham yah pengertian dari Konvensi Hak Anak (Sumber : buku pengertian KHA, Unicef)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUTIR KE 2 KONVENSI PBB TENTANG HAK ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MEMPEROLEH PERLINDUNGAN DAN PERAWATAN SEPERTI UNTUK       KESEJAHTERAAN, KESELAMATAN DAN KESEHATAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, setiap anak yang ada didunia ataupun khususnya di indonesia berhak di lindungi dari hal – hal yang mengancam dirinya. Inilah yang menjadi peran orang tua atau lebih umumnya orang dewasa, bagaimana caranya supaya seorang anak itu benar-benar harus  terlindungi dari mara bahaya yang bisa mengancam dirinya. Kita harus mulai peran ini dari lingkup yang paling terkecil yaitu di keluarga. Bagi kita yang menjadi orang tuanya atau yang menjadi seorang kakak harus berperan melindungi sang adik bagi seoarang kakak atau sang anak bagi orang tua . Di zaman sekarang ini sedang marak-maraknya seorang anak dibiarkan tentang keselamatannya. Coba kita lihat anak-anak yang ada di jalanan. Tanpa dipedulikan tentang keselamatannya, mereka teman-teman yang di jalan menjadi rentan terhadap suatu hal yang mengancam dirinya. Jika hal ini dibiakan begitu saja berarti kita yang sadar melihatnya dan tahu, telah melanggar tentang konvensi hak anak butir ke dua ini, karena kita membiarkan masalah tersebut terjadi. Kalau sudah seperti itu berarti kita namanya sudah tidak menghormati seorang anak sebagai manusia. Dan hak-haknya terabaikan begitu saja tanpa ada rasa tanggung jawab. Dan karena itulah peran kita sebagai orang dewasa harus membantu seorang anak jika melihat suatu kejadian di atas. Dan inilah peran yang paling ideal yang harus dijalankan oleh orang dewasa. Bagi kamu-kamu semua yang belum memahami tentang isi butir-butir KHA, mungkin harus segera mempalajarinya. Daripada nanti malah kamu yang akhirnya membiarkan hak seorang anak terabaikan. Apakah kamu mau dirimu seperti itu? Semoga kamu bukan salah satu orang yang tidak menghormati hak anak yah.....! Kaminah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-1958274930415768123?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/1958274930415768123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/sejarah-konvensi-hak-anak-kha.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1958274930415768123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1958274930415768123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/sejarah-konvensi-hak-anak-kha.html' title='Sejarah Konvensi Hak Anak (KHA)'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-6668351322440983124</id><published>2008-12-11T18:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:49:23.153-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liteasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pramoedya ananta toer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literasi kiritis'/><title type='text'>Worskhop Sastra di Sanggar Akar</title><content type='html'>Sudah lama saya ingin mengisi kuliah di sanggar akar dengan kegiatan workshop Sastra. Ide ini sempat saya lontarkan pada Ibe Karyanto yang lebih dikenal di kalangan anak-anak akar dengan panggilan “Uwak” lebih dari setahun lalu. Akan tetapi rencana ini cukup lama tenggelam meski dan baru terlaksana menjelang ulang tahun akar ke-14. Saya bukanlah orang yang tahu sastra. Saya hanya merasa membaca cukup banyak karya sastra. Dari situlah saya belajar banyak. Ada begitu banyak novel dan penulis yang saya sukai. Beberapa novel juga memberi inspirasi dalam hidup saya, menemani saya pada saat harus berjuang dalam kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai seorang jurnalis saya belajar banyak dari sastra. Di rumah saya membiasakan anak saya, Oxi, membaca sejak kecil. Sejak kelas 5 SD, ia saya perkenalkan dengan karya sastra. Barangkali ia belajar lebih banyak dari kegiatan membaca di rumah daripada yang ia peroleh dari bangku sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya menggunakan pendekatan literasi kritis dalam workshop ini. Literasi kritis hanya dibicarakan sedikit orang di Indonesia. Padahal pendekatan ini cukup populer, termasuk di negeri-negeri kapitalis seperti Amerika Serikat dan Australia. Literasi kritis membantu kita untuk tidak sekedar membaca teks tetapi juga menelaah secara kritis bagaimana teks itu dikonstruksi dalam relasinya dengan kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam workshop ini saya menggunakan novel “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini saya pilih karena ini merupakan salah satu novel Indonesia yang bagus, ditulis oleh sastrawan yang hebat, dan bukunya relatif tipis. Pilihan ini saya ternyata cocok dengan anak-anak yang mengikuti workshop ini. Sekitar 15 anak ikut dalam workshop ini. Ada yang masih berumur 13 tahun, ada yang sudah lulus SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Workshop ini terbagi dalam tiga sesi. Sesi terakhir akan diisi dengan pembuatan blog. Pada sessi pertama, saya awali dengan berbagi cerita mengenai novel yang paling menarik yang pernah dibaca. Saya senang sekali bahwa hampir seluruh anak sering membaca buku. Mereka bisa bercerita tentang novel-novel yang menurut mereka paling menarik. Ada Harry Potter, Laskar Pelangi, bahkan ada beberapa anak yang sudah membaca sejumlah buku tetra lurgi Pramoedya Ananta Toer. Ini berbeda sekali dengan pengalaman saya mengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta maupun dalam diskusi dengan komunitas jurnalistik di sebuah SMA Negeri paling top yang ada di Jakarta. Mereka jarang membaca buku. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenal Pramoedya Ananta Toer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah berbagi pengalaman, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Di tiap kelompok anak-anak bergantian membaca keras-keras bab pertama dari novel Banten Selatan. Tujuannya utamanya adalah supaya anak membiasakan membaca sampai selesai bab pertama. Biasanya, bab pertama adalah bagian yang tersulit bagi mereka yang belum terbiasa membaca buku. Karena itu dalam pembelajaran sastra, ada baiknya bab pertama dibahas bersama-sama. Setelah anak-anak selesai, kami mendiskusikan bab pertama. Mereka bilang bahwa buku ini mudah dibaca, bahasanya mudah, dan hidup. Kami juga mendiskusikan tentang kharakter utama dalam buku ini. Sessi ini diakhiri dengan tugas. Setiap anak diminta menulis berita, tinjauan buku, cerpen, atau naskah drama dari bagian buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam pertemuan berikut, anak-anak membawa karya yang ditulisnya. Ada seorang anak yang menulis naskah drama. Kami mulai sessi kedua dengan mendiskusikan isi buku dan membahas bersama apa yang ditulis anak. Di sini anak diajak mengungkapkan pendapat mereka tentang tokoh-tokoh utama maupun isi cerita. Mereka mengidentifikasi Musa sebagai juragan yang jahat, berkong-kalikong dengan gerombolan dan pak lurah untuk menindas petani. Mereka bersimpati kepada Ranta dan isterinya Ireng, petani miskin yang tertindas. Akan tetapi mereka belajar bahwa mereka tidak menyerah. Petani-petani itu berani melawan penindasan, tidak dengan amok kekerasan, tetapi dengan strategi yang baik dan akhirnya menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada tiga aktivitas utama dalam kegiatan tersebut. Membaca, berbicara di depan umum, dan menulis. Inilah tiga aktivitas utama dalam komunikasi yang menjadi kelemahan anak-anak sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sessi kedua diisi pula dengan belajar menulis deskripsi dan narasi. Anak-anak saya minta menuju ruangan di kompleks sanggar yang paling berkesan bagi mereka. Mereka saya minta mengamati dan merekam dengan pancaindra mereka. Ketika mereka berkumpul kembali, saya minta mereka bernapas seperti lebah dan kemudian terbang sebagai seekor lebah. Dengan suara mendengung mereka terbang di atas Kali Malang, melihat sanggar dari atas, kemudian masuk ke dalam kompleks sanggar Akar, dan mencari ruangan yang paling mereka sukai. Selesai mengamati mereka terbang lagi ke luar sanggar, masuk lagi, dan kembali bersatu dengan tubuh mereka. Cara ini akan membantu kita dalam mendeskripsikan dan menceritakan sesuatu. Deskripsi dan narasi merupakan kelemahan utama penulis di Indonesia, baik itu jurnalis maupun novelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini merupakan beberapa contoh karya yang ditulis anak-anak dari “reportase” Pramoedya yang ditulis dalam buku Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Menurut saya, tulisan-tulisan ini cukup bagus.  Bila anak-anak ini rajin membaca, terus-menerus menulis, mereka pasti akan menjadi penulis-penulis yang tangguh. (P Bambang Wisudo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen&lt;br /&gt;MAU HIDUP ENAK, MAKANYA BERJUANG ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut hitam telah menyihir gumpalan-gumpalan awan putih bersih menjadi beberapa kumpulan awan yang berwarna hitam kelabu. Dinginnya udara pegunungan semakin menusuk-nusuk tulang. Dari jauh nampak sebuah pegunungan yang dipadati oleh pepohonan yang tinggi, tetapi tidak terlihat jelas karena selimut tebal kabut hitam. Sesekali angin datang untuk menyampaikan suara deburan ombak yang berasal dari laut Hindia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di balik selimut tebal kabut nampak samar-samar sebuah gubuk reot. Gubuk tersebut bertiangkan bambu yang sudah lapuk. Atapnya daun rumbia. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sana-sini sudah mulai berlubang dimakan rayap. Lantai tempat mereka berpijak adalah sebuah lantai alami yang tak akan didapatkan pada zaman sekarang yaitu lantai tanah. Gubuk reot itu hanya dihuni oleh sepasang suami-istri, yaitu Ranta dan Ireng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nampak dari kegelapan dua orang pemikul singkong hendak menuju truk-truk dari kota memunggah singkong. Kedua pemikul singkong itu bernama Aden dan Melki. Mereka berdua sama-sama menggunakan celana hitam selutut dan bertopi capio. Sesampainya di pondok milik Ranta mereka berdua berhenti untuk istirahat dan minum sedikit air sebagai penghilang dahaga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Aden : Rupanya mau hujan lagi ya ?&lt;br /&gt; Melki : Iya, seandainya saja kita punya gerobak!&lt;br /&gt;Aden : GEROBAK!!! Yang benar saja kau ini kalau bicara.&lt;br /&gt;Melki  : Dulu jalan ini kita yang buat, tapi apa sekarang, masa mau lewat jalan buatan sendiri saja mesti bayarpajak pada Onderneming, padahal ini kan jalan kita sendiri.&lt;br /&gt;Aden : udah jangan kebanyakan omong, nanti keburu ujan lho,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua segera menghilang dari pondok Ranta. Tak berapa lama Ranta sampai dirumah turunlah hujan. Ranta yang sedang duduk di bale segera menurunkan kakinya ketika mendengar suara seorang perempuan yang sudah tak asing lagi baginya.  Ireng, itulah istri Ranta,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ireng : Sudah pulang pak? Tak ada hasil!&lt;br /&gt; Ranta : Sapinya sudah dijualkan kepada orang, bagaimana dipasar tadi?&lt;br /&gt; Ireng : Pasar kacau, diobrak abrik DI.&lt;br /&gt; Ranta  : Dia lagi.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI atau Darul islam adalah sekelompok manusia yang tak berkeprimanusian. Merekalah yang selalu meresahkan warga desa Banten Selatan. Pada saat mereka sedang asik berbincang-bincang tentang DI, datanglah juragan Musa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia datang untuk menyuruh Ranta mencuri bibit karet milik ondermining, dengan upah uang seringgit. Jam sebelas malam Ranta pergi untuk melancarkan pekerjaanya. Setelah beberapa  kali bolak-balik Ranta mengantar curian bibit karet untuk juragan Musa. Pada saat Ranta ingin meminta sisa upah atas pekerjaan yang dilakukannya itu, ia malah di pukuli dengan rotan dan mereka juga merampas pikulan dan golok milik Ranta. Pada saat Ranta kembali kerumahnya , Ranta di sambut oleh Ireng dan kedua pemikul singkong. Setelah keadaan Ranta sedikit membaik, mereka berbincang-bincang tentang kekejian juragan Musa. Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, kedua pemikul singkong itu membawa teman 1 lagi yang bernama Isa untuk berunding bagaimana caranya untuk menghancurkan kekejian juragan Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak begitu lama ketiga penjual singkong itu pergi datanglah juragan Musa dengan aktentas dan tongkat yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Seperti biasa ia datang untuk meyuruh Ranta mencuri bibit karet lagi. Awalnya tidak ada jawaban. Akhirnya Ranta muncul dengan geramnya menghadapi juragan Musa. &lt;br /&gt;Perlawanan dari Ranta membuat juragan Musa lari tunggang kanggang sampai aktentas dan tongkatnya jatuh. Ia tersungkur diatas tanah. Ketiga pemikul singkong itu kembali dan mulai berdiskusi mau diapakan aktentas dan tongkat itu. Lama mereka berunding dan menghasilkan keputusan untuk memberikan aktentas tersebut sebagai barang bukti penangkapan juragan Musa. Ranta, Ireng, dan ketiga penmikul singkong, mereka pergi bersama-sama menghadap komandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Juragan Musa menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Ranta dan mengambil aktentas dan tongkat yang tertinggal. Bila perlu bakar saja rumahnya. Tapi tindakan juragan musa terlambat karena Ranta dan yang lain sudah sampai di markas komandan. Komandan pun juga sudah menyusun rencana penangkapan Juragan Musa. (Watik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diolah dari:&lt;br /&gt;Sekali Peristiwa di Banten Selatan&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan ‘DI’ berakhir, Warga Arep Tangi pun bangkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan yang terjadi di wilayah Banten Selatan kini sudah menemukan titik cerah. Upaya penangkapan dalang dari kerusuhan dan penindasan terhadap warga  Kelurahan Arep Tangi akhirnya dapat berjalan dengan baik. Komandan dan  gerombolan prajurit meringkus Juragan Musa (40 thn) pada Rabu (15/10) malam di kediamannya di desa Arep tangi, setelah terbukti terlibat  sebagai dalang kerusuhan dengan bendera Darul Islam (DI) yang selama ini menikam rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penangkapan terhadap Juragan Musa itu kemudian disusul dengan penangkapan anggota-anggota pemberontak yang tergabung dalam sindikat pemberontak Darul Islam. Penangkapan ini menjadi akhir dari pencarian aparat keamanan selama kurang lebih 8 tahun yang dahulu nyaris tanpa hasil. Terbongkarnya sindikat ini didasarkan dari informasi seorang warga setempat yang juga menjadi korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami memang kesulitan menangkap pelaku kerusuhan ini karena tidak ada bukti yang jelas, tetapi akhirnya kami mendapat informasi dari seorang korban beserta bukti berkas-berkas terkait kerusuhan DI yang sudah lama melanda kelurahan ini. Bukti-bukti ini menjadi acuan kami untuk mengadakan penyelidikan dan akhirnya menangkap oknum kejahatan tersebut”  ungkap Komandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak berhenti sampai disitu, ternyata aparat pemerintahan desa seperti Lurahpun juga terbukti terlibat dalam sindikat kerusuhan DI. Karena keterlibatan itu, maka  Komandan mengambil tindakan untuk menempatkan Lurah sementara dari warga setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat perbuatan mereka itu, tidak hanya bangunan desa seperti pasar, kebun, rumah warga yang porak-poranda setelah di obrak-abrik oleh sindikat DI. Mereka juga melakukan tindakan kriminal  yang merugikan masyarakat, seperti aksi-aksi kekerasan. Warga dipaksa hidup dalam ketakutan, terselubung dalam kemiskinan dan tidak berdaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga desa Arep Tangi saat ini terlihat mulai bangkit. Mereka mulai bergotog-royong memperbaiki fasilitas-fasilitas desa seperti jalan, pasar , serta membuka lagi saluran air untuk kebutuhan irigasi sawah dan kebun yang selama ini dikuasai oleh juragan-juragan tertentu saja. Mereka bahu-membahu membuat waduk untuk pemeliharaan ikan dan membuka perladangan untuk menanam duren dan kelapa untuk kebutuhan bersama. Warga desa yang sebagian besar hanya mengenal pacul dan sawah inipun juga telah tergerak untuk memulai mengenal baca tulis untuk kebutuhan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diwawancarai mengenai pembangunan desa, Ranta (39 thn) selaku Lurah sementara menjawab,&lt;br /&gt; “ Kami memang sudah mulai bertekad untuk memperjuangkan kehidupan yang sejahtera, melawan kemiskinan dan keterpurukan kami selama ini  melalui gotong royong membangun desa, karena tanpa sumbangsih kita bersama, sekalipun nasib akan memberi  kita umur tiga kali lipat dari semestinya keadaan akan tetap beku, karena segalanya mesti diperjuangkan”. &lt;br /&gt;Itulah suara yang mewakili warga  desa Arep Tangi sebagai wujud rasa syukur karena terlepas dari cengkeraman pemberontak. (Saneri) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Drama&lt;br /&gt;ADEGAN 1 &lt;br /&gt;Suatu sore yang amat mendung. Sebuah gubug yang terletak di kaki gunung di desa Arep tangi tampak gelap dan sunyi. Hanya terdengar suara gemericik air kali dari kaki gunung dan suara burung. Tinggi gubuk yang dihuni ranta dan istrinya ini tidak lebih dari dua meter. Letaknya membelakangi sebuah bukit yang belum pernah digarap manusia. Pohon-pohon raksasa tumbuh dengan liarnya disertai semak-semak padat dibawahnya. &lt;br /&gt;Ranta : (sambil mengetok pintu) &lt;br /&gt;   Reng, Ireng! Reng!!!&lt;br /&gt;(Tidak terdengar jawaban, ranta akhirnya duduk di bale depan gubuknya. Dari kejauhan irengpun datang menghampiri ranta)&lt;br /&gt;Ireng  : Sudah pulang pak?&lt;br /&gt;Ranta : Iya ( sambil terlihat mengeluh)&lt;br /&gt;Ireng : Kenapa? Tidak ada hasil?&lt;br /&gt;Ranta : Samasekali ga ada bu.  O ya, gimana tadi dipasar? &lt;br /&gt;Ireng : (tampak menahan lelah) Pasar kacau balau pak, diobrak-abrik DI.&lt;br /&gt;Ranta :Ya ampun, gimana kita bisa pergi ke kota, nengok si Agil di rumah sakit, kalau              kita tak punya apa-apa begini bu? &lt;br /&gt;Ireng : (sambil mulai berkaca-kaca) Aku bingung pak. Aku ga mau kehilangan anak     untuk ketiga kalinya. Tapi kalo kaya gini terus, si agil  bisa ikut ga ada pak. &lt;br /&gt;Ranta :Ya udah, Bu.  nanti kita pikirkan lagi. Kita masuk dulu,ada yang ingin kubicarakan.&lt;br /&gt;Ireng : (Ireng membukakan pintu dan masuk bersama Ranta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di dalam rumah, sambil duduk di ambin dibawah  cahaya damar atau lampu minyak, ranta menceritakan sesuatu kepada istrinya )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranta : Begini, Bu. Tadi aku ketemu Juragan Musa. Malam ini aku akan berangkat  mengambil biji karet lagi sesuai dengan perintah juragan. Dia hanya memberiku ini. (sambil mengulurkan selembar uang)  &lt;br /&gt;Ireng : Seringgit?? Kalo aku laki-laki, sudah kutekuk batang lehernya. Kau yang selama ini baik dipaksa menjadi pencuri terus-menerus. Aku tak rela pak. &lt;br /&gt;Ranta : (Sambil memegang tangan Ireng) Dengar  Reng, aku memang sering nyolong tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling. Ada waktunya, kita akan hidup baik dan senang. Sekarang in mereka yag tentuka hidup kita. Mereka!!&lt;br /&gt;Ireng : Mereka siapa? Mereka siapa pak? (sambil memelas) &lt;br /&gt;Ranta : Mereka yang datang pada kita hanya menyuruh kita menjadi maling. Mereka yang hidup memisah dari kita. Mereka, yang di dalam otanya cuma ada pikiran mau memangsa sesamanya. Mereka!!! (Sambil mengangkat tangan dengan telunjuk yang tak jelas arahnya)&lt;br /&gt;Ireng : (Sambil menangis rintih) Cukup pak, Cukup..kumohon jangan pergi. &lt;br /&gt;Ranta : ( Sambil berjalan menuju pintu) Doakan aku Reng, aku harus pergi sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ranta pun berjalan keluar dan menutup pintu, sementara Ireng tetap terduduk di atas ambin tak berdaya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali peristiwa di Banten Selatan &lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama saya sebenarnya berminat membaca buku ini. Tapi kurang mengerti dengan bahasanya. Lagian saya juga memang jarang baca buku-buku berat selain komik tentang kartun atau cerita lucu. Saya juga tidak pernah menulis resensi atau sejenisnya karena saya hanya belajar menulis di kelas bahasa Indonesia di sanggar. Kebetulan saya juga tidak sekolah formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bbuku yang saya baca ini menceritakan tentang ada sebuah keluarga dengan kepala keluarga bernama Ranta dan istrinya Ireng. Dia keluarga yang miskin. Karena kemiskinan tersebut, Ranta dipaksa menjadi maling suruhan Juragan Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukan perintah Juragan Musa untuk mencuri bibit karet, bukannya mendapat upah, Ranta justru babak belur karena tertangkap oleh penjaga ladang karet juragan Musa. Juragan Musa sengaja menyuruh ranta menjadi pencuri supaya dia dapat mengeluarkan Ranta tanpa membayar gaji selama bekerja di ladang karetnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudia di suatu hari setelah kejadian itu, juragan musa kembali mendatangi Ranta. Rantapun menunjukan rasa marah hingga membuat juragan musa pergi ketakutan. Saat dia lari, tas dan tongkatnya tertinggal didepan rumah Ranta. Dalam tas itu ada barang bukti bahwa juragan Musa selama ini bekerja sama dengan rombongan DI atau darul islam yang merusak kampung. Kemudian ranta menyerahkan tas tersebut kepada Komandan. Akhirnya juragan musa tertangkap dari bukti-bukti dalam tas milik jurangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kejadian itu, Ranta diangkat jadi lurah. Kemudian warga bekerjasama membangun desa dan belajar baca tulis. (Sania)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Sekali Peristiwa di Banten Selatan &lt;br /&gt;Pengarang : Pramoedia Ananata Toer &lt;br /&gt;Penerbit : Lentera Dipantara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak membaca  keseluruhan. Saya hanya membaca penuh pada bab pertama dan terakhir. Bab-bab yang lain dibaca dengan loncat-loncat. Dengan itu saya berusaha menyimpulan cerita dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini bercerita tentang peristiwa di sebuah kampung yang kaya akan sumber daya alam tapi masyarakatnya miskin. Mereka kesulitan untuk bekerja karena banyaknya kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh pemberontakan Darul Islan (DI). Kampung yang sebagian besar penduduknya hidup dari lahan pertanian ini selalu diselimuti rasa ketakutan dan tidak berdaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang warga yang juga sering menjadi korban ketidakberdayaan ini ialah Ranta.  Dia sering dipaksa menjadi maling bibit karet oleh juragan Musa yang sebenarnya terlibat juga dalam persekutuan DI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kerusuhan itu, rumah-rumah penduduk dan pasar menjadi rusak. Hingga akhirnya kerusuhan ini berakhir karena tertangkapnya Juragan Musa sebagai otak persekutuan DI dengan bukti yang ditemukan Ranta pada tas Juragan musa yang tertinggal di depan rumahnya. Setelah itu, rantapun diangkat menjadi Lurah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, gimana prosesnya? Terus gimana nasib desa selanjutnya, baca aja buku ini. (Eta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-6668351322440983124?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/6668351322440983124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/worskhop-sastra-di-sanggar-akar_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/6668351322440983124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/6668351322440983124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/worskhop-sastra-di-sanggar-akar_11.html' title='Worskhop Sastra di Sanggar Akar'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-7578287084830177355</id><published>2008-12-11T18:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T19:04:07.093-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maria hartiningsih.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pedidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maria'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dolorosa sinaga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dolorosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak marjinal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>MENGENAL PENDIDIKAN ANAK PINGGIRAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dunia Anak - Liputan Khusus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Selasa, 24-07-2001.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    KEPERCAYAAN Heru Yuli Pambudi (17) pada sistem di sekolah formal &lt;br /&gt;sudah lama pupus. "Sistem itu membuat kotak-kotak dan jenjang &lt;br /&gt;kemampuan, dan memenjarakan kita ke dalam cara berpikir yang sudah &lt;br /&gt;ditentukan."  Heru melanjutkan, "Pendidikan formal yang pernah saya &lt;br /&gt;ikuti tidak pernah memenuhi apa yang diingini seorang anak. Guru di &lt;br /&gt;kelas lebih banyak menjejalkan apa yang sudah dipaketkan daripada &lt;br /&gt;mengajak kita bicara dan memahami bagaimana situasi murid." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lebih jauh lagi, "Kita tidak bisa mendebat pendapat guru, karena &lt;br /&gt;beradu argumentasi selalu diartikan melawan. Di kelas, guru selalu &lt;br /&gt;benar," ujar Heru. Tak cuma itu. "Dunia pendidikan formal di kelas &lt;br /&gt;tidak mengajar anak memahami satu sama lain, sehingga kita menjadi &lt;br /&gt;asing satu sama lain. Tidak ada model solidaritas di sini, dan sulit &lt;br /&gt;untuk membentuk solidaritas karena sudah ada kotak-kotak itu," tegas &lt;br /&gt;anak pertama dari empat bersaudara itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Heru menyebut bentuk-bentuk diskriminasi sudah tampak dari &lt;br /&gt;pengistilahan yang dibuat entah oleh siapa, seperti "sekolah &lt;br /&gt;unggulan". Menurut Heru, "Kalau ada sekolah unggulan, pasti ada &lt;br /&gt;sekolah buangan. Sekolah unggulan juga pasti mengacu pada semua yang &lt;br /&gt;serba unggul, ya kecerdasan, ya ekonomi orangtua. Lalu yang buangan &lt;br /&gt;ya sekolah yang isinya anak-anak seperti kami ini, anak-anak miskin &lt;br /&gt;yang bayar sekolah saja susah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apa yang dikemukakan Heru tidak bisa dilihat sebagai sikap &lt;br /&gt;antipati terhadap dunia pendidikan formal. Heru adalah satu dari &lt;br /&gt;jutaan anak yang terlempar dari dunia pendidikan formal karena &lt;br /&gt;situasi sosial ekonomi yang dihadapi orangtuanya, yang kemudian &lt;br /&gt;mengimbas pada perkembangan pemikiran dan sikapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jalanan yang menjadi tempatnya bertumbuh selama dua tahun &lt;br /&gt;mengajarinya hal lain yang digelutinya selama di ruang kelas di &lt;br /&gt;bangku sekolah formal. Upaya mempertahankan hidup tidak terjawab oleh &lt;br /&gt;apa yang ia dapatkan di ruang kelas. Di antara derum mobil, &lt;br /&gt;kebisingan, caci maki, rasa curiga, dan kebencian, ia menyimpan &lt;br /&gt;segudang pertanyaan kritis mengenai apa dan siapa dirinya; mengapa &lt;br /&gt;dan bagaimana ia sampai pada kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                            *** &lt;br /&gt;    "SAYA beruntung menemukan komunitas teman senasib di sanggar," &lt;br /&gt;lanjutnya. Saat ini Heru adalah Koordinator Sanggar Akar, suatu media &lt;br /&gt;di tingat komunitas basis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sanggar Akar yang berdiri enam tahun lalu sebagai bagian dari &lt;br /&gt;basis komunitas Biro Advokasi Anak Institut Sosial Jakarta, saat ini &lt;br /&gt;berdiri sendiri dan mengembangkan model pendidikan alternatif untuk &lt;br /&gt;komunitas anak pinggiran; suatu model yang samasekali lain dari apa &lt;br /&gt;yang selama ini mendominasi wacana berpikir mengenai pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Istilah "anak pinggiran" belum banyak dipahami karena orang &lt;br /&gt;terbiasa mendengar atau menggunakan istilah atau kategori yang &lt;br /&gt;bersifat fungsional seperti "anak jalanan", "pekerja anak" atau "anak &lt;br /&gt;telantar" untuk menyebut kelompok anak-anak yang hidup dalam kondisi &lt;br /&gt;lingkungan yang kurang wajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Padahal, seperti dikemukakan penanggung jawab Sanggar Akar, Ibe &lt;br /&gt;Karyanto, substansi atau akar persoalan tidak tercakup dalam kategori &lt;br /&gt;yang bersifat fungsional itu. Kata pinggiran, menunjuk pada kondisi &lt;br /&gt;akibat dari pola kebijakan pemerintah dan tatanan masyarakat yang &lt;br /&gt;tidak adil itu. Pinggiran juga mengacu pada proses pembangunan yang &lt;br /&gt;menjauhkan anak dari hak-hak dasarnya yang mencakup hak kelangsungan &lt;br /&gt;hidup, hak untuk berkembang, hak untuk memperoleh perlindungan dan &lt;br /&gt;hak untuk berpartisipasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan demikian, dalam istilah "anak pinggiran" dikandung maksud &lt;br /&gt;yang lebih substantif menyangkut ketidakadilan yang dilakukan &lt;br /&gt;pemerintah dan masyarakat umum, yakni ketidakadilan struktural, &lt;br /&gt;kultural dan tindakan represi fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selama bertahun-tahun dominasi dibangun dari kerangka berpikir &lt;br /&gt;penguasa yang cenderung mengambil jarak dengan persoalan dalam &lt;br /&gt;masyarakat. Ibe menegaskan, kekuasaan pula yang menanamkan pemahaman &lt;br /&gt;bahwa kondisi buruk yang ditanggung anak-anak pinggiran merupakan &lt;br /&gt;keniscayaan, yang tidak terkait dengan kebijakan di tingkat makro &lt;br /&gt;yang diputuskan segelintir elite politik, teknokrat, dan birokrat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Ini diperlihatkan dengan jelas oleh Pak X," Ibe menyebut seorang &lt;br /&gt;pejabat kantor Menko Kesra (pada masa Orde Baru), "Dalam Konferensi &lt;br /&gt;Regional Pertama tentang Anak Jalanan di Filipina tahun 1989 Pak X &lt;br /&gt;mengatakan bahwa perilaku dan keberadaan anak-anak jalanan merupakan &lt;br /&gt;penyimpangan sosial atau social disfunction." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penggunaan kata "penyimpangan" itu secara jelas menunjukkan sikap &lt;br /&gt;diskriminatif. "Pemerintah tidak melihat bagaimana dan mengapa &lt;br /&gt;anak-anak sampai berada di jalanan, tetapi dari posisi norma tata &lt;br /&gt;sosial ideal yang diberlakukan dan diterima oleh keluarga yang mapan &lt;br /&gt;dan berkecukupan," sambung Ibe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cara pandang seperti ini tidak berubah, sekali pun Indonesia &lt;br /&gt;telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990. Bahkan RUU &lt;br /&gt;Perlindungan Anak pun masih menggunakan istilah "anak bermasalah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             *** &lt;br /&gt;    HERU, menurut Ibe, bergabung dengan komunitas Sanggar Akar &lt;br /&gt;sekitar tiga tahun yang lalu, saat masih bekerja di jalanan. "Ia &lt;br /&gt;sebenarnya sempat melanjutkan ke STM, dua kali pindah, tetapi &lt;br /&gt;semuanya tidak bertahan lama," papar Ibe. "Ia memutuskan sendiri &lt;br /&gt;untuk tidak sekolah karena merasa ada sesuatu yang lebih bisa ia &lt;br /&gt;kembangkan di luar sekolah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya bilang kalau maunya begitu, ia harus tahu bahwa ia tidak &lt;br /&gt;akan bisa bekerja di perusahaan atau di kantor karena lembaga-lembaga &lt;br /&gt;itu membutuhkan ijazah dari sekolah formal," lanjut Ibe, "Saya juga &lt;br /&gt;bilang, 'kamu harus bisa menjadi orang yang lebih dari para pencari &lt;br /&gt;kerja itu. Kamu harus mampu menciptakan peluang bagi orang lain agar &lt;br /&gt;mereka bisa bekerja'," Ibe menirukan pertimbangan yang ia ajukan &lt;br /&gt;kepada Heru agar anak itu tahu tujuannya kemudian.       Heru adalah &lt;br /&gt;contoh paling tepat dari apa yang disinyalir oleh Laporan Unicef &lt;br /&gt;(Dana PBB untuk Anak) tahun 1995. Dalam laporan itu disebutkan, tiga &lt;br /&gt;faktor utama yang mendorong anak-anak meninggalkan bangku sekolah dan &lt;br /&gt;bekerja pada usia yang dini adalah kemiskinan, pendidikan yang tidak &lt;br /&gt;relevan, dan tradisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemiskinan dalam arti luas-tidak hanya ekonomi-mendorong anak &lt;br /&gt;meninggalkan rumah dan memasuki lingkungan kegiatan yang &lt;br /&gt;membahayakan. Jumlah anak yang dieksploitasi terus meningkat 15 tahun &lt;br /&gt;terakhir seiring perkembangan kebijakan ekonomi dan moneter &lt;br /&gt;internasional akibat utang, korupsi, dan krisis moneter di banyak &lt;br /&gt;negara berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Program Penyesuaian Struktural (SAP), persyaratan "bantuan" Dana &lt;br /&gt;Moneter Internasional (IMF), yang katanya akan "menyembuhkan" ekonomi &lt;br /&gt;yang sakit di negara berkembang berarti pemotongan alokasi belanja &lt;br /&gt;untuk kesejahteraan sosial yang dibutuhkan kaum miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemotongan dana untuk kesejahteraan sosial ini juga merupakan &lt;br /&gt;pukulan yang berat terhadap pendidikan, yang diyakini merupakan &lt;br /&gt;alternatif mengatasi persoalan anak-anak yang bekerja di wilayah yang &lt;br /&gt;membahayakan perkembangan fisik dan jiwanya. Di negara-negara yang &lt;br /&gt;mengalami kesulitan ekonomi 10 tahun terakhir, dana pendidikan, &lt;br /&gt;khususnya pendidikan dasar, menurun drastis, sampai 30 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, sistem pendidikan pada banyak negara berkembang &lt;br /&gt;terlalu kaku dan tidak memberikan inspirasi. Kurikulumnya tidak &lt;br /&gt;relevan dan jauh dari realitas sosial kehidupan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain itu, tradisi dan pola sosial yang berurat akar juga &lt;br /&gt;memainkan peranan dalam mendorong anak masuk ke lingkungan kerja yang &lt;br /&gt;membahayakan. Lingkungan yang keras telanjur diyakini sebagai bagian &lt;br /&gt;dari kehidupan kaum miskin, kelas rendah dan minoritas. &lt;br /&gt;                             *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "PERCAYA enggak kalau  'niat' ini boleh dikatakan karya dari &lt;br /&gt;Sandy yang hanya lulus SD," ujar Heru memperlihatkan tabloid 12 &lt;br /&gt;halaman yang rubrik-rubriknya dinamai dengan kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Sandy sendiri yang mengumpulkan bahan, ikut mengedit, membuat &lt;br /&gt;lay out dan membawanya ke percetakan. Saya yakin anak lulus SMP pun &lt;br /&gt;belum tentu bisa melakukan ini," lanjut Heru, "Model pendidikan di &lt;br /&gt;sini membuat anak bisa mengeksplorasi apa yang ia miliki." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beberapa dari 20-an anak yang saat ini aktif di Sanggar Akar, &lt;br /&gt;sampai empat tahun lalu masih bisa dijumpai di jalanan. Gendut, yang &lt;br /&gt;sekarang bertanggung jawab pada salah satu bidang kerja di sanggar, &lt;br /&gt;sejak usia sembilan tahun berada di jalanan. Ia berasal dari Tegal. &lt;br /&gt;Lalu ada Joni dari Medan, Prei dari Semarang, Openg dari Palembang, &lt;br /&gt;dan Pian dari Jakarta. Selama bertahun-tahun anak-anak itu &lt;br /&gt;menggelandang dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu kota ke &lt;br /&gt;kota lain, mereguk kebebasan sekaligus bahaya kehidupan jalanan. &lt;br /&gt;Usia mereka sebaya. Selain anak-anak ini, juga banyak anak-anak yang &lt;br /&gt;berada di jalanan, tetapi masih pulang ke rumah orangtuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Latar belakang yang berlainan yang mempengaruhi gaya hidup ini &lt;br /&gt;membuat komunitas anak pinggiran itu, meski pun berada pada satu &lt;br /&gt;strata yang sama, namun Ibe dan kawan-kawannya mengamati, dalam skala &lt;br /&gt;kecil selalu terjadi kompetisi; yang satu merasa lebih dibandingkan &lt;br /&gt;yang lainnya. Perseteruan ini membuat jebakan pada arus pemikiran &lt;br /&gt;yang mengkotak-kotakkan dan merupakan gejala permukaan dari model &lt;br /&gt;sistem fragmentasi masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Kami kemudian berupaya menyatukan kelompok anak-anak itu," jelas &lt;br /&gt;Ibe. "Tujuannya bukan untuk menyeragamkan mereka, tetapi mengajak &lt;br /&gt;anak-anak secara bersama-sama belajar untuk mengerti substansi &lt;br /&gt;persoalan yang dihadapi, yakni proses dehumanisasi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Visi gerakan pendidikan ini berangkat dari refleksi atas &lt;br /&gt;pengalaman aktual keterlibatan, compassion pada ketidakadilan yang &lt;br /&gt;dihadapi, sekaligus harapan yang ingin dibangun sebagai dimensi masa &lt;br /&gt;depan. "Kenyataan penderitaan anak-anak ini mengundang compassion, &lt;br /&gt;keterlibatan mereka memberikan pengalaman, pengalaman melahirkan &lt;br /&gt;kesadaran baru yang membangkitkan harapan pembebasan, cita-cita dunia &lt;br /&gt;yang lebih baik," papar Ibe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mengutip Paulo Freire, tokoh pendidik dari Brasil, Ibe menyakini &lt;br /&gt;bahwa proses lahirnya kesadaran akan pembebasan hanya mungkin &lt;br /&gt;terwujud kalau refleksi sungguh-sungguh diposisikan sejajar dengan &lt;br /&gt;seluruh aktivitas dalam gerakan keterlibatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan demikian, misi keterlibatan merupakan sesuatu yang &lt;br /&gt;menunjukkan tindakan atau proses. "Dalam konteks ini, Sanggar &lt;br /&gt;menempatkan misi sebagai tindakan untuk membuka ruang dan memberikan &lt;br /&gt;peluang bagi anak-anak untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat &lt;br /&gt;yang terlibat dalam proses pembebasan, yaitu membangun sebuah dunia &lt;br /&gt;yang lebih baik," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Karena itu, dalam kampanye perlindungan hak anak, terutama pada &lt;br /&gt;gerakan pendidikan untuk anak pinggiran, tidak mengiba, atau &lt;br /&gt;mengharapkan belas kasihan dengan mengedepankan penderitaan anak-&lt;br /&gt;anak, tetapi lebih diarahkan pada model publikasi hasil dari tahapan &lt;br /&gt;sebuah proses yang sedang berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                             *** &lt;br /&gt;    DI Sanggar ini, jangan heran kalau anak-anak seusia 10-12 tahun &lt;br /&gt;telah mampu berpikir kritis. Atin, kelas VI SD dan adiknya Nina, &lt;br /&gt;kelas V, bisa membuat perbandingan antara film Heaven (Iran), Not One &lt;br /&gt;Less (Cina), dan Petualangan Sherina (Indonesia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ini baru salah satunya. Seluruh materi seperti sejarah, &lt;br /&gt;matematika, bahasa, lingkungan hidup yang disusun bersama sahabat &lt;br /&gt;Sanggar Akar, seperti Hilman Faried, John Roosa, Razif dari Jaringan &lt;br /&gt;Kerja Budaya, memang diarahkan untuk mencapai tujuan yang lebih luas, &lt;br /&gt;seperti tanggung jawab pribadi, usaha mandiri, dan kreatif; tanggung &lt;br /&gt;jawab sosial menyangkut kepekaan sosial, serta sumbangan pada &lt;br /&gt;pengembangan masyarakat; dan tanggung jawab pada alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seluruh mata pelajaran juga ditujukan untuk mengasah kekritisan &lt;br /&gt;anak; termasuk dalam membaca buku pelajaran. Di antara para relawan &lt;br /&gt;pengajar terdapat pematung terkemuka, Dolorosa Sinaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Prinsip hubungan guru-murid adalah keterbukaan dan kesetaraan, &lt;br /&gt;karena gerakan pendidikan ini menolak prinsip anak sebagai tabula &lt;br /&gt;rasa yang diperkenalkan oleh John Locke. Selama belajar, anak tetap &lt;br /&gt;merupakan individu bebas, tetapi bukan tanpa disiplin. Di dalam &lt;br /&gt;kelas, yang berlaku bukan disiplin yang kaku, tetapi semacam &lt;br /&gt;tutorial. Orientasinya bukan ketaatan, tetapi pada komitmen. Disiplin &lt;br /&gt;seperti ini diyakini akan mendorong motivasi dan kesadaran belajar. &lt;br /&gt;Tak hanya diterapkan pada anak, tetapi juga guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Dalam gerakan ini pendidikan merupakan sebuah proses. Anak-anak &lt;br /&gt;dan kami akan terus berproses, berkembang dan kami berharap gerakan &lt;br /&gt;ini akan menjadi milik publik," ujar Ibe. (mh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-7578287084830177355?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/7578287084830177355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/mengenal-pendidikan-anak-pinggiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/7578287084830177355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/7578287084830177355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/mengenal-pendidikan-anak-pinggiran.html' title='MENGENAL PENDIDIKAN ANAK PINGGIRAN'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-5973999298261964947</id><published>2008-12-11T18:38:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T18:40:10.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='irwan julianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISJ'/><title type='text'>ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA</title><content type='html'>KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin &lt;br /&gt;diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada &lt;br /&gt;di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol, &lt;br /&gt;yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap &lt;br /&gt;sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di &lt;br /&gt;rumah singgah atau pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan &lt;br /&gt;jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku. &lt;br /&gt;Malah &lt;br /&gt;ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah &lt;br /&gt;adalah anak jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan &lt;br /&gt;Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil &lt;br /&gt;mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta &lt;br /&gt;menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana &lt;br /&gt;alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak &lt;br /&gt;mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik" &lt;br /&gt;dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan &lt;br /&gt;berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi &lt;br /&gt;calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya &lt;br /&gt;partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan &lt;br /&gt;bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar &lt;br /&gt;Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main &lt;br /&gt;gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga &lt;br /&gt;menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang &lt;br /&gt;benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak &lt;br /&gt;perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka &lt;br /&gt;yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa &lt;br /&gt;meminggirkan &lt;br /&gt;anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-&lt;br /&gt;iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika &lt;br /&gt;kena penertiban aparat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar &lt;br /&gt;Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet &lt;br /&gt;Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai &lt;br /&gt;kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada &lt;br /&gt;pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih &lt;br /&gt;gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya &lt;br /&gt;dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman &lt;br /&gt;Ismail Marzuki (TIM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset &lt;br /&gt;lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak &lt;br /&gt;pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi &lt;br /&gt;kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah &lt;br /&gt;surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka &lt;br /&gt;menyingkirkannya. &lt;br /&gt;                               *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan &lt;br /&gt;kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD, &lt;br /&gt;sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu &lt;br /&gt;artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan &lt;br /&gt;alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang &lt;br /&gt;gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya &lt;br /&gt;karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang &lt;br /&gt;tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan &lt;br /&gt;lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru &lt;br /&gt;agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan &lt;br /&gt;pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan &lt;br /&gt;agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan &lt;br /&gt;kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang &lt;br /&gt;sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan &lt;br /&gt;dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan &lt;br /&gt;martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki &lt;br /&gt;dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu &lt;br /&gt;Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan &lt;br /&gt;mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut &lt;br /&gt;semua milikku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya &lt;br /&gt;sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-5973999298261964947?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/5973999298261964947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/anak-pinggiran-bukan-anak-pengiba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5973999298261964947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5973999298261964947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/anak-pinggiran-bukan-anak-pengiba.html' title='ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-8542658514142413329</id><published>2008-12-11T18:38:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T15:52:52.200-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='irwan julianto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISJ'/><title type='text'>ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    JANGAN lagi pakai istilah anak jalanan, kalau Anda tak ingin &lt;br /&gt;diumpat. Sebab "anak jalanan" kini punya konotasi "anak yang berada &lt;br /&gt;di jalan" untuk mengemis, mengiba-iba dengan ecrek-ecrek tutup botol, &lt;br /&gt;yang perlu dikhotbahi oleh Rano Karno "boleh kerja di jalan asal tetap &lt;br /&gt;sekolah". Yang oleh Depsos dan pemda dianggap perlu ditertibkan di &lt;br /&gt;rumah singgah atau pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada pula yang melabel anak jalanan sebagai "teroris" di perempatan &lt;br /&gt;jalan, yang jika tidak dikasih duit maka mobil Anda dicoret paku. &lt;br /&gt;Malah &lt;br /&gt;ada yang bikin generalisasi bahwa pencongkel kaca spion mobil mewah &lt;br /&gt;adalah anak jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidak semua anak jalanan adalah pengemis atau teroris. Yayasan &lt;br /&gt;Anak Merdeka di Bandung pimpinan Nugroho GPH terbukti berhasil &lt;br /&gt;mengajak anak-anak jalanan untuk melukis dan membuat kerajinan serta &lt;br /&gt;menerbitkan tabloid Bebas yang mereka kelola dan isi sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu pula dengan Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana &lt;br /&gt;alias "Girli" di Yogyakarta pimpinan A Didit Adidananta yang tidak &lt;br /&gt;mengindoktrinasi anak-anak jalanan untuk jadi anak "baik-baik" &lt;br /&gt;dan "normal", namun malah membebaskan mereka berkreasi dan &lt;br /&gt;berekspresi. Majalah Jejal yang mereka terbitkan mencerminkan filosofi &lt;br /&gt;calistung (pemberantasan buta kemampuan dasar) yang sifatnya &lt;br /&gt;partisipatif. Beberapa anak "Girli" malah jadi bintang film dan &lt;br /&gt;bermain dengan prima di film Daun di Atas Bantal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Bandingkan pula dengan anak-anak yang tergabung dalam Sanggar &lt;br /&gt;Anak akar Institut Sosial Jakarta (ISJ), yang serius belajar main &lt;br /&gt;gitar, rebana, menyanyi dan tampil berteater. Mereka ini lebih bangga &lt;br /&gt;menyebut diri sebagai "anak pinggiran", karena selain ada yang memang &lt;br /&gt;benar-benar "berprofesi" sebagai anak jalanan, ada pula anak &lt;br /&gt;perkampungan kumuh dan dari keluarga miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Panggilan "anak pinggiran" lebih menyiratkan cibiran kepada mereka &lt;br /&gt;yang berpunya dan berkuasa karena mereka inilah yang biasa &lt;br /&gt;meminggirkan &lt;br /&gt;anak-anak yang kurang beruntung. Anak pinggiran bukanlah anak pengiba-&lt;br /&gt;iba yang mengharap belas kasihan atau yang cuma meratapi nasib jika &lt;br /&gt;kena penertiban aparat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Inilah metamorfosis yang dialami Ibe Karyanto, pengasuh Sanggar &lt;br /&gt;Anak akar. Empat tahun lalu ketika ia mementaskan karyanya, operet &lt;br /&gt;Nyanyian Ranting Kering, lagu-lagunya bernada sendu dan masih pakai &lt;br /&gt;kata "anak jalanan" yang mengharapkan untuk dipahami, sementara pada &lt;br /&gt;pementasan Muka-muka di Kaca hari Selasa (11/5) lagu-lagunya lebih &lt;br /&gt;gagah, tegar dan sarat dengan elan vitalea "anak pinggiran". Keduanya &lt;br /&gt;dipentaskan di tempat terhormat, yaitu di Graha Bakti Budaya Taman &lt;br /&gt;Ismail Marzuki (TIM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengar saja lagu Anak Pinggiran yang juga menjadi judul kaset &lt;br /&gt;lagu-lagu pengisi Muka-muka di Kaca: Inilah cerita anak &lt;br /&gt;pinggiran/menggenggam sebuah harapan/tegar niatnya menantang isi &lt;br /&gt;kota/ingin wujudkan cita-citanya/tak pernah takut dan tak pernah &lt;br /&gt;surut/walau dikurung duka/hidup ceria walau orang suka &lt;br /&gt;menyingkirkannya. &lt;br /&gt;                               *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    MENYAKSIKAN pementasan Atin, Dini, Kris, Sugi, Ucil, dan &lt;br /&gt;kawan-kawannya yang kebanyakan masih kelas tiga sampai lima SD, &lt;br /&gt;sungguh berbeda dengan menonton video klip Joshua yang begitu &lt;br /&gt;artifisial dan komersial. Anak-anak Sanggar akar ini lebih lugu dan &lt;br /&gt;alami. Atin misalnya, tak merasa sungkan untuk menggaruk kaki yang &lt;br /&gt;gatal karena gigitan nyamuk atau menyerahkan mikrofon ke temannya &lt;br /&gt;karena ia sudah kecapaian. Mereka juga mengakui bahwa mereka terkadang &lt;br /&gt;tak mengerti pada sebagian lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berbeda dengan penampilan anak-anak yang lebih spontan dan &lt;br /&gt;lantang, para pemain dewasa yang mendukung Muka-muka di Kaca justru &lt;br /&gt;agak kedodoran akting dan vokalnya. Tema cerita yang menokohkan &lt;br /&gt;pejabat kaya-raya Hartono dan istrinya yang suka foya-foya, terkesan &lt;br /&gt;agak "hitam-putih". Simak saja lagu Ciptaan yang dinyanyikan Atin dan &lt;br /&gt;kawan-kawannya: Kami bukan yang paling benar/kami juga manusia yang &lt;br /&gt;sama/hanya karna tak punya kuasa/jadilah kami selalu dimangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Betapapun, anak-anak pinggiran asuhan ISJ telah menunjukkan &lt;br /&gt;dengan bernyanyi dan berpentas mereka meraih lagi percaya diri dan &lt;br /&gt;martabat. Sebagai anak-anak pinggiran pun mereka berhak ikut memiliki &lt;br /&gt;dan mewarisi negeri ini. Ini tercermin pada tekad mereka lewat lagu &lt;br /&gt;Saatnya Kami Bicara: Tetapi aku takkan sekalipun/merunduk tunduk dan &lt;br /&gt;mengalah pada duka/saatnya pastikan tiba/aku harus bicara/tuk merebut &lt;br /&gt;semua milikku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mudah-mudahan tidak ada pejabat yang lantas mewaspadai karya &lt;br /&gt;sanggar ISJ ini berbau marhaenis, apalagi Marxis... (ij) &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-8542658514142413329?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/8542658514142413329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/anak-pinggiran-bukan-anak-pengiba_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/8542658514142413329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/8542658514142413329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/anak-pinggiran-bukan-anak-pengiba_11.html' title='ANAK PINGGIRAN BUKAN ANAK PENGIBA'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-2963617785126759089</id><published>2008-12-11T18:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:38:44.620-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang wisudo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>PENGORBANAN IBE UNTUK ANAK PINGGIRAN</title><content type='html'>KOMPAS, Senin, 30-08-2004.&lt;br /&gt;    MASA ketika anak-anak jalanan diperlakukan lebih buruk daripada &lt;br /&gt;binatang telah lewat. Ketika Ibe Karyanto, 41 tahun, mulai hidup &lt;br /&gt;bersama-sama anak-anak jalanan, pada saat itulah anak-anak itu &lt;br /&gt;ditangkapi dari stasiun-stasiun kereta api. Mereka kemudian ditahan, &lt;br /&gt;dipukuli, disetrum, disundut rokok, bahkan sampai diseterika. Belasan &lt;br /&gt;tahun sudah Ibe hidup bersama mereka. Sampai hari ini ia memilih &lt;br /&gt;tetap bersama mereka, hidup di rumah terbuka di pinggiran Kali &lt;br /&gt;Malang, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    IBE melewatkan masa mudanya untuk anak-anak yang kurang &lt;br /&gt;beruntung. Ketika kawan-kawan segenerasi Ibe sibuk berhitung dengan &lt;br /&gt;masa depan, bekerja siang-malam demi karier, mengejar mimpi hidup &lt;br /&gt;serba berkecukupan, Ibe membuat pilihannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sampai sekarang ia tidak memiliki rumah. Ia tinggal di rumah yang &lt;br /&gt;bisa ditempati anak-anak yang butuh tempat berteduh. Ruang pribadinya &lt;br /&gt;hanyalah kamar di barak berdinding kayu bekas ia tinggal bersama &lt;br /&gt;puluhan anak didiknya. Ia tidur di atas ranjang kecil dilapisi &lt;br /&gt;selembar kasur tipis. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya &lt;br /&gt;hanyalah sebuah mobil jip hardtop butut keluaran tahun 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ibe adalah orang di balik Sanggar Anak Akar, kumpulan anak &lt;br /&gt;jalanan dan anak pinggiran yang sering muncul dalam pementasan musik &lt;br /&gt;dan teater. Sejak awal Ibe menggunakan pendekatan kesenian untuk &lt;br /&gt;mendidik anak-anaknya. Generasi pertama anak didiknya kini menjadi &lt;br /&gt;andalan utama aktivitas sanggar. Bertolak dari kegiatan kesenian di &lt;br /&gt;sanggar, tujuh anak didiknya kini belajar di perguruan tinggi. Ada &lt;br /&gt;yang melanjutkan kuliah di bidang seni rupa, musik, desain, dan &lt;br /&gt;bahasa Inggris. Grup musik Sanggar Anak Akar akan menguji &lt;br /&gt;kebolehannya dalam panggung musik dalam konser di Graha Usmar Ismail &lt;br /&gt;10-11 September mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kedekatan dengan anak, pencapaian Sanggar Akar, dan prestasi anak-&lt;br /&gt;anak didiknya itulah harta tak ternilai yang dia miliki. Ibe mengaku &lt;br /&gt;sempat cemburu dengan kawan-kawannya yang berhasil menjadi pemimpin &lt;br /&gt;puncak di perusahaan, hidup berkecukupan bersama anak-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selama bertahun-tahun Sanggar Akar berjalan melibatkan dukungan &lt;br /&gt;banyak orang. Mereka menyumbang tenaga, uang, alat musik bekas, &lt;br /&gt;sampai beras dan barang bekas, ambil bagian dalam proyek bersama &lt;br /&gt;untuk anak-anak yang dimarjinalkan itu. Sejumlah program Sanggar Akar &lt;br /&gt;didukung sejumlah lembaga dana, tetapi itu bukan yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berkat dukungan berbagai pihak, Sanggar Akar kini memiliki lokasi &lt;br /&gt;permanen setelah berhasil membeli tanah seluas 714 meter persegi &lt;br /&gt;senilai Rp 580 juta. Tempat itu menampung tidak kurang 80 anak dengan &lt;br /&gt;aktivitas hampir 24 jam. Malam hari merupakan saat sibuk, ketika anak-&lt;br /&gt;anak bermain musik, teater, belajar menyablon, mematung, dan lain- &lt;br /&gt;lain. Dengan tiga basis yang dimiliki, Sanggar Akar melibatkan tidak &lt;br /&gt;kurang dari 200 anak yang selama ini dipinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pematung Dolorosa Sinaga, pemusik Arjuna Hutagalong, para seniman &lt;br /&gt;dan pembuat film, guru, dan mahasiswa ikut bergabung menyumbangkan &lt;br /&gt;keahlian yang mereka miliki untuk anak-anak Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    PERGULATAN Ibe dengan anak-anak pinggiran diawali pada akhir masa &lt;br /&gt;kuliahnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Saat itu, tahun &lt;br /&gt;1988, ia bergabung menangani advokasi anak di Institut Sosial Jakarta &lt;br /&gt;(ISJ) yang dipimpin Romo Sandyawan. Ia sempat meninggalkan dunia anak &lt;br /&gt;jalanan ketika ditugaskan mengajar di Timor Timur selama satu &lt;br /&gt;setengah tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di Timtim ia diberi tugas mengajar bahasa Indonesia di seminari &lt;br /&gt;menengah. Ibe yang sejak SMA aktif bergiat dalam seni teater dan &lt;br /&gt;sastra mencoba mengembangkan model pengajaran bahasa Indonesia dengan &lt;br /&gt;ekspresi tulis dan lisan. Hasilnya adalah majalah dinding yang &lt;br /&gt;menjadi ekspresi bebas anak-anak SMA itu, termasuk isu kemerdekaan &lt;br /&gt;Timor Leste. Akibatnya, ia dipanggil penguasa militer, diminta &lt;br /&gt;menghentikan penerbitan tersebut. Ibe akhirnya memilih meninggalkan &lt;br /&gt;kota yang sarat nuansa politik, pindah ke Desa Soe Bada yang tidak &lt;br /&gt;ada sekolahnya. "Saya mulai dengan mengajar 15 murid, menggunakan &lt;br /&gt;bangunan sekolah yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi," kata Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Awalnya anak-anak didiknya yang berumur 10-15 tahun menulis &lt;br /&gt;tentang kebun kopi yang ditelantarkan. Warga tidak berani menjamah &lt;br /&gt;daerah itu, takut dituduh bagian dari gerilyawan. Bertolak dari &lt;br /&gt;tulisan itu, anak-anak terjun membersihkan kebun itu di pinggir-&lt;br /&gt;pinggirnya. Inisiatif anak-anak itu bisa menggerakkan warga menggarap &lt;br /&gt;kembali kebun kopi yang ditelantarkan itu. Dari situlah ia diyakinkan &lt;br /&gt;bahwa pendidikan bisa mengubah dan menggerakkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sepulang dari Timor Timur, Ibe kembali bergabung dengan ISJ &lt;br /&gt;menangani advokasi anak. Pada 1993 ISJ mulai membuat rumah terbuka &lt;br /&gt;yang bisa menjadi tempat berteduh bagi anak jalanan itu. Sejak itulah &lt;br /&gt;Ibe tinggal bersama anak-anak jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat ia mengurus seorang anak yang ditahan di kantor militer, &lt;br /&gt;kekerasan terhadap anak sengaja ditunjukkan secara telanjang di &lt;br /&gt;hadapannya. Seorang anak digelandang dari ruang tahanan ke ruang &lt;br /&gt;interogasi hanya menggunakan celana dalam, sembari dipukuli dengan &lt;br /&gt;sepotong kayu. Ibe malam itu ditahan. Tontonan kekerasan begitu &lt;br /&gt;sering dia hadapi. Lewat tengah malam, seorang anak tiba-tiba &lt;br /&gt;tersungkur di depan rumah dalam keadaan berlumuran darah karena &lt;br /&gt;berkelahi dengan preman. Peristiwa-peristiwa itu membuat Ibe sulit &lt;br /&gt;tidur, "penyakit" yang dialaminya sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Berbicara dengan anak yang menjadi korban besar khasiatnya untuk &lt;br /&gt;menyembuhkan diri saya sendiri," kata Ibe.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    KEKERASAN seperti itu kini jarang dia dengar. Ia tidak yakin &lt;br /&gt;apakah bentuk kekerasan seperti itu tidak ada lagi karena kebanyakan &lt;br /&gt;anak asuhnya sekarang ini tidak lagi berkeliaran di stasiun-stasiun &lt;br /&gt;kereta api. Kini anak didiknya banyak berasal dari keluarga tidak &lt;br /&gt;mampu yang tinggal di daerah kumuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam mendidik, Ibe sempat melakukan kekeliruan dalam memberikan &lt;br /&gt;teguran keras pada seorang anaknya di hadapan tamu. Pagi itu beberapa &lt;br /&gt;anak didiknya pulang dalam keadaan mabuk, suatu pelanggaran terhadap &lt;br /&gt;kesepakatan yang dibuat bersama. Anak-anak remaja itu langsung &lt;br /&gt;disuruh mandi dan membersihkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ibe meminta maaf dan mencoba menenangkan anak itu. Namun, &lt;br /&gt;kemarahan anak itu menjadi-jadi saat diajak masuk ruangan. Dinding &lt;br /&gt;dan almari dipukuli, kaca dipecah. Dengan potongan kaca terhunus ia &lt;br /&gt;siap menyerang. Ibe masih mencoba menenangkan anak itu dan meminta &lt;br /&gt;maaf, tetapi ia pasrah saat anak itu kalap. Ibe membuka baju, duduk &lt;br /&gt;di atas meja, mengatakan ia tidak akan melayani berkelahi dan &lt;br /&gt;mempersilakan anak itu membunuhnya bila belum puas dengan permintaan &lt;br /&gt;maaf yang dia sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Anak itu menangis menjadi-jadi. Sejak itu saya belajar bahwa &lt;br /&gt;saya harus selalu rendah hati. Tiap anak memiliki harga diri yang &lt;br /&gt;tidak boleh dilecehkan dalam bentuk apa pun," tutur Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sehari-hari Ibe mendampingi anak- anak sampai pukul 03.00, tanpa &lt;br /&gt;hari libur, dari melatih teater, musik, mendampingi belajar, sampai &lt;br /&gt;sekadar menyapa dan menjadi tempat berkeluh kesah. Meski tanpa harta &lt;br /&gt;benda, tanpa tabungan hari tua, ia tidak cemas terhadap masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Merekalah keluarga saya. Setelah mereka tumbuh, akan ada yang &lt;br /&gt;datang lagi. Saya akan tetap bersama mereka," kata Ibe. (P BAMBANG &lt;br /&gt;WISUDO)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-2963617785126759089?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/2963617785126759089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pengorbanan-ibe-untuk-anak-pinggiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/2963617785126759089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/2963617785126759089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pengorbanan-ibe-untuk-anak-pinggiran.html' title='PENGORBANAN IBE UNTUK ANAK PINGGIRAN'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-5143404865006631300</id><published>2008-12-11T18:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:34:06.075-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='street children'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='alternative education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='marginalized children'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><title type='text'>INDONESIA  Marginalized Children Learn A Song That Helps Restore Their Dignity</title><content type='html'>Ucanews.com,July 28, 2004 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA (UCAN) -- Protecting, educating and supporting impoverished children is a major problem for many Asian countries, and a program started by Jesuits in Indonesia is doing something about it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since 2000, Sanggar Akar (roots workshop) has been an autonomous body providing education and support for marginalized children. It was founded in 1994 by Jesuit-run Jakarta Social Institute, and its leader, Ibe Karyanto, told UCA News about its work on July 23, National Children's Day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyanto said he wrote a song, Suara Hati (voice of the heart), in 1995 "to urge people not to neglect their obligation when seeing the situation around them, and to take action after listening to their conscience."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two young street singers, Unanng, 16, and Wahyudinata, 17, often sing that song. They work Jakarta's streets and stay in Sanggar Akar's main center in Cipinang Melayu, East Jakarta. Their earn about 30,000 rupiah (US$3.30) a day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unang says he sings Suara Hati not only for alms but also to "make people aware of their responsibility to care for unfortunate children." However, he also told UCA News that "singing the song makes me sad and brings memories of my Mama living alone in a village in Cirebon, West Java."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggar Akar's main center houses 70 Muslim children, including 20 girls. More than 100 others stay in the organization's three branches around Jakarta. All those children, and at least 500 others who have stayed in the homes before, share one thing -- they can all sing Suara Hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Several told UCA News that Sanggar Akar has allowed them to grow as complete human beings, given them education and respected their dignity and needs. They said they not only go to school but also develop skills such as making school bags, sculpting, screen printing, cooking, singing and playing music.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Income received from selling handicrafts goes to the home, which in turn gives them meals, accommodation, money to send home, savings and pocket money.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wandi, 8, said he is a street singer in the morning but attends school in the afternoon. Liciana, 16, who has lived in Sanggar Akar for six months, said that with her guitar playing and bag making, she can send money to her parents, who struggle to make a living as peddlers. Wati, 13, said she most likes going to school, which was impossible when she lived with her parents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyanto insists education cannot be postponed for children, "the owners of the future." Sanggar Akar, he said, is run for marginalized children by concerned people and with the children's participation. In his view, an unjust social structure makes people "marginalized" and forces them to live on streets and in slums and public areas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggar Akar has three types of communities - its base community, a Sanggar community and networking. The base community, for elementary school children, promotes study group dynamics to help develop skills in reading, writing, counting and speaking. The Sanggar community, for elementary and secondary school children, develops teamwork and a sense of responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the latter group, artistic activity, especially theater, is a main feature. The children perform a musical play for the public every year. They also organize household chores, publish a newsletter and maintain a library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The networking community challenges the children to help build solidarity with surrounding communities and beyond. They learn networking by holding public events such as rummage sales and public campaigns.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyanto said people working for Sanggar Akar enroll children and youth by meeting them on the streets and in public places. Juprianto, a Sanggar Akar executive committee member, told UCA News that he must become one of them to approach them. He acknowledged that this can be dangerous, as evidenced one time when he was beaten up for entering the "territory" of someone else.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The theme of National Children's Day this year was "I Am Proud To Be An Indonesian Child." However, Catholic-run Kompas daily reported on July 24 that more than 50,000 children in 12 major Indonesian cities still live on the streets separated from their parents, and about 1.6 million children work in an exploitative environment. The country reportedly has 11.7 million school dropouts and only 50 percent of its children complete elementary school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To mark the day, 6,000 children attended a celebration with President Megawati Soekarnoputri at Ancol Fantasy Park in North Jakarta. There, two children read a declaration urging the government to familiarize people with Law No. 23/2002 on child protection. Rallies taking place that day and the day before also urged the government to provide free education for children and to be more attentive to the rights of children, especially street children.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-5143404865006631300?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/5143404865006631300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/indonesia-marginalized-children-learn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5143404865006631300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5143404865006631300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/indonesia-marginalized-children-learn.html' title='INDONESIA  Marginalized Children Learn A Song That Helps Restore Their Dignity'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4379048192575221422</id><published>2008-12-11T18:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:32:04.132-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang wisudo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tramtib'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternative'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bantar gebang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak jalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>"BIARKAN KAMI DI JALANAN ..."</title><content type='html'>KOMPAS, Sabtu, 14-07-2001.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    RATUSAN anak yang sehari-hari bergulat di jalanan, Kamis (12/7), &lt;br /&gt;tenggelam dalam luapan kegembiraan. Anak-anak berusia enam sampai &lt;br /&gt;belasan tahun itu berlarian, berkejar-kejaran, menjerit, tertawa, dan &lt;br /&gt;saling mengancam. Sebagian membawa kaleng, gelas, botol penuh cat &lt;br /&gt;warna-warni, sebagian lagi berburu dengan tangan berlumuran cat, &lt;br /&gt;menangkap siapa saja yang ada di areal itu. Mereka saling mencoreng &lt;br /&gt;badan, menyiram, bahkan mengguyurkan cat dari atas kepala sampai ke &lt;br /&gt;ujung kaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Ini acara yang paling menyenangkan. Saya senang mencorat-coret &lt;br /&gt;kawan saya," kata Sisriyani (6), anak seorang pemulung dari Bantar &lt;br /&gt;Gebang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mereka kemudian meneriakkan yel-yel ABG, memukul kaleng, tambur, &lt;br /&gt;potongan bambu, atau benda apa saja yang bisa mengeluarkan bunyi.&lt;br /&gt;ABG ternyata merupakan kependekan dari Anak Bantar Gebang, identitas &lt;br /&gt;anak-anak yang hidup di areal pembuangan sampah terbesar di Bekasi. &lt;br /&gt;Bersama rombongan anak-anak lainnya mereka berparade mengelilingi &lt;br /&gt;areal perkemahan di Cibubur, membawa spanduk dan poster dari kardus &lt;br /&gt;bekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perkemahan anak jalanan yang diberi nama "Kampore" itu telah &lt;br /&gt;menjadi acara tahunan bagi anak-anak jalanan di Jakarta dan &lt;br /&gt;sekitarnya. Kegiatan yang diprakarsai oleh Sanggar Akar, rumah &lt;br /&gt;singgah anak-anak jalanan di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur, &lt;br /&gt;tersebut pada tahun pertama hanya melibatkan puluhan anak dan selama &lt;br /&gt;masa Orde Baru tidak pernah luput dari pengawasan intel. Selama tiga &lt;br /&gt;hari perkemahan, mereka bermain, berdiskusi, adu keterampilan, &lt;br /&gt;kemahiran dalam musik, dan ekspresi lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Kali ini saya benar-benar bisa menikmati kegiatan ini. Hampir &lt;br /&gt;95 persen acara ini dilaksanakan dan diorganisir oleh anak-anak &lt;br /&gt;sendiri," tutur Ibe Karyanto, Koordinator Sanggar Akar. Ia pun tidak &lt;br /&gt;luput dari guyuran cat. Mukanya hitam legam karena cat. Hanya gigi &lt;br /&gt;dan matanya saja yang tinggal dalam warna aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gagasan pesta cat itu muncul empat tahun lalu saat Kampore ke-6 &lt;br /&gt;di kawasan perkemahan Ragunan. Pada waktu itu, ketika anak-anak &lt;br /&gt;diminta melukis dengan cat, mereka bahkan mengekspresikan diri dengan &lt;br /&gt;mengecat tubuh mereka. Karena itu, aktivitas ini diambil alih oleh &lt;br /&gt;penyelenggara dan menjadi acara rutin dalam tiga tahun terakhir, &lt;br /&gt;dengan diberi makna bahwa semua anak jalanan adalah satu, termasuk &lt;br /&gt;pendamping mereka. &lt;br /&gt;                               *** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    USAI berparade, perwakilan anak-anak tampil di panggung. Dengan &lt;br /&gt;muka tertutup cat dan tubuh coreng-moreng mereka berorasi. Seorang &lt;br /&gt;anak menyerukan agar harga BBM jangan dinaikkan dengan alasan ibunya &lt;br /&gt;memakai kompor untuk memasak. Anak lainnya meminta agar pemerintah &lt;br /&gt;mencegah banjir yang selalu menerjang rumahnya, memberikan kebebasan &lt;br /&gt;belajar dan bermain, membiarkan mereka bebas di jalanan. Banyak di &lt;br /&gt;antara anak-anak itu yang menyuarakan keinginan Tramtib, institusi &lt;br /&gt;keamanan dan ketertiban di bawah pemerintah daerah, dibubarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Kami ingin bebas ngamen dan mencari uang. Biarkan kami di &lt;br /&gt;jalanan. Musnahkan Tramtib supaya anak jalanan senang," kata Angga &lt;br /&gt;(14), yang sehari-hari ngamen di kawasan Blok M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Regi (16) yang baru seminggu melarikan diri dari panti sosial &lt;br /&gt;Kedoya, mengajak kawan-kawannya untuk membubarkan Tramtib. Selama &lt;br /&gt;lima minggu, kata Regi, ia "dipenjara" di Kedoya setelah ditangkap &lt;br /&gt;oleh seorang intel dalam operasi preman beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;Menanggapi ajakan Regi, seorang anak berteriak agar Tramtib dibom &lt;br /&gt;saja. Namun, Regi mengusulkan agar mereka berunjuk rasa terus-menerus &lt;br /&gt;sampai Tramtib dibubarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Agar kita aman di jalanan," kata Regi. "Tapi jangan pakai &lt;br /&gt;lempar-lempar." &lt;br /&gt;                               *** &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    APARAT Tramtib merupakan sumber kerisauan anak-anak jalanan. &lt;br /&gt;Kekerasan yang mereka hadapi sehari-hari di jalanan, bukanlah dari &lt;br /&gt;para penjahat, preman, atau pemalak, tetapi justru aparat Tramtib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ari (14), yang sehari-hari menyapu lantai kereta dari Stasiun &lt;br /&gt;Jatinegara untuk mendapatkan uang receh dari penumpang, menuturkan &lt;br /&gt;bahwa tiga orang rekannya tidak bisa ikut dalam acara perkemahan itu &lt;br /&gt;karena keburu ditangkap Tramtib sewaktu tiduran di jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya sempat melarikan diri. Waktu saya berangkat, aparat Tramtib &lt;br /&gt;juga berkeliaran di taman di dekat tempat saya singgah," kata Ari. &lt;br /&gt;    Coley dan Coki yang telah belasan tahun hidup di jalanan &lt;br /&gt;mengatakan bahwa hak mereka untuk hidup di jalanan. Juga ngamen di &lt;br /&gt;perempatan jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Apa salahnya kami ngamen di jalanan. Kami tidak mencuri. Kalau &lt;br /&gt;dibilang mengganggu, ada orang- orang yang memberi kami uang atau &lt;br /&gt;membawakan kami makanan. Justru karena ada kami, perempatan di &lt;br /&gt;kawasan Blok M tidak pernah ada orang kehilangan kaca spion atau HP. &lt;br /&gt;Lalu, kenapa kami dilarang?" ujar Coley. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia menuturkan, pernah ditangkap polisi dan disarankan untuk &lt;br /&gt;berdagang. Namun, saat berjualan koran atau teh botol di kaki lima, &lt;br /&gt;ia tidak luput dari kejaran Tramtib dan gerobaknya disita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Berbuat jahat dilarang, yang halal juga dilarang, lantas kami &lt;br /&gt;disuruh apa?" kata Coley. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Coki menuturkan, ia dan kawan-kawannya berada di jalanan bukan &lt;br /&gt;karena kemauan mereka sendiri. Mereka lari ke jalan karena tidak &lt;br /&gt;punya uang atau menjadi korban kekerasan orangtuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Karena dilarang ngamen di perempatan, semua pengamen naik ke bus &lt;br /&gt;kota. Bagaimana dengan adik-adik saya yang masih kecil kalau jatuh &lt;br /&gt;dari bus. Apa pemerintah yang nanggung?" kata Coki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penanganan anak jalanan, menurut Ibe Karyanto, bukan soal &lt;br /&gt;mengeluarkan atau tidak mengeluarkan mereka dari jalanan. Yang &lt;br /&gt;penting ketika mereka di jalanan mereka utuh sebagai pribadi, &lt;br /&gt;memiliki kebanggaan, tidak menunjukkan sikap-sikap defensif atau &lt;br /&gt;meminta belas kasihan orang lain. Sektor informal, berdagang di kaki &lt;br /&gt;lima, pun merupakan kehidupan di jalanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    "Masalahnya memang bukan mengeluarkan atau tidak mengeluarkan &lt;br /&gt;mereka dari jalanan," kata Karyanto. (P Bambang Wisudo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4379048192575221422?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4379048192575221422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/biarkan-kami-di-jalanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4379048192575221422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4379048192575221422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/biarkan-kami-di-jalanan.html' title='&quot;BIARKAN KAMI DI JALANAN ...&quot;'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-3772688579399144549</id><published>2008-12-11T18:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:30:04.521-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sd pangudi luhur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='andre'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pangudi luhur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternative'/><title type='text'>Ensemble Kaleng Rombeng Andre</title><content type='html'>VHR, 29 April 2007 - 23:16 WIB&lt;br /&gt;Liza Desylanhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam&lt;br /&gt;Menanam jagung di kebun kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari para siswa SD Pangudi Luhur, Cipete, Jakarta Selatan, lincah memainkan alat-alat musik, mengalunkan lagu "Menanam Jagung". Ada yang menekan tuts pianika, memetik dawai gitar, menabuh jimbe, dan meniup seruling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagu belum juga usai, sang guru segera menghentakkan kaki, lalu menepukkan tangan. Ini pertanda musik harus berhenti. Suara fals tiba-tiba mengganggu. Guru itu pun membetulkan. Musik mengalun lagi hingga usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat para siswa bercucuran karena panas yang menyengat. Maklum mereka latihan di pelataran sekolah sambil menunggu petugas laboratorium musik yang membawa kunci. Namun bocah-bocah kelas IV sampai VI itu tetap semangat berlatih untuk pertunjukan pesta kenaikan kelas bulan depan. Bahkan, kini mereka belajar membuat komposisi lagu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru, Andre (26), tak kalah semangat. "Tinggal dipoles sedikit lagi akan jadi pertunjukan yang bagus," katanya sambil menyeka butiran keringat di dahi. Para murid pun senang atas pujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre guru istimewa. Saat mengajar ia mengenakan kaos oblong, jins belel yang robek di lutut, dan sandal gunung kegemarannya. Deretan anting perak menghiasi telinganya. Gayanya yang jauh dari formal membuatnya disukai para murid. Hampir semua murid akrab dengan Pak Guru yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orangnya sabar. Asyik. Nggak ngebosenin," kata Ivan Afiananda, siswa kelas V. Dulu Ivan pernah les piano, namun berhenti karena bosan. Di tangan Andre, Ivan tertarik kembali memainkan tuts-tuts piano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre hanya lulusan sekolah menengah pertama. Selepas SMP ia menjadi pengamen dan pemulung, mengikuti profesi orang tuanya. Namun kepiawaian Andre memainkan musik membuat sekolah elite seperti Pangudi Luhur mempercayakan pengajaran musik siswanya kepada anak muda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada bentangan permadani merah bagi Andre menuju profesi guru musik. Lamaran-lamarannya menjadi guru musik selalu ditolak karena ia tak punya ijazah yang memadai. Belum lagi karena penampilannya yang belel. "Sakit hati. Hampir putus asa," ujarnya. "Ternyata susah mendobrak budaya yang sudah kental ini. Mereka menilai seseorang dari luarnya saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre harus membuktikan kemampuannya agar dipercaya sebagai pengajar. Kesempatan itu didapat dari Wakil Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur yang mempercayainya melatih musik ensemble siswa kelas II dengan kaleng bekas. Ia hanya diberi waktu sepuluh hari untuk melatih. Andre menyambut kesempatan itu dengan penuh semangat. "Awalnya kepala sekolah dan orang tua nggak percaya. Tapi bersyukur aku mampu membuat dua komposisi untuk anak-anak SD itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, Andre mampu menyajikan musik ensemble kaleng bekas yang apik pada pesta akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiawaian Andre memainkan komposisi musik klasik bukan datang dari langit. Sejak 2001 dia digodok di Sanggar Akar oleh Arjuna Hutagalung, profesor musik dari Institut Kesenian Jakarta. Sanggar itu memang didirikan untuk anak-anak jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu main gitar cuma genjreng-genjreng. Nggak ngerti ritme, nada, apalagi bikin komposisi musik," kata pria beralis tebal ini. Berkat didikan Arjuna, Andre tak hanya mampu memainkan alat musik dengan benar, namun juga membuat komposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna pengajar yang keras, tegas, dan rajin memberikan pekerjaan rumah. Dia menuntut para siswanya berkomitmen tinggi. Akibatnya, dari 20 murid Sanggar Akar seangkatan Andre, tinggal tujuh orang yang bertahan. "Yang lain berguguran. Nggak kuat," kata Andre sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal latihan, Arjuna langsung menyodorkan komposisi Johann Sabastian Bach. Melihat partitur not balok karya itu Andre pusing. "Materinya berat. Dari segi teori aku jelek, deh! Tapi kalau praktik, aku cepat. Jangankan musik klasik, musik pop saja aku nggak ngerti. Namun aku harus mainin komposisi Bach. Gimana nggak mumet ini kepala?" kata pemuda berkulit gelap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre harus bekerja keras memainkan musik Bach. Pertama, ia belajar membaca partitur. Kemudian belajar ketukan. Setelah lancar, beralih ke nada. Terakhir dia memainkan komposisi dengan gitar. Setelah bisa memainkan dengan gitar, beralih mengenali biola dan piano dengan mempelajari anatominya. Baru perlahan Andre mulai mengeja komposisi Bach dengan dua alat musik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre juga mesti mengikuti kelas musik di kediaman Arjuna, dua kali seminggu. Ia tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Latihan dimulai pukul sembilan malam dan berakhir pukul satu dini hari. Tak jarang latihan molor hingga pukul tiga pagi. Setiap hari ia harus meluangkan waktu setengah jam untuk mempelajari komposisi yang diberikan Arjuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari pagi sampai sore Andre dan teman-temannya harus mengajar para yuniornya di sanggar. Setiap menjelang tidur Andre menyempatkan diri latihan membaca partitur. Namun ia sering ketiduran sambil memeluk partitur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan alat musik di sanggar teratasi oleh Arjuna yang menghibahkan sebuah piano. Ada pula dermawan yang menyumbang beberapa biola untuk sanggar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesti keras, Arjuna pengajar yang menyenangkan. Ia pandai menghibur para muridnya. "Kelas selalu diawali dengan makan malam dan diakhiri minum bir," kata Andre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sering minum bir bareng, para murid pun kian akrab dengan Arjuna. Bahkan mereka mengganggap kakek gondrong penggemar kaos oblong merek Swan itu sebagai ayah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras memang makanan Andre sejak belia. Ia dulu membiayai sendiri sekolahnya dengan menjadi pemulung dan pengamen. Tak jarang ia ditodong dan diperas anak jalanan lain. " Hukum rimba berlaku di sana. Siapa kuat dia berkuasa," katanya sambil menerawang. "Kalau diingat-ingat sedih juga, sampai segitunya nyari duit. Susah banget."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah dulu Andre tergolong berprestasi. Setiap penerimaan rapor ia selalu menjadi juara kelas. Namun ia kapok sekolah setelah disiksa oleh guru Fisika, karena tak sengaja melempar bola basket ke guru itu. Akibat siksaan itu Andre tak bisa makan seminggu. "Sampai kapan pun pengalaman itu nggak akan pernah kulupa. Aku benci sekolah formal!" ujarnya dengan suara parau. Dia pun tak melanjutkan ke sekolah menengah umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di kelas II SMP Andre mulai kenal Sanggar Akar. Saat itu ia diajak temannya mengikuti kemah Kampung Orang Kere (Kampore) yang digelar sanggar tersebut. Sejak itu Andre bergabung dan menjadi "anak" Sanggar Akar. Bersama sanggar itu motivasi belajarnya kembali bangkit. "Kalau nggak sekolah formal, harus punya skill untuk hidup. Makanya belajar musik di sini. Walaupun apa adanya, aku mencoba serius."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat ketekunan dan kerja keras itu kepiwaian Andre terus terasah. Sampai suatu ketika komposisinya dimainkan pada sebuah konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. "Di situ aku merasa hidup itu dihargai. Karena belajar dengan susah payah, aku akhirnya bisa membuat karya yang dapat dinikmati orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan Andre bertambah saat anak asuhnya di SD Pangudi Luhur menjadi juara II Pentas Musik Sekolah Dasar se-Jabotabek Desember tahun lalu. Karena prestasi itu status Andre sebagai guru honorer akan dinaikkan menjadi guru tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Kepala SD Pangudi Luhur I Nengah Suntaya pun memberikan lampu hijau untuk Andre. Ia melihat keahlian Andre lebih bernilai daripada selembar ijazah. "Kami tidak melihat dari segi ijazah. Kalau ijazah saja kan bisa beli," katanya. "Saya nilai dia cukup kreatif. Mampu mengaransemen lagu dan dapat mendekati anak-anak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengajar di SD Pangudi Luhur, Andre juga mengajar paduan suara Gereja Santo Yohanes di Sunter, Jakarta Pusat, dan menjadi guru les privat. Beberapa tawaran mengajar ia tolak karena tak mau menelantarkan para yuniornya di Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini meyakinkan aku bahwa ijazah tak penting. Juga meyakinkan bahwa orang-orang seperti aku juga mampu berkarya," katanya menutup pembicaraan. Andre membakar rokok kretek dan mengisapnya pelan-pelan. Dikepulkannya asap ke udara, membentuk sebuah komposisi musik di kepalanya. (E2)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-3772688579399144549?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/3772688579399144549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/ensemble-kaleng-rombeng-andre.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/3772688579399144549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/3772688579399144549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/ensemble-kaleng-rombeng-andre.html' title='Ensemble Kaleng Rombeng Andre'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-1877793128216895810</id><published>2008-12-11T18:27:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T18:28:17.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tags: akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar</title><content type='html'>29 Mei 2008,Suara Pembaruan&lt;br /&gt;Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kehidupan Sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-1877793128216895810?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/1877793128216895810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-masyarakat-ala-sanggar-akar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1877793128216895810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1877793128216895810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-masyarakat-ala-sanggar-akar.html' title='Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-778654549981515890</id><published>2008-12-11T18:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T15:52:52.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tags: akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'> Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar</title><content type='html'>29 Mei 2008,Suara Pembaruan&lt;br /&gt;Berawal dengan peduli terhadap lingkungan dan pentingnya sebuah pendidikan, sekelompok anak-anak muda yang berprofesi tukang becak, orang- orang gusuran dari Lampung, anak-anak pengasongan wilayah Jatinegara membentuk suatu komunitas. Komunitas tersebut di bawah naungan Institute Sosial Jakarta (ISJ) yang juga melibatkan Romo Sandiawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan bermula pada penanganan kasus-kasus seperti penangkapan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, melalui kesehatan dan juga jalur pendidikan. Penekanannya ada pada jalur advokasi, yaitu pembelaan, kasus buruh, kelompok anak, kelompok buruh dan pekerja kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada November 1994 merupakan pertemuan bersama-sama yang sepakat harus membentuk komunitas yang teratur. Komunitas tersebut dinamakan Sanggar Akar, yang peduli terhadap anak-anak pinggiran atau jalanan, pemulung juga termasuk korban gusuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada 1999 pro- gram kerja berubah dan menekankan pada pendidikan. Sistem pengolahannya, yaitu masuknya kasus tentang pendidikan. Sanggar membutuhkan tempat yang tidak berpindah-pindah dan lebih mapan, termasuk metode pengajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggar Akar sudah mengalami lima kali pindah tempat, dikarenakan lingkungan yang kurang bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tidak suka dengan keberadaan sanggar tersebut, yang dianggap warga, kegiatan mereka menganggu sekitar. Harga sosial di masyarakat sangatlah mahal, makanya agar diterima dengan baik, Sanggar Akar sering menjadi pihak penengah sangat menangani kasus di lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula penghuni sanggar melakukan kerja bakti dan turut dalam pemilihan ketua rumah tangga (RT) agar semua berjalan lancar. Sanggar Akar saat ini beralamat di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur RT 07/01 No. 30, Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Hubungan dengan masyarakat sekitar tercipta suasana yang akrab, karena seperti para tetangga lainnya, bila ada kesusahan semuanya saling membantu satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000, Sanggar Akar berkembang dengan adanya struktur yang lebih rapi dan memberikan kesempatan pada anak-anak. Setelah itu, Sanggar lepas dari ISJ dan memutuskan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber dana Sanggar Akar tidak tergantung lagi semuanya pada founding. Dananya terbatas, karena biasanya tiap tiga tahun sekali baru diberikan founding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kehidupan Sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan dengan isu yang dimainkan, sudah Sanggar Akar sendiri yang menentukan. Menurut salah satu pendiri Sanggar Akar, Ivonne, pendidikan yang diajarkan di sanggar sesuai dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pikiran, perasaan dan tindakan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun apa yang diinginkan dan tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Program harus satu kesatuan, dimana dalam pergaulan sesama sanggar yang diatur, memasak, pentingnya kesehatan diri sendiri dan lingkungan serta hubungan dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ilmu yang langsung pada dampaknya, teori pun dapat. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris, matematika, sejarah dan seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua aspek yang pelajari di sanggar, dipresentasikan ke masyarakat dalam pentas tahunan. Begitu juga dalam hal kemanusiaan yang sifatnya sosial, yaitu saat banjir datang melanda, semua turut membantu warga," kata Ivonne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, untuk anak-anak yang masuk ke Sanggar Akar, minimal berusia 14 tahun, karena pada umur itulah anak masih ada keinginan mau belajar dengan serius selama tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pungutan biaya, bila mau bergabung, asal mau berkomitmen. Kelas ada pembagiannya, yaitu kelas pagi yang belajar tentang pengembangan budaya, seperti keterampilan, film, musik dan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kelas malam, untuk kelas formal, yaitu belajar teori. Salah seorang penghuni Sanggar Akar, sudah bergabung selama dua tahun, menerima banyak pengajaran yang diajarkan guru di sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangat sangat senang bergaabung di sini, walaupun beda dengan sekolah yang ada di luar. Di sanggar ini banyak ruangan, seperti ruangan perpustakaan, audio visual, gudang untuk menaruh barang-barang, kamar-kamar peserta, kamar tamu, maupun ruang untuk kerja sablon dan mencetak undangan atau kartu," katanya dengan senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggar Akar mendapatkan bantuan tenaga pendidik, yang bertugas mengajar anak-anak, yang berasal Perkumpulan Sahabat Akar yang merupakan guru bantu dari lembaga formal. Ada juga dari kawan-kawan para pendiri maupun fasilitatornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah sistem di sanggar, anak-anak dibedakan menurut tingkat umur, yaitu tingkat lembut 9-12 tahun, tingkat martanggung 13-17 tahun dan masa transisi 18-20 tahun. Bila sudah 20 tahun keatas, anak tersebut lepas dari sanggar dan harus mulai belajar mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menjadi fasilitator atau pelaksana harian di Sanggar Akar untuk membantu. Ada pula yang menjadi guru musik di sekolah-sekolah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2002, sanggar sudah menerima donator tiap bulan yang berjumlah Rp 100.000. Agar kegiatan berjalan terus, anak-anak diajarkan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil produksi keterampilan tersebut dijual. Hal yang dilakukan adalah daur ulang barang-barang bekas, sablon, cetak undangan maupun kartu. Sanggar Akar sering mengadakan acara pentas seperti teater dan musik di luar, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM), Kuningan, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan maupun sekolah-sekolah. Sanggar juga menjual jasa pelatihan pendidikan bagi yang membutuhkan. Begitu juga dengan adanya hibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mencita-citakan pendidikan pesat bagi anak-anak pinggiran. Untuk itu, Sanggar Akar bekerja sama dengan Sanggar Score, Sanggar Bela, Sanggar Roda dan dengan lembaga-lembaga lainnya, untuk mengadakan acara-acara. Kami pernah mendapatkan bantuan berupa peralatan musik, seperti gitar, bonggo, pianika dan suling yang semuanya itu sangat berguna bagi pengembangan anak-anak," tutur Ivonne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan, anak-anak yang belajar di sanggar, sudah ada yang diterima apa adanya di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Pihak sekolah memberikan keringanan dalam hal pembayaran yang boleh dicicil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, ada juga yang ditolak, alasannya karena anak tersebut cacat (tubuh). Tetapi hal tersebut seharusnya tidak dijadikan alasan, bila si anak bisa mengikuti pelajaran sekolah," jelas sang pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak bersekolah di tempat yang formal, karena mereka menginginkan sertifikat resmi. Itulah tujuan mereka bersekolah di luar, karena sanggar tidak bisa memberikan sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanggar anak-anak diajak untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan mereka diberikan kesempatan untuk hal itu, bahkan hak bicara yang sulit ditemui di sekolah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah formal tidak tersentuh oleh semua orang yang menginginkan pendidikan. Sedangkan di sanggar, anak-anak tidak hanya diajarkan teori-teori, tetapi juga diajarkan audio visual tentang film dan musik. Sanggar Akar sudah menerbitkan tabloid "Niat" sejak 1995, yang terbit dua bulan sekali dan dijual ke jaringan anak atau yang menginginkannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anak-anak yang tinggal menetap di sanggar dan ada pula yang tinggal dengan orang tua mereka di lingkungan sekitar. Anak-anak yang tinggal menetap di Sanggar, ada sekitar 20 anak. Kalau untuk yang belajar di sanggar sangat banyak, karena ada perkumpulan komunitas yang datang dari Bantaran Gebang, Cakung, Halim dan lain-lain yang bisa berjumlah sampai 250 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua ingin belajar, karena pendidikan sangat penting. Sekarang masyarakat percaya pada modal pendidikan di Sanggar Akar. Pendidikan bukan terletak pada sebuah kertas, tetapi keterampilan mencerna pendidikan tersebut dan mempraktikkannya di masyarakat luas. [Hendro Situmorang]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-778654549981515890?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/778654549981515890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-masyarakat-ala-sanggar-akar_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/778654549981515890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/778654549981515890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-masyarakat-ala-sanggar-akar_11.html' title=' Pendidikan Masyarakat ala Sanggar Akar'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-7703319047938232050</id><published>2008-12-11T18:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:26:48.520-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dede supriyatna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tags: akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soelastri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soelastri soekirno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>NAK JALANAN ITU KINI BERSEKOLAH FORMAL</title><content type='html'>KOMPAS, Selasa, 26-08-2003.&lt;br /&gt;    KEGIATAN Dede Supriyatna (19), kini tak hanya bergelut dengan &lt;br /&gt;percobaan membuat alat musik dari berbagai bahan di sanggar saja. &lt;br /&gt;Sejak Juli lalu, tugas Dede-akrab dengan panggilan Ambon-sebagai &lt;br /&gt;pimpinan Dewan Koordinator Anak (Dekan) Sanggar Akar bertambah satu, &lt;br /&gt;kuliah di Institut Musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kerinduan Ambon, lulusan sekolah kejuruan di Jakarta untuk &lt;br /&gt;menempuh pendidikan tinggi tercapai sudah. Ia dan enam kawannya &lt;br /&gt;sesama anggota sanggar berpredikat mahasiswa, predikat yang &lt;br /&gt;dirindukannya sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada 25 'adik-adik' Ambon di sanggar itu, yang juga berstatus &lt;br /&gt;siswa sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), &lt;br /&gt;dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keputusan sanggar menyekolahkan anak-anak jalanan ke sekolah &lt;br /&gt;formal tampaknya sulit dimengerti. Mereka umumnya mengesampingkan &lt;br /&gt;sekolah formal, sebab anak jalanan tak suka terkungkung aturan &lt;br /&gt;pendidikan formal yang biasanya serba kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akan tetapi, penanggung jawab sanggar, Ibe Karyanto, punya &lt;br /&gt;alasan. Bersama empat rekannya antara lain Ivonne dan Jupri, yang &lt;br /&gt;sejak 1994 mendirikan sanggar, ia hanya menuruti keinginan anak-anak &lt;br /&gt;sanggar. Namun, setiap anak harus bertanggung jawab terhadap &lt;br /&gt;keputusannya bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Jika mereka membolos dan sudah diingatkan tiga kali tidak bisa, &lt;br /&gt;hukumannya dirumuskan bersama. Misalnya, mereka tidak boleh nonton &lt;br /&gt;televisi selama seminggu," tutur Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut Andre (12), mereka sudah tahu sendiri kalau ada PR yang &lt;br /&gt;harus dikerjakan. "Daripada diomelin Uwak (panggilan anak sanggar &lt;br /&gt;kepada Ibe Karyanto-Red)," tambah Rastini (12), yang sore itu bersama &lt;br /&gt;Aminah tengah mengerjakan PR Matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keduanya ditunggui Hani, gadis yang sejak beberapa tahun terakhir &lt;br /&gt;bergabung di sanggar dan kini mahasiswa jurusan Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;                                 ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    JULI 2003 menjadi saat terberat bagi sanggar karena 32 anak dari &lt;br /&gt;sekitar 80-an warga sanggar harus mengurus kenaikan kelas atau masuk &lt;br /&gt;sekolah baru. Ada sembilan anak di tingkat SD, tujuh di SLTP, &lt;br /&gt;sembilan masuk SLTA, dan tujuh ke perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Darimana dananya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    "Anak-anak memang punya tabungan pribadi tetapi tidak mungkin &lt;br /&gt;mengandalkan tabungan itu untuk membayar sekolahnya," tutur Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tabungan pribadi, menurut Rastini, biasanya untuk membeli buku &lt;br /&gt;tulis, tas sekolah, atau barang pribadi lainnya. "Kalau mau ambil &lt;br /&gt;uang harus jelas untuk apa. Kalau tidak, enggak dikasih Ompung" &lt;br /&gt;terang Rastini. Ompung adalah rekan Ibe yang bertugas antara lain &lt;br /&gt;mencatat tabungan anak sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ibe, lelaki asal Solo itu lantas merinci pengeluaran untuk &lt;br /&gt;menyekolahkan 'anak-anaknya'. Tingkat SD, mereka memilih bersekolah &lt;br /&gt;yang dekat dengan sanggar atau basis sehingga bisa mengirit ongkos. &lt;br /&gt;Sekalipun demikian, masuk sekolah baru biar tingkat SD tetap kena &lt;br /&gt;uang sumbangan pendidikan sekitar Rp 300.000 per siswa, ditambah &lt;br /&gt;pembelian buku dalam paket yang sudah ditentukan sekolah. Untuk SD &lt;br /&gt;harganya sekitar Rp 190.000 per anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi yang di SLTP dan SLTA, uang sumbangan dan buku paket yang &lt;br /&gt;harus dibeli lebih mahal lagi. Bila dijumlahkan, biaya memasukkan &lt;br /&gt;anak ke sekolah tak kurang dari Rp 10 juta. Angka itu belum termasuk &lt;br /&gt;pembelian paket buku ajar (cetak), seragam, SPP, dan transpor &lt;br /&gt;harian. "Uang buku sampai sekarang belum terbayar, belum ada uang," &lt;br /&gt;kata Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Adapun mereka yang kuliah, setidaknya perlu dana Rp 3-4 juta per &lt;br /&gt;anak, ditambah SPP per semester yang besarnya sekitar Rp 1 juta per &lt;br /&gt;mahasiswa.&lt;br /&gt;                                 ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ANDRE, Ambon, Hani, para pemulung, dan pengamen anggota sanggar &lt;br /&gt;boleh gembira bisa sekolah, tetapi para pengasuh Sanggar Akar harus &lt;br /&gt;memutar otak mencari dana pengganti biaya hidup mereka bulan &lt;br /&gt;mendatang. Uang itu dibutuhkan untuk makan yang hanya sekali sehari, &lt;br /&gt;bayar listrik, dan modal kerja membuat kerajinan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebenarnya setahun terakhir, Sanggar Akar sudah mampu mencukupi &lt;br /&gt;kebutuhannya dari sumbangan donatur dan order sablon, membuat lay out &lt;br /&gt;majalah, membuat undangan, dan barang lain dari kertas daur ulang &lt;br /&gt;sampai menerima order main teater dan musik. Grup musik sanggar &lt;br /&gt;bahkan sudah berpentas hingga Surabaya. Untuk keluar kota tarifnya &lt;br /&gt;sekitar Rp 3-4 juta bersih. Hasil pentas untuk semua pendukung &lt;br /&gt;pementasan dan keperluan sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kini, defisit keuangan yang parah membuat penghuni sanggar harus &lt;br /&gt;kerja keras mencari order. "Saya sekarang 'mulung' lagi," aku Ibe &lt;br /&gt;tanpa malu. (SOELASTRI SOEKIRNO)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-7703319047938232050?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/7703319047938232050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/nak-jalanan-itu-kini-bersekolah-formal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/7703319047938232050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/7703319047938232050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/nak-jalanan-itu-kini-bersekolah-formal.html' title='NAK JALANAN ITU KINI BERSEKOLAH FORMAL'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-8153931869870212698</id><published>2008-12-11T18:23:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T18:24:22.809-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doge Abdurrahman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saleh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doge'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran</title><content type='html'>27-Jul-2007,&lt;br /&gt;[www.kabarindonesia.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya. &lt;br /&gt;M. Falikul Isbah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-8153931869870212698?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/8153931869870212698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kesalehan-sosial-kaum-pinggiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/8153931869870212698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/8153931869870212698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kesalehan-sosial-kaum-pinggiran.html' title='Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4734461482720806413</id><published>2008-12-11T18:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T15:52:52.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doge Abdurrahman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saleh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doge'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran</title><content type='html'>27-Jul-2007,&lt;br /&gt;[www.kabarindonesia.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KabarIndonesia - Sebuah bale joglo berdiri di tepi sungai Kalimalang, Jakarta Timur yang sedang meluap. Hujan tak kunjung berhenti dari pagi hingga siang itu. Tiba-tiba Guntur (6 tahun) berlari dan bergelayut manja ke pangkuan Doge Abdurrahman (23 tahun), salah seorang pendamping sekaligus pengasuhnya. Guntur adalah salah satu dari 60-an anak-anak bangsa yang karena berbagai kondisi harus tumbuh di jalanan. Di mana dan siapa orang tuanya barangkali tak banyak dipedulikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Sanggar Anak Akar (SAA) telah delapan tahun lebih berusaha membantu membukakan hari esok bagi mereka di tengah gelombang ketidakmenentuan nasib dengan tanpa membatasi kebiasaan mereka untuk mengamen dan bermain. Duduk melingkar lesehan, berpakaian seadanya tanpa beralas kaki, dan bergerombol sesuai kelompok usia masing-masing. “Di sini kita bagi menjadi 3 kelompok sesuai usia dan tingkat kemampuan anak-anak; pemula, madya dan utama,” terang Doge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sanggar Akar anak-anak jalanan yang selama ini dipandang liar dan susah diatur belajar berdisiplin, bertanggungjawab dan bekerjasama dengan lingkungan sekitar. Setiap Senin sampai Kamis mulai pukul 09-12 dan 19-21 mereka mempelajari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan jurnalistik. Begitu masuk hari Juma’at hingga Minggu mereka giliran mengasah kemampuan seni dan kreatifitas. Maka tak heran kalau setiap sudut sanggar ini dipenuhi berbagai karya mereka sendiri, mulai foto, lukisan hingga patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak yang masih belia ini? Pria kalem yang biasa dipanggil Kak Doge oleh adik-adik di Sanggar Akar ini menerangkan bahwa mereka sangat beragam dalam soal afiliasi keagamaan. Itupun ada yang taat beribadah dan ada yang tidak. Namun Sanggar tidak mau mencampuri sisi ritual yang sangat pribadi, melainkan lebih menekankan pada internalisasi nilai-nilai agama dan budi pekerti dalam prkatik hidup sehari-hari. Suatu ketika pernah ada orang yang menawarkan diri untuk mengajar agama di Sanggar. Lantas Sanggar mengajak orang itu untuk melakukannya di Musholla yang tak jauh dari sana. Dengan harapan supaya sekaligus menjadi media sosialisasi anak-anak jalanan dengan warga setempat. Entah karena apa orang tersebut malah menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Doge dan teman-temannya ingin menyatukan antara pemahaman dan praktik keagamaan dengan kehidupan sosial. Ini sangatlah penting mengingat kenyaatan bahwa mereka benar-benar diasingkan oleh masyarakat, maka upaya normalisasi sekat sosial itu menjadi mutlak diperlukan. Di sinilah semestinya agama mengambil peran. Semua agama menandaskan bahwa setiap orang dilahirkan dalam derajat yang sama, namun dalam praktik social kenapa ada pemisahan yang demikian kokoh. “Kita cuma ingin mengarahkan anak-anak jalanan dapat shaleh secara ritual sekaligus sosial,” ujar Doge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh diceritakan, dulu seringkali kegiatan ini dituding sebagai misi kristenisasi karena Ibe Karyanto, sang pemangku sanggar atau biasa disebut rektor, berasal dari kalangan Katolik. Namun Wak Karyo tidak merasa perlu mengklarifikasi fitnah-fitnah seperti itu. Karena Sanggar tidak pernah mengarahkan anak-anak pada agama tertentu, namun tetap membiarkan mereka menganut agama yang telah mereka bawa sebelum masuk sanggar. “Di sini yang kita bangun pada diri anak-anak adalah mental kemandirian, kreatifitas, dan kepemimpinan sosial,” ujar pria yang drop out dari kelas 1 SMA ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanggar yang dikelola dengan penuh kekeluargaan ini, toleransi dalam beragama merupakan nilai dasar yang harus ditambatkan pada hati setiap penghuninya. Salah satu ciri orang beragama adalah bisa bersahabat dengan orang yang berlainan agama. Kita harus menghormati dan menghargai apa pun pilihan orang terhadap suatu agama. Dengan begitu, kita akan selalu bisa bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya rasa kebersamaan dalam ikatan kemanusiaan mampu menjadi pondasi keharmonisan sosial. Pergaulan sosial berjalan di atas relnya sendiri, dan keberagamaan menyiramkan air kedamaian di atasnya. “Kesahalehan sosial dalam pergaulan sehari-hari mencerminkan bersih tidaknya hati kita,” tandasnya. &lt;br /&gt;M. Falikul Isbah&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4734461482720806413?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4734461482720806413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kesalehan-sosial-kaum-pinggiran_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4734461482720806413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4734461482720806413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kesalehan-sosial-kaum-pinggiran_11.html' title='Kesalehan Sosial Kaum Pinggiran'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-1262924162759618752</id><published>2008-12-11T18:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:22:42.138-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan seni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>KETIKA GAMBAR-GAMBAR ITU BICARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUHK6hOxBzI/AAAAAAAAADY/BsSZW_wOE1Y/s1600-h/keseharian3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUHK6hOxBzI/AAAAAAAAADY/BsSZW_wOE1Y/s200/keseharian3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278723344956458802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Senin, 05-07-2004.&lt;br /&gt;    "INI gambar suasana waktu pawai tujuh belas Agustus di jalan &lt;br /&gt;besar dekat rumahku," kata Nadya, pelajar kelas III sekolah dasar di &lt;br /&gt;Cempaka Putih yang sangat suka dengan keramaian pawai. Kertas putih &lt;br /&gt;di depannya berubah penuh warna.&lt;br /&gt;    Ada gambar orang berkumpul dengan mengacung-acungkan bendera &lt;br /&gt;Merah Putih. Nadya memilih menggoreskan warna merah muda untuk &lt;br /&gt;mewarnai orang yang berpawai mulai dari ujung rambut hingga kaki. &lt;br /&gt;Latar belakang gedung-gedung pencakar langit melengkapi karyanya.&lt;br /&gt;    Beberapa peserta laki-laki menggambar mobil berwarna kuning, &lt;br /&gt;biru atau merah.&lt;br /&gt;    Namun, di luar itu, hampir sebagian besar peserta mungil yang &lt;br /&gt;bertempat tinggal di Ibu Kota penuh hutan beton ini melukiskan &lt;br /&gt;gunung, rumah petani, sawah yang terbelah jalan aspal. Persis ajaran &lt;br /&gt;di sekolah.&lt;br /&gt;                              ***    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    LOMBA gambar yang menyulap suasana lapangan parkir Taman Ismail &lt;br /&gt;Marzuki menjadi sangat meriah itu merupakan rangkaian peringatan &lt;br /&gt;Ulang Tahun Ke-10 Sanggar Akar. Sanggar itu menjadi wadah pendidikan &lt;br /&gt;alternatif bagi anak pinggiran.&lt;br /&gt;    "Selama belajar di sanggar, salah satu yang disukai adalah &lt;br /&gt;menggambar. Membuat coretan apa saja yang diingini. Tidak ada &lt;br /&gt;tuntutan gambar mesti penuh atau warna benda harus ini atau itu. &lt;br /&gt;Hari ini kami mengajak anak-anak lain menggambar bebas bersama," kata &lt;br /&gt;Pray, Ketua Panitia Penyelenggara Lomba Menggambar dari Sanggar Akar.&lt;br /&gt;    Oleh karena itu, tidak ada tema, tidak ada uang pendaftaran, dan &lt;br /&gt;tidak ada pula batas sosial-untuk sesaat-dalam perlombaan itu.&lt;br /&gt;    Kebebasan berekspresi dalam menggambar, menurut Pray, hanya &lt;br /&gt;merupakan bagian kecil dari hak dasar anak yang kerap dilupakan &lt;br /&gt;orang dewasa yaitu kebebasan memilih.&lt;br /&gt;    Setiap anak, bahkan sejak usia dini sudah mempunyai gambaran dan &lt;br /&gt;pandangan sendiri tentang segala sesuatu yang sudah didapatkannya. &lt;br /&gt;Salah satu pengungkapannya adalah lewat lukisan.&lt;br /&gt;    Di Sanggar Akar, menggambar memang menjadi salah satu media &lt;br /&gt;berekspresi. Bagi anak-anak, kegiatan itu sangat digemari karena &lt;br /&gt;mereka bebas menuangkan gagasannya, termasuk kepada orang dewasa. &lt;br /&gt;Tidaklah mengherankan bila menggambar sering jadi alat berkomunikasi &lt;br /&gt;anak dengan lingkungan di luar dirinya.&lt;br /&gt;                               *** &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    KARYA-karya peserta lomba kali ini misalnya, setelah dinilai oleh &lt;br /&gt;tim juri yang terdiri dari seniman FX Harsono, Setyaningsih Poernomo, &lt;br /&gt;dan Alit Ambara, akan dipamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail &lt;br /&gt;Marzuki, 9-10 Agustus mendatang. Sebagai bentuk penghargaan kepada &lt;br /&gt;karya anak.&lt;br /&gt;    Pray, mantan anak jalanan yang kini mengajar rekan-rekan kecilnya &lt;br /&gt;di komunitas pinggiran di Cakung percaya, sebuah lukisan dapat &lt;br /&gt;menceritakan isi dan rasa anak.&lt;br /&gt;    Dia masih ingat gambar salah satu anak "didik"-nya di Cakung. &lt;br /&gt;Hanya sebuah kepala dan di sampingnya terlukis rumah kecil.&lt;br /&gt;    Namun, dengan lancar anak itu kemudian bercerita tentang ibunya, &lt;br /&gt;rumahnya, tetangganya, dan kehidupannya yang terpinggirkan di kota &lt;br /&gt;Jakarta.(INE)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-1262924162759618752?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/1262924162759618752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/ketika-gambar-gambar-itu-bicara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1262924162759618752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1262924162759618752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/ketika-gambar-gambar-itu-bicara.html' title='KETIKA GAMBAR-GAMBAR ITU BICARA'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUHK6hOxBzI/AAAAAAAAADY/BsSZW_wOE1Y/s72-c/keseharian3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4429662947120993541</id><published>2008-12-11T18:19:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T18:20:46.501-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dede supriyatna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elok dyah meeswati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI</title><content type='html'>KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.&lt;br /&gt;    SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu &lt;br /&gt;tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung, &lt;br /&gt;penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada &lt;br /&gt;dalam rona wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah &lt;br /&gt;berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film &lt;br /&gt;dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-&lt;br /&gt;10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan &lt;br /&gt;10 tahun Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah &lt;br /&gt;Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah &lt;br /&gt;Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar &lt;br /&gt;lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin &lt;br /&gt;bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu &lt;br /&gt;menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk &lt;br /&gt;itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak &lt;br /&gt;akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak &lt;br /&gt;jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan &lt;br /&gt;teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah &lt;br /&gt;bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan &lt;br /&gt;pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan &lt;br /&gt;dokumentasi dalam bentuk gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan &lt;br /&gt;film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat &lt;br /&gt;Kebudayaan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan. &lt;br /&gt;Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan &lt;br /&gt;belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat &lt;br /&gt;beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta &lt;br /&gt;pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar &lt;br /&gt;yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa &lt;br /&gt;membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-&lt;br /&gt;hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan &lt;br /&gt;sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa &lt;br /&gt;tahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok &lt;br /&gt;pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera, &lt;br /&gt;penyutradaraan dan editing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat &lt;br /&gt;pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas &lt;br /&gt;empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema &lt;br /&gt;Society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok &lt;br /&gt;memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya &lt;br /&gt;adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah &lt;br /&gt;dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu &lt;br /&gt;kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin", &lt;br /&gt;"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti &lt;br /&gt;Malaikat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu &lt;br /&gt;merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam &lt;br /&gt;keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka &lt;br /&gt;mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya &lt;br /&gt;sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka &lt;br /&gt;adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini &lt;br /&gt;terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka, &lt;br /&gt;mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan, &lt;br /&gt;fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya &lt;br /&gt;bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan &lt;br /&gt;sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan. &lt;br /&gt;(LOK)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4429662947120993541?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4429662947120993541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/menguasai-media-untuk-bicara-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4429662947120993541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4429662947120993541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/menguasai-media-untuk-bicara-dan.html' title='MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-760231447995383373</id><published>2008-12-11T18:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T15:52:52.225-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dede supriyatna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elok dyah meeswati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI</title><content type='html'>KOMPAS, Sabtu, 11-12-2004.&lt;br /&gt;    SEORANG ibu muda tengah menyusui anak dalam gendongannya. Ibu itu &lt;br /&gt;tidak mengenakan blus, hanya berkutang hitam. Rambutnya digelung, &lt;br /&gt;penampilannya sangat sederhana. Namun, kehangatan seorang ibu ada &lt;br /&gt;dalam rona wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itulah yang terekam dalam foto hitam putih karya Hani Romdianah &lt;br /&gt;berjudul "Setetes ASI untuk Kehidupan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Foto Hani, anggota Sanggar Akar, dipamerkan dalam "Festival Film &lt;br /&gt;dan Pameran Foto Karya Anak" di Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta, 8-&lt;br /&gt;10 Desember 2004. Festival ini merupakan rangkaian acara peringatan &lt;br /&gt;10 tahun Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Delapan anak jalanan yang memamerkan karya fotonya adalah &lt;br /&gt;Muhammad Soleh, Andri Setiawan, Hani Romdianah, Awi, Jeleha, Rikah &lt;br /&gt;Suryanto, Dede Supriatna, dan Doge Abdurrahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Foto-foto mereka merekam peristiwa keseharian yang ada di seputar &lt;br /&gt;lingkungan mereka. Lewat media foto inilah rupanya anak-anak ingin &lt;br /&gt;bicara dan bersaksi mengenai kehidupan mereka.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    SETIAP anak memang mempunyai keinginan untuk selalu &lt;br /&gt;menumbuhkembangkan minat dan potensi yang ada pada dirinya. Untuk &lt;br /&gt;itu, keinginan anak terhadap sebuah kesempatan belajar juga tidak &lt;br /&gt;akan pernah berhenti sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Belajar terus, itulah yang ingin dikecap oleh 80-an anak-anak &lt;br /&gt;jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berangkat dari kesadaran itu, sekaligus sebagai bentuk pengenalan &lt;br /&gt;teknologi yang semakin modern, maka Sanggar Anak Akar membuat sebuah &lt;br /&gt;bidang yaitu audio visual yang pokok perhatiannya adalah memberikan &lt;br /&gt;pemahaman baru kepada anak-anak tentang dunia film, foto, dan &lt;br /&gt;dokumentasi dalam bentuk gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Salah satu program yang diadakan adalah pelatihan fotografi dan &lt;br /&gt;film. Hasil pelatihan foto itulah yang terpampang di dinding Pusat &lt;br /&gt;Kebudayaan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, tak mudah mengajarkan fotografi bagi anak-anak jalanan. &lt;br /&gt;Itu yang dialami Adrian dan Kere yang mendampingi anak-anak jalanan &lt;br /&gt;belajar tentang fotografi. Dalam proses belajar, Adrian melihat &lt;br /&gt;beberapa persoalan yang menjadi kendala. Mulai dari usia peserta &lt;br /&gt;pelatihan yang beragam sampai tingkat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Hal ini tentunya memaksa saya untuk meraba-raba cara belajar &lt;br /&gt;yang sebaiknya dipakai. Kesulitan lainnya, saya diharuskan bisa &lt;br /&gt;membahasakan kembali kata-kata dalam fotografi ke dalam bahasa sehari-&lt;br /&gt;hari yang mudah dimengerti," kata Adrian.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    PELATIHAN film untuk anak-anak Sanggar Akar telah diselenggarakan &lt;br /&gt;sejak bulan Mei-September 2004. Pertemuan dibagi menjadi beberapa &lt;br /&gt;tahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tahap pertama ialah praproduksi dengan berbekal materi pokok &lt;br /&gt;pengajaran mengenai pembuatan skenario, penggunaan kamera, &lt;br /&gt;penyutradaraan dan editing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Peserta yang berusia minimal usia sekolah lanjutan tingkat &lt;br /&gt;pertama dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas &lt;br /&gt;empat-lima anggota. Mereka didampingi para pengajar dari Sinema &lt;br /&gt;Society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada tahap kedua, yaitu tahap produksi, masing-masing kelompok &lt;br /&gt;memproduksi film yang mereka sepakati akan diproduksi. Selanjutnya &lt;br /&gt;adalah belajar tahap pascaproduksi. Pada tahap ini, film yang telah &lt;br /&gt;dibuat diedit menjadi sebuah film yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kelima karya film dari lima kelompok anak-anak Sanggar Akar itu &lt;br /&gt;kini bisa dinikmati. Judulnya: "Emang Enak Dipelitin", &lt;br /&gt;"Keinginan", "Keinginan Seorang Anak", "Katok" dan "Temanku Seperti &lt;br /&gt;Malaikat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perkampungan kumuh, bantaran sungai, tumpukan sampah, lampu &lt;br /&gt;merah, kecrekan, dan gitar butut adalah suatu yang nyata ada dalam &lt;br /&gt;keseharian mereka. Karena itu, ketika mereka membuat film, maka &lt;br /&gt;mereka memulai dari apa yang ada dan bicara seperti kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya tahu persis tidak ada peralatan hebat seperti biasanya &lt;br /&gt;sebuah produksi film video. Namun satu hal yang kaya dari mereka &lt;br /&gt;adalah cerita tentang kehidupan mereka sendiri yang selama ini &lt;br /&gt;terpinggirkan. Tak seperti got-got mampet di lingkungan mereka, &lt;br /&gt;mereka dapat bercerita secara lancar dan sederhana," kata Yayan, &lt;br /&gt;fasilitator workshop film untuk anak-anak Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitulah. Dalam kesederhanaan, walau dengan peralatan seadanya &lt;br /&gt;bahkan hasil pinjaman, anak-anak jalanan ini dapat menghasilkan &lt;br /&gt;sebuah karya film yang senyatanya tentang kerasnya hidup di jalanan. &lt;br /&gt;(LOK)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-760231447995383373?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/760231447995383373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/menguasai-media-untuk-bicara-dan_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/760231447995383373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/760231447995383373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/menguasai-media-untuk-bicara-dan_11.html' title='MENGUASAI MEDIA UNTUK BICARA DAN BERSAKSI'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-7626620749090597875</id><published>2008-12-11T18:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:19:08.687-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dede supriyatna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang wisudo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto bambang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kalimalang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penggusuran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesenian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>"KAMPUS" MEREKA TERANCAM TERGUSUR</title><content type='html'>KOMPAS, Sabtu, 29-03-2003.&lt;br /&gt;    KABAR sedih itu seolah datang tiba-tiba. Anak-anak penghuni &lt;br /&gt;kampus harus meninggalkan kampus tempat mereka belajar dan bermain &lt;br /&gt;selama ini. Bahkan, bagi sebagian mereka, kampus itu juga sekaligus &lt;br /&gt;sebagai tempat tinggal. Pemilik tanah tempat kampus itu berdiri sejak &lt;br /&gt;sepuluh tahun lalu bermaksud menjual tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mereka, lagi-lagi, harus pindah ke tempat lain, kecuali kalau &lt;br /&gt;mereka sanggup menebus tanah seluas 700 meter persegi dengan harga Rp &lt;br /&gt;560 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apa yang disebut kampus itu tidak lain sebuah kompleks bangunan &lt;br /&gt;yang didirikan dari kayu-kayu dan bahan bangunan bekas di kawasan &lt;br /&gt;Gudang Seng, pinggir Kalimalang, Jakarta Timur. Mereka membangun &lt;br /&gt;kompleks itu sedikit demi sedikit sejak sepuluh tahun lalu di atas &lt;br /&gt;tanah kosong seluas 700 meter persegi. Kini mereka memiliki sebuah &lt;br /&gt;aula bermain, bangsal tidur, perpustakaan, ruang komputer, dan ruang &lt;br /&gt;audio visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di tempat itulah anak-anak pinggiran membangun mimpinya, suatu &lt;br /&gt;hari akan keluar dari kemiskinan yang membelenggunya. "Kami bisa &lt;br /&gt;terus tinggal di tempat itu kalau sampai akhir Maret ini kami bisa &lt;br /&gt;mendapatkan tambahan dana Rp 240 juta. Kami baru memperoleh dana &lt;br /&gt;untuk uang muka Rp 40 juta," kata Ibe Karyanto, pendiri dan pemimpin &lt;br /&gt;Sanggar Akar, yang diberi gelar rektor oleh anak-anak jalanan dan &lt;br /&gt;pemulung yang didampinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    KESEDIHAN itu agak terobati ketika mereka berhasil menghimpun &lt;br /&gt;sejumlah dana yang dibutuhkan dari para dermawan pada malam dana, &lt;br /&gt;Kamis (27/3). Keberhasilan itu tidak lepas dari simpati sejumlah &lt;br /&gt;artis kepada anak-anak jalanan. Mereka adalah penyanyi seperti &lt;br /&gt;Sherina, Andien, Oppie Andaresta, dan Titiek Puspa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Anak-anak yang terpaksa hidup di jalanan ini juga punya potensi, &lt;br /&gt;cita-cita, seperti anak yang lain-lain," kata Sherina sebelum &lt;br /&gt;memainkan jari-jarinya di atas piano dan menyanyikan lagu yang &lt;br /&gt;berjudul Lihatlah Lebih Dekat dan lagu Diana Ross, If We Hold on &lt;br /&gt;Together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan "rayuan" Titiek Puspa bersama Opie, malam dana itu &lt;br /&gt;mengumpulkan dana Rp 197,8 juta dan lembaran uang 100 dollar AS. Dana &lt;br /&gt;itu belum cukup untuk menutup keharusan membayar Rp 240 juta pada &lt;br /&gt;akhir bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Komunitas Sanggar Akar merupakan salah satu pelopor pendampingan &lt;br /&gt;anak-anak jalanan dan anak pinggiran di Jakarta. Kegiatan ini berawal &lt;br /&gt;pada tahun 1989, ketika sejumlah orang tergerak untuk mendampingi &lt;br /&gt;masyarakat miskin kota di bawah organisasi Institut Sosial Jakarta. &lt;br /&gt;Melalui proses yang cukup panjang, mereka melakukan penyadaran diri &lt;br /&gt;dan lingkungan melalui budaya. Kegiatan yang menonjol dalam komunitas &lt;br /&gt;Sanggar Akar adalah kegiatan teater dan kesenian. Sebagian anak-anak &lt;br /&gt;itu, yang telah memasuki masa remaja, bahkan kini menularkan &lt;br /&gt;keterampilannya kepada anak-anak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Saya ingin kuliah. Saya ingin mendirikan sekolah seperti &lt;br /&gt;Sanggar Akar. Mungkin di kota lain," kata Dede Supriyatna alias Ambon &lt;br /&gt;(18). Pelajar STM kelas III itu bergabung dengan Sanggar Akar sejak 8 &lt;br /&gt;tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anak-anak pinggiran itu berhak mengejar mimpi-mimpinya. Lagu &lt;br /&gt;penutup acara malam itu adalah lagu Michael Jackson, Heal The World, &lt;br /&gt;yang menyuarakan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buatlah dunia menjadi tempat yang lebih baik, untukmu, untukku, &lt;br /&gt;dan untuk seluruh ras manusia. Ada orang-orang yang tengah menuju &lt;br /&gt;kematiannya, jika kamu tidak cukup peduli pada kehidupan. Buatlah &lt;br /&gt;dunia tempat yang lebih baik, untukmu dan untukku.... (wis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-7626620749090597875?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/7626620749090597875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kampus-mereka-terancam-tergusur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/7626620749090597875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/7626620749090597875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kampus-mereka-terancam-tergusur.html' title='&quot;KAMPUS&quot; MEREKA TERANCAM TERGUSUR'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-2634294105585631145</id><published>2008-12-11T18:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:17:19.474-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang wisudo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hari anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pawai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='edy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Pawai Hari Anak Nasional</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"LETAKKAN SENJATA, BERI KAMI BUKU DAN PENA..."&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Rabu, 24-07-2002.&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas &lt;br /&gt;    Ratusan anak-anak jalanan, pemulung, serta anak-anak &lt;br /&gt;terpinggirkan lainnya bergabung dengan anak-anak dari berbagai &lt;br /&gt;sanggar, Senin (23/7), mengadakan pawai di Jakarta memperingati Hari &lt;br /&gt;Anak Nasional. Pawai itu dimeriahkan dengan kehadiran barong, &lt;br /&gt;jatilan, dan Drum Band "Kaleng Rombeng" yang dimain-kan oleh anak-&lt;br /&gt;anak, serta becak dan dokar hias. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Merujuk konflik bersenjata di sejumlah daerah, sejumlah poster &lt;br /&gt;dan spanduk raksasa bertulisan "Letakkan Senjata, Beri Kami Buku dan &lt;br /&gt;Pena" diarak dalam pawai tersebut. Sepanjang Jalan Pro-klamasi, &lt;br /&gt;Diponegoro, Salemba Raya, dan kembali ke Tugu Proklamasi, anak-anak &lt;br /&gt;dari berbagai latar belakang itu berjoget sambil memukul berbagai &lt;br /&gt;alat bunyi-bunyian, mulai dari drum, kaleng, panci, sampai botol air &lt;br /&gt;mineral. Sebagian anak lagi menarik mainan tradisional yang dibuat &lt;br /&gt;dari barang-barang bekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Adi (10) tampak antusias mengikuti pawai itu. Sepanjang jalan &lt;br /&gt;terik ia menabuh penggorengan yang penuh jelaga. Kakinya hitam penuh &lt;br /&gt;lumpur, berjalan tanpa sepatu di atas jalan aspal yang panas. Ia &lt;br /&gt;menghampiri seorang nenek yang tengah menyirami halaman depan &lt;br /&gt;rumahnya dan meminta agar nenek tersebut mengguyurkan air di &lt;br /&gt;kepalanya. Si nenek ragu-ragu. Adi kemudian menyorongkan kepalanya di &lt;br /&gt;bawah guyuran air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di balik kegembiraannya, ia bercerita bahwa dua minggu sebelumnya &lt;br /&gt;ibunya sakit. Menurut Adi, ibunya tiba-tiba lumpuh dan sampai kini &lt;br /&gt;masih dirawat di rumah sakit. Ayahnya seorang buruh bangunan yang &lt;br /&gt;harus menghidupi delapan anak. Sehari-hari Adi menghabiskan waktunya &lt;br /&gt;mengamen di perempatan di dekat Stasiun Jatinegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya butuh uang untuk ibu saya," ujar Adi. &lt;br /&gt;    Seorang kawannya yang ditanya tentang soal itu mengatakan, tidak &lt;br /&gt;tahu apakah ibu Adi sakit atau tidak. Mata Adi sembab ketika &lt;br /&gt;menjawab, "Gue anaknya, bukan kamu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, ia segera melupakan kesedihannya. Dipukulnya botol besar &lt;br /&gt;air mineral keras-keras mengiringi bunyi-bunyian di sekitar halaman &lt;br /&gt;patung proklamator. "Aku mau nyanyi," kata Adi sembari pergi menuju &lt;br /&gt;panggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Edi (16) ikut memeriahkan pawai hari anak tersebut dengan &lt;br /&gt;mengenakan pakaian dari sedotan. "Ini kostum saya sewaktu bermain &lt;br /&gt;drama. Sedotan ini saya kumpulkan dari tempat sampah," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pawai hari anak ini diprakarsai oleh Sanggar Akar, sebuah &lt;br /&gt;organisasi nonpemerintah yang telah lama berkecimpung dalam &lt;br /&gt;pendampingan anak jalanan. Serangkaian kegiatan telah diselenggarakan &lt;br /&gt;Sanggar Akar berkaitan dengan peringatan Hari Anak Nasional di &lt;br /&gt;markasnya di tepi Kali Malang, Jakarta Timur, seperti bazar dan pasar &lt;br /&gt;murah, pameran karya anak, diskusi, dan pemutaran film anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam selebaran yang dibagikan kepada masyarakat, Sanggar Akar &lt;br /&gt;menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi anak di Indonesia saat &lt;br /&gt;ini. Disebutkan, angka pengangguran  mencapai 7,5 juta jiwa. Data &lt;br /&gt;yang dirilis UNDP, lembaga yang menangani program pembangunan di &lt;br /&gt;bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 30 persen pekerja Indonesia &lt;br /&gt;adalah anak-anak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan &lt;br /&gt;bahwa tahun 1998 tercatat 4.000 anak di bawah usia 16 tahun terlibat &lt;br /&gt;dalam tindak kriminal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Di daerah-daerah konflik nasib mereka tidak kalah buruknya. &lt;br /&gt;Seperti belum cukup menderita, ada orang yang kemudian memanfaatkan &lt;br /&gt;mereka untuk menjadi tenaga murah bahkan diperjualbelikan di pasar," &lt;br /&gt;demikian pernyataan da-lam selebaran yang dibagikan Sanggar Akar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sanggar Akar menyerukan dihentikannya pertikaian politik yang &lt;br /&gt;memakan jiwa dan raga anak Indonesia dan mendesak pemerintah segera &lt;br /&gt;memperhatikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan anak di tempat &lt;br /&gt;pengungsian. Mereka juga menyerukan dihentikannya segala bentuk &lt;br /&gt;kekerasan terhadap anak dan memperbaiki sistem kesehatan dan &lt;br /&gt;pendidikan dengan memberikan pelayanan cuma-cuma kepada anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Koordinator Sanggar Akar Edy Karyanto mengemukakan, pawai hari &lt;br /&gt;anak itu diselenggarakan agar anak-anak bisa mengekspresikan &lt;br /&gt;kebebasannya mesti baru sedikit yang dimiliknya. "Kami juga berharap &lt;br /&gt;agar orang tahu bahwa hari ini adalah hari anak karena ternyata &lt;br /&gt;banyak guru sekolah yang tidak tahu. Dengan memperingati Hari Anak, &lt;br /&gt;kita ingin menyampaikan kewajiban semua orang untuk menghormati hak-&lt;br /&gt;hak anak," ujar Edy yang telah belasan tahun mendampingi anak &lt;br /&gt;jalanan. (wis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-2634294105585631145?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/2634294105585631145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pawai-hari-anak-nasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/2634294105585631145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/2634294105585631145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pawai-hari-anak-nasional.html' title='Pawai Hari Anak Nasional'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4733395852844182498</id><published>2008-12-11T17:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T18:15:25.491-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>KAMI BERHAK UNTUK BELAJAR</title><content type='html'>KOMPAS, Minggu, 14-12-2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun yang ingin tinggal di jalan. Demikian juga &lt;br /&gt;tidak ada yang ingin terlahir cacat. Namun, jika itu yang terjadi, &lt;br /&gt;setiap anak yang kurang beruntung itu  berhak untuk mendapatkan &lt;br /&gt;kesempatan belajar dan hidup lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Bapak Ibe Karyanto dan teman-temannya mendirikan Sanggar &lt;br /&gt;Akar. Di tengah perkampungan daerah Gudang Seng, Jakarta Timur,  &lt;br /&gt;beberapa anak duduk di lantai sebuah aula. Buku partitur terbuka di &lt;br /&gt;depan mereka. Lagu syahdu terdengar mengalun dilanjutkan  dengan &lt;br /&gt;sebuah komposisi klasik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang serius memainkan biola, gitar, dan rekorder itu bukan &lt;br /&gt;murid-murid sebuah kursus musik, melainkan anak-anak pengamen yang &lt;br /&gt;suka  berdiri di perempatan lampu merah sambil menenteng gitar. &lt;br /&gt;Sesiangan mereka mengumpulkan uang bermodal suara dan gitar mereka. &lt;br /&gt;Di sore hari mereka berkumpul di Sanggar Akar untuk belajar. Ada &lt;br /&gt;pelajaran bahasa, biologi, sejarah, teater, dan musik.  Ngapain sih, &lt;br /&gt;pemusik jalanan pakai acara belajar segala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, yang boleh belajar itu kan bukan hanya mereka yang mampu secara &lt;br /&gt;ekonomi. Dalam Konvensi Hak Anak disebutkan bahwa setiap anak berhak &lt;br /&gt;mendapatkan pendidikan juga pelatihan keterampilan. Menurut Bapak Ibe &lt;br /&gt;Karyanto yang  biasa dipanggil Uwak,  banyak anak dari keluarga &lt;br /&gt;miskin di kota besar seperti Jakarta punya masalah berat. Di Sanggar &lt;br /&gt;Akar ini,  teman-teman kita yang kurang beruntung itu punya tempat &lt;br /&gt;yang aman. Aman untuk mengekspresikan diri, bermain, dan belajar. &lt;br /&gt;Berkumpullah mereka tiap sore. Ada teman-teman yang tinggal di jalan, &lt;br /&gt;yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang atau &lt;br /&gt;mereka yang masih punya keluarga lengkap. Mereka sama-sama bergaul &lt;br /&gt;dan belajar di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara belajar mereka memang sedikit berbeda dengan cara belajar kita &lt;br /&gt;di sekolah. Sambil bercanda Kak Dini, murid SMP 52 Jakarta, yang juga &lt;br /&gt;peserta sanggar, mengatakan belajar di Sanggar Akar enak. Pelajaran &lt;br /&gt;lebih bisa mereka mengerti karena lebih sesuai dengan keadaan sehari-&lt;br /&gt;hari. Seperti yang dicontohkan Kak Rika (18), Ketua Dewan Koordinasi &lt;br /&gt;Anak (Dekan) Sanggar Anak. Saat pelajaran sejarah, mereka belajar &lt;br /&gt;mencari arti nama mereka masing-masing. Atau asal-usul nama suatu &lt;br /&gt;tempat di lingkungan sekitar mereka. Mau belajar tentang lingkungan &lt;br /&gt;hidup? Mereka melakukannya dengan memelihara ikan dan menanam pohon &lt;br /&gt;di sekitar sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup sebagai pengamen atau tinggal di tempat pembuangan sampah &lt;br /&gt;Bantar Gebang itu berat. Maka Uwak dibantu oleh Dekan berusaha &lt;br /&gt;membuat kegiatan belajar menyenangkan. Yang penting menurut Uwak, &lt;br /&gt;teman-teman di Sanggar Akar belajar hidup dengan baik. Sebagai ganti &lt;br /&gt;menekuni berbagai mata pelajaran seperti di sekolah, kepada mereka &lt;br /&gt;diajarkan keterampilan menyablon, membuat kertas daur ulang, dan &lt;br /&gt;merajut. Semuanya bertujuan agar nantinya mereka punya keterampilan &lt;br /&gt;dan tidak terus tinggal di jalan. Sikap kerja sama, rasa ingin tahu &lt;br /&gt;dan kemandirian juga dibiasakan dalam kegiatan  sehari-hari di &lt;br /&gt;sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian juga diharapkan tumbuh dalam diri teman-teman kita yang &lt;br /&gt;lain, yakni mereka yang bersekolah di SLB Bagian C Tri Asih, Jakarta. &lt;br /&gt;Pelajar di sekolah ini adalah anak-anak dengan IQ di bawah 80, yang &lt;br /&gt;biasa disebut tunagrahita. Penyandang cacat tunagrahita di SD Luar &lt;br /&gt;Biasa Tri Asih menerima pelajaran seperti murid-murid SD lain. Hanya &lt;br /&gt;saja pelajaran diberikan lebih pelan-pelan. Ada juga pelajaran &lt;br /&gt;merawat diri seperti mandi atau mencuci rambut, lho! Memang kegiatan &lt;br /&gt;seperti menyisir rambut, memakai baju atau mengikat tali sepatu &lt;br /&gt;tampak sepele untuk mereka yang normal. Tapi tidak demikian bagi &lt;br /&gt;teman-teman di SLB yang perkembangan pikiran dan mentalnya maksimal &lt;br /&gt;hanya seperti anak umur 12 tahun. Kegiatan sehari-hari diajarkan &lt;br /&gt;kepada mereka agar mereka tidak selamanya tergantung kepada orang &lt;br /&gt;lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan serupa juga diajarkan di YPAC (Yayasan Pemeliharaan Anak &lt;br /&gt;Cacat) di daerah Hang Lekiu, Jakarta. Penyandang tunadaksa atau cacat &lt;br /&gt;fisik diberi latihan khusus agar bisa mengatasi kekurangannya. Ada &lt;br /&gt;yang belajar membaca huruf Braille, belajar berjalan, belajar &lt;br /&gt;berbicara dengan bahasa isyarat, dan lain-lain. Jika tingkat &lt;br /&gt;kecerdasan anak-anak tersebut normal, mereka bisa mengikuti program &lt;br /&gt;pendidikan inklusi. Ini adalah program masuknya anak-anak penderita &lt;br /&gt;tunadaksa di sekolah umum. Jadi jangan sampai karena seorang anak &lt;br /&gt;menderita cacat, dia terus berada di SLB. Anak cacat juga mendapat &lt;br /&gt;kesempatan untuk hidup seperti orang-orang normal lainnya. Berhak &lt;br /&gt;untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan. Sekarang sudah cukup banyak &lt;br /&gt;lho, penyandang tunadaksa yang bekerja di kantor-kantor umum, &lt;br /&gt;misalnya di stasiun televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang berlangsung di SLB C Tri Asih dan YPAC ini sesuai &lt;br /&gt;sekali dengan salah satu aturan dalam Konvensi Hak Anak. Dalam &lt;br /&gt;konvensi itu diakui bahwa setiap anak punya perbedaan satu sama lain, &lt;br /&gt;termasuk perbedaan sosial, harta kekayaan, dan fisik. Akan tetapi, &lt;br /&gt;anak-anak tidak boleh menerima perlakuan yang berbeda. Hak &lt;br /&gt;kelangsungan hidup dan perkembangan anak dijamin oleh negara. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, penderita tunagrahita ringan di Tri Asih yang bisa &lt;br /&gt;beraktivitas normal tanpa hambatan diajari keterampilan seperti &lt;br /&gt;menjahit dan menenun. Hasil jahitan dan tenunan mereka rapi dan &lt;br /&gt;bagus, tidak kalah dari buatan mereka yang normal. Keterampilan &lt;br /&gt;mereka diharapkan menjadi bekal menghidupi diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita tunagrahita ringan juga dibiasakan bertemu dengan orang-&lt;br /&gt;orang di luar sekolah mereka. Mereka diajak pergi ke luar lingkungan &lt;br /&gt;sekolah mereka, belajar berbelanja. Sedangkan murid-murid YPAC pernah &lt;br /&gt;bersama-sama naik kereta api dari Stasiun Gambir Jakarta ke Bogor, ke &lt;br /&gt;kebun binatang atau ke museum. Dengan cara itu mereka bersosialisasi &lt;br /&gt;dengan dunia luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya berbagai macam  tempat pendidikan seperti di atas, &lt;br /&gt;diharapkan  semua anak mendapatkan hak mereka. Semoga saja makin &lt;br /&gt;banyak teman kita yang lain memperoleh kesempatan untuk bisa &lt;br /&gt;menyambut masa depan mereka. Karena, seperti kata ungkapan, öJika &lt;br /&gt;kami adalah masa depan, dan kami sekarat, maka  masa depan itu tak &lt;br /&gt;ada.ö Tentu kita tak mau bangsa kita tak punya masa depan, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4733395852844182498?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4733395852844182498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kami-berhak-untuk-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4733395852844182498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4733395852844182498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/kami-berhak-untuk-belajar.html' title='KAMI BERHAK UNTUK BELAJAR'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4464724236558024905</id><published>2008-12-11T17:54:00.001-08:00</published><updated>2008-12-11T17:57:17.731-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indira'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternative'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ine'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doge'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=': akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak pinggiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN</title><content type='html'>KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.&lt;br /&gt;    HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat" &lt;br /&gt;dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya. &lt;br /&gt;Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di &lt;br /&gt;Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur," &lt;br /&gt;begitu kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak &lt;br /&gt;dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita &lt;br /&gt;salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian &lt;br /&gt;adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato &lt;br /&gt;lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono &lt;br /&gt;menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya. &lt;br /&gt;Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh &lt;br /&gt;berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan &lt;br /&gt;anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung, &lt;br /&gt;membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan &lt;br /&gt;penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya &lt;br /&gt;ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata &lt;br /&gt;penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal &lt;br /&gt;hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu &lt;br /&gt;tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah &lt;br /&gt;umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-&lt;br /&gt;lantung di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan &lt;br /&gt;anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan &lt;br /&gt;komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya &lt;br /&gt;tentang pendidikan termuat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat &lt;br /&gt;komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut &lt;br /&gt;hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar. &lt;br /&gt;Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia &lt;br /&gt;membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah &lt;br /&gt;Inpeksi Saluran Jatiluhur.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang &lt;br /&gt;November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan &lt;br /&gt;pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat &lt;br /&gt;sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca &lt;br /&gt;merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan &lt;br /&gt;pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting &lt;br /&gt;adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan, &lt;br /&gt;seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan &lt;br /&gt;berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan &lt;br /&gt;kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar &lt;br /&gt;adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan &lt;br /&gt;modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan &lt;br /&gt;keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan &lt;br /&gt;pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe &lt;br /&gt;Karyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-&lt;br /&gt;basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung &lt;br /&gt;Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya, &lt;br /&gt;berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih &lt;br /&gt;muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini &lt;br /&gt;bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-&lt;br /&gt;apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan &lt;br /&gt;formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian. &lt;br /&gt;Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan, &lt;br /&gt;itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4464724236558024905?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4464724236558024905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/giliran-membangun-anak-pinggiran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4464724236558024905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4464724236558024905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/giliran-membangun-anak-pinggiran.html' title='GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4589087841472620420</id><published>2008-12-11T17:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T15:52:52.235-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indira'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternative'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ine'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doge'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak pinggiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN</title><content type='html'>KOMPAS, Kamis, 22-07-2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN&lt;br /&gt;    HANYA berbekal pendidikan formal kelas VI SD, Pray (20) "minggat" &lt;br /&gt;dari rumahnya di Semarang delapan tahun lalu, bersama lima temannya. &lt;br /&gt;Turun di Stasiun Senen, dia berkelana sebagai pengamen jalanan di &lt;br /&gt;Jakarta.&lt;br /&gt;    "Tahu besok pagi masih hidup dan bisa makan saja sudah syukur," &lt;br /&gt;begitu kenangnya.&lt;br /&gt;    Pernah pula Pray menjadi calo taksi di Stasiun Jatinegara sejak &lt;br /&gt;dini hari. Hidup di jalan memang tidak bisa pilih cerita. Berita &lt;br /&gt;salah satu teman masuk bui atau meninggal dalam sebuah perkelahian &lt;br /&gt;adalah biasa. Melihat teman-temannya bertato, dia ikut menato &lt;br /&gt;lengannya. Sampai kemudian berganti nama yang aslinya Supriyono &lt;br /&gt;menjadi Pray De Feri seperti banyak anak jalanan lain.&lt;br /&gt;    Sampai sekarang tato vignet itu masih tertanam di bawah kulitnya. &lt;br /&gt;Begitu pula nama barunya. Tetapi, kehidupan dan semangat Pray jauh &lt;br /&gt;berubah.&lt;br /&gt;    Pada usia 20 tahun, ia sekarang mampu berdiri di muka puluhan &lt;br /&gt;anak di komunitas pinggiran tol Cakung. Ia mengajar mereka berhitung, &lt;br /&gt;membaca, dan terutama berbicara mengungkapkan pendapat.&lt;br /&gt;    "Awalnya, sulit juga mendekati masyarakat di sana. Dengan lengan &lt;br /&gt;penuh tato dan pakaian apa adanya, orangtua ragu anak-anaknya saya &lt;br /&gt;ajar. Tetapi, dengan pendekatan, penerimaannya semakin baik," kata &lt;br /&gt;penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer itu.&lt;br /&gt;    Heru Yuli Pambadi (20) lain lagi. Sejarah Heru di sekolah formal &lt;br /&gt;hanya sampai sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia sempat belajar satu &lt;br /&gt;tahun di sekolah tinggi mesin dan satu tahun di sekolah menengah &lt;br /&gt;umum. Karena biaya sekolah memberatkan, dia pun keluar dan luntang-&lt;br /&gt;lantung di jalan.&lt;br /&gt;    Kini Heru tidak pernah menyangka dirinya mampu mengajar belasan &lt;br /&gt;anak pinggiran tentang grafis komputer sekaligus mengelola penerbitan &lt;br /&gt;komunitas mereka dengan nama Tabloid Niat. Berbagai tulisan kritisnya &lt;br /&gt;tentang pendidikan termuat di sana.&lt;br /&gt;    "Sulit sekali mengajar mereka karena memegang atau melihat &lt;br /&gt;komputer saja belum pernah. Tapi, saya suka," katanya.&lt;br /&gt;    Doge (21) yang pernah lekat dengan obat terlarang dan menganut &lt;br /&gt;hukum rimba jalanan "siapa kuat dia menang" tak kalah ikut mengajar. &lt;br /&gt;Dengan rambut gondrong, pakaian slebor, dan anting berjejer, dia &lt;br /&gt;membagikan kemampuannya memainkan biola dan cetak sablon di daerah &lt;br /&gt;Inpeksi Saluran Jatiluhur.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;                              ***&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    PRAY dan rekan-rekannya bagian dari perjalanan Sanggar Akar yang &lt;br /&gt;November nanti berusia 10 tahun. Selama itu, sanggar memberikan &lt;br /&gt;pendidikan alternatif dan pilihan bagi anak-anak pinggiran.&lt;br /&gt;    Kemampuan Heru menulis, kepandaian Doge memainkan biola dan alat &lt;br /&gt;sablon, serta semangat Pray mengajar anak-anak berhitung dan membaca &lt;br /&gt;merupakan hasil mereka berproses di Sanggar Akar.&lt;br /&gt;    Di situlah anak jalanan, penghuni bantar kali, pengasong, dan &lt;br /&gt;pemulung berinteraksi dengan nyaman dan aman. Yang tak kalah penting &lt;br /&gt;adalah memperoleh hak mereka untuk memilih melalui berbagai kegiatan, &lt;br /&gt;seperti teater, musik, menggambar, mendatangkan pembicara, dan &lt;br /&gt;berdiskusi.&lt;br /&gt;    "Rohnya adalah menjadi manusia seutuhnya dan memberikan &lt;br /&gt;kesempatan memilih yang selama ini direnggut dari mereka. Belajar &lt;br /&gt;adalah kehendak. Bukan sekadar pilihan mau apa, tetapi memikirkan &lt;br /&gt;modal apa yang dibutuhkan. Berusaha memperoleh keterampilan. Bukan &lt;br /&gt;keterampilan tangan, melainkan berorganisasi, manajemen, dan &lt;br /&gt;pengambilan keputusan," kata Penanggung Jawab Sanggar Akar Ibe &lt;br /&gt;Karyanto.&lt;br /&gt;    Para murid kemudian ditugasi mengembangkan sanggar dan basis-&lt;br /&gt;basis pinggirannya di Jakarta, seperti anak-anak di kawasan pemulung &lt;br /&gt;Bantar Gebang, komunitas pinggiran tol Cakung, dan Penas.&lt;br /&gt;    Pray yang sudah delapan tahun ikut Sanggar Akar, misalnya, &lt;br /&gt;berkeinginan membagi pengalamannya kepada rekan-rekannya yang lebih &lt;br /&gt;muda. "Saya ingin mereka punya pilihan juga," katanya.&lt;br /&gt;    Hal senada diungkapkan Doge, meskipun baru tiga tahun ini &lt;br /&gt;bergabung, "Saya mau teman-teman maju. Dulu saya pun tidak bisa apa-&lt;br /&gt;apa."&lt;br /&gt;    Bagi Ibe sendiri, pendidikan alternatif tidak seperti pendidikan &lt;br /&gt;formal yang setiap jenjangnya dianggap sebagai terminal perhentian. &lt;br /&gt;Sebab, hidup itu sendiri juga merupakan materi untuk belajar.&lt;br /&gt;    Saat Pray, Heru, atau Doge ganti berdiri mengulurkan tangan, &lt;br /&gt;itulah waktu mereka belajar membangun dan memberdayakan komunitasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4589087841472620420?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4589087841472620420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/giliran-membangun-anak-pinggiran_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4589087841472620420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4589087841472620420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/giliran-membangun-anak-pinggiran_11.html' title='GILIRAN MEMBANGUN ANAK PINGGIRAN'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-3042452546880842012</id><published>2008-12-11T17:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:53:56.569-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='slamet rahardjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>TOLAK TAYANGAN TELEVISI YANG TIDAK MENDIDIK</title><content type='html'>P&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ercuma Saja Generasi Muda Sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                   Oleh: Samuel Oktora Batarede&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS Jawa Timur, Senin, 15-08-2005.&lt;br /&gt;Malang, Kompas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sutradara dan aktor Slamet Rahardjo menyatakan, sekarang &lt;br /&gt;diperlukan sikap radikal untuk tidak menonton sama sekali acara &lt;br /&gt;televisi yang tidak mendidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hal ini dikemukakan Slamet seusai acara dialog dan apresiasi film &lt;br /&gt;karya anak Sanggar Akar Jakarta, Minggu (14/8) di Sekolah Menengah &lt;br /&gt;Atas Katolik Santo Albertus-Dempo, Malang. Slamet hadir bersama &lt;br /&gt;penyanyi Iga Mawarni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam sesi dialog, banyak ibu guru yang menyatakan keprihatinan &lt;br /&gt;mereka akan maraknya tayangan televisi (TV) yang justru bersifat &lt;br /&gt;merusak.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Memang sekarang banyak film yang diputar di TV, apakah itu dari &lt;br /&gt;dalam maupun luar negeri, yang tingkatannya sudah sangat &lt;br /&gt;memprihatinkan. Isinya menyesatkan, termasuk yang bernuansa mistis. &lt;br /&gt;Banyak yang tidak masuk akal, hanya menonjolkan kemewahan hingga &lt;br /&gt;cerita-cerita dedemit. Kalau generasi muda sekarang banyak disodori &lt;br /&gt;hal-hal semacam ini, percuma saja sekolah," kata Slamet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Tetapi, saya juga meminta ibu-ibu jangan hanya menjadi jago &lt;br /&gt;kandang, tetapi perlu membuat semacam komitmen atau pernyataan untuk &lt;br /&gt;tidak menonton film yang mengecilkan arti budaya dan harga diri &lt;br /&gt;bangsa," tutur sutradara Marsinah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Slamet mencontohkan, salah satu adegan atau tayangan film yang &lt;br /&gt;tidak mendidik itu seperti pada film laga, yakni adanya ungkapan &lt;br /&gt;salah satu tokoh untuk membalas dendam: "I will revenge!" Film laga &lt;br /&gt;demikian menyampaikan pesan kuat mengenai kekuatan balas dendam &lt;br /&gt;sampai turun-temurun. Seharusnya pada generasi muda ditanamkan sikap &lt;br /&gt;mengasihi atau mengampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Ada juga film yang tokohnya mengatakan hal tidak masuk akal, &lt;br /&gt;yang mempertanyakan mengapa pada usia 13 tahun masih perawan. Jelas &lt;br /&gt;tayangan seperti ini tidak masuk logika, lebih baik tidak usah &lt;br /&gt;ditonton," tutur dia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Meski demikian, Slamet juga tidak setuju jika penolakan terhadap &lt;br /&gt;tayangan film negatif itu melalui larangan dengan pendekatan &lt;br /&gt;kekuasaan. Sebab, hal ini merupakan bentuk penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya pernah ditanya apakah film Buruan Cium Gue perlu ditarik &lt;br /&gt;dari peredaran. Saya tidak setuju karena langkah seperti ini &lt;br /&gt;mengekang seseorang untuk berkreasi. Cukup pakai saja bahasa dagang, &lt;br /&gt;buka bahasa kekuasaan ," ujarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-3042452546880842012?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/3042452546880842012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/tolak-tayangan-televisi-yang-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/3042452546880842012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/3042452546880842012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/tolak-tayangan-televisi-yang-tidak.html' title='TOLAK TAYANGAN TELEVISI YANG TIDAK MENDIDIK'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-1974877266539165245</id><published>2008-12-11T17:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:51:02.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lodi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dano'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang wisudo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kampong dano'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bale rahayat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lodi paat'/><title type='text'>Pendidikan untuk Yang Miskin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUHCuQVLkpI/AAAAAAAAADQ/vGl9VsVK67Y/s1600-h/mural.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUHCuQVLkpI/AAAAAAAAADQ/vGl9VsVK67Y/s200/mural.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278714338168509074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENJEMBATANI SEKOLAH ALTERNATIF DENGAN FORMAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                     Oleh P Bambang Wisudo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Kamis, 15-09-2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kokon Koswara (23), mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu &lt;br /&gt;Pendidikan (STKIP) Garut, Jawa Barat, dalam beberapa bulan terakhir &lt;br /&gt;lebih sering mengisi masa akhir pekannya dengan naik turun gunung. &lt;br /&gt;Kegiatan itu harus dijalaninya sejak ia bersama sejumlah kawannya &lt;br /&gt;membantu warga kampung Dano menyelenggarakan sekolah alternatif Bale &lt;br /&gt;Rahayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jarak delapan kilometer dari ibu kota Kecamatan Leles dengan &lt;br /&gt;kampung Dano ditempuh sepeda motor. Karena keuangan terbatas, Kokon &lt;br /&gt;dan kawan-kawannya tidak memilih menggunakan jasa ojek. Ongkos ojek &lt;br /&gt;ke kampung itu Rp 15.000 sekali jalan. Untuk menekan biaya, Kokon &lt;br /&gt;memilih menyewa motor dengan ongkos Rp 20.000 sehari. Biasanya motor &lt;br /&gt;itu ditumpangi bertiga, tidak peduli jalan terjal bebatuan yang harus &lt;br /&gt;dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Karena masalah ongkos kami tidak bisa intensif mendampingi &lt;br /&gt;masyarakat Dano," tutur Kokon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Aktivitas Kokon dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Jaringan &lt;br /&gt;Pendidikan Kritis Garut itu didasari keprihatinan atas minimnya akses &lt;br /&gt;pendidikan anak-anak petani di wilayah itu. Dari delapan ribu &lt;br /&gt;penduduk di dusun itu, hanya segelintir saja yang tamat SD dan SMP. &lt;br /&gt;Selepas kelas dua, empat SD negeri di sekitar dusun itu kehilangan &lt;br /&gt;murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebagian besar putus di tengah jalan dalam keadaan tidak bisa &lt;br /&gt;membaca dan menulis. Anak laki-laki di bawah umur yang belum bisa &lt;br /&gt;baca tulis itu sebagian besar di bawa ke kota dipekerjakan, menjadi &lt;br /&gt;pembantu buruh konveksi tas kulit, dengan upah yang sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Baru beberapa bulan berjalan, kini Bale Rahayat harus menampung &lt;br /&gt;sekitar 150 murid. Dengan fasilitas seadanya, mereka belajar di &lt;br /&gt;emperan masjid dusun, rutin diajar oleh tiga tokoh masyarakat yang &lt;br /&gt;menjadi sukarelawan. Sejauh ini tidak ada sedikit pun dukungan dari &lt;br /&gt;pemerintah lokal. Andaikata mereka juga berhak atas dana kompensasi &lt;br /&gt;BBM sebesar rata-rata Rp 20.000 per bulan, hampir bisa dijamin anak-&lt;br /&gt;anak itu lebih pintar dibandingkan anak-anak yang memilih bersekolah &lt;br /&gt;di sekolah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Korban diskriminasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Anak-anak dari masyarakat kalangan bawah yang terempas dari jalur &lt;br /&gt;pendidikan formal memang menjadi korban diskriminasi kebijakan &lt;br /&gt;pendidikan nasional. Orang-orang miskin yang seharusnya dibela, &lt;br /&gt;justru dimarginalkan dalam proses pendidikan. Jangankan mereka yang &lt;br /&gt;memilih jalur sekolah alternatif. Anak-anak putus sekolah yang &lt;br /&gt;ditampung di PKBM yang disokong pemerintah pun diberi anggaran sisa. &lt;br /&gt;Upah gurunya hanya Rp 150.000 per bulan. Di lapangan honor sebesar &lt;br /&gt;itu dibagi lagi untuk beberapa tutor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Eko &lt;br /&gt;Djatmiko Sukarso menceritakan, ia pernah menjumpai tutor yang diberi &lt;br /&gt;honorarium Rp 20.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di Jakarta, seorang siswa SD dari kelompok masyarakat miskin, &lt;br /&gt;mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah dan pusat sebesar Rp &lt;br /&gt;40.000 per anak. Bahkan subsidi dari Pemda DKI bagi siswa SD tahun &lt;br /&gt;depan diusulkan naik dua kali lipat menjadi Rp 500.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk anak-anak putus sekolah, Pemda DKI menyelenggarakan program &lt;br /&gt;retrieval dengan anggaran Rp 1 juta per anak per tahun. Dana itu &lt;br /&gt;tentu menjadi sebuah kemewahan bagi anak-anak dari masyarakat bawah &lt;br /&gt;yang bergabung di sanggar-sanggar pendidikan alternatif, seperti &lt;br /&gt;Sanggar Akar, Sanggar Ciliwung, atau Sanggar Anak Alam di Lebakbulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kenyataannya dana itu dibekap oleh sekolah-sekolah formal yang &lt;br /&gt;ketat dikendalikan oleh pemerintah. Hasilnya adalah anak-anak miskin &lt;br /&gt;tetap saja tidak bisa bersekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anggaran dan substansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Kesenjangan antara sekolah alternatif dengan sekolah formal tidak &lt;br /&gt;hanya persoalan anggaran tetapi juga substansi pendidikan yang &lt;br /&gt;ditawarkan. Sekolah-sekolah alternatif yang berkembang dalam semangat &lt;br /&gt;Paulo Freirean, yang mengintegrasikan semangat perlawanan terhadap &lt;br /&gt;sistem yang memiskinkan dalam pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejumlah aktivitas pendidikan alternatif memiliki keyakinan bahwa &lt;br /&gt;tujuan akhir pendidikan alternatif bukan sekadar mengeluarkan anak &lt;br /&gt;dari kemiskinan yang membelenggu lingkungan dan keluarga mereka. &lt;br /&gt;Apalagi bila itu sekadar diartikan memberikan keterampilan agar &lt;br /&gt;mereka bisa berintegrasi dalam sistem yang kapitalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semangat perlawanan itu dapat dibaca dari kemunculan sekolah-&lt;br /&gt;sekolah alternatif di berbagai daerah. Sebutlah Madrasah Aliyah &lt;br /&gt;Bingkat di Sumatera Utara, Sekolah Anak Rima "Sokola" di Jambi, &lt;br /&gt;Sanggar Akar dan Sanggar Ciliwung di Jakarta.Madrasah Tsanawiyah As &lt;br /&gt;Sururon dan Bale Rahayat di Garut, SMP Qaryah Thayibbah di Salatiga, &lt;br /&gt;Sanggar Anak Alam dan SD Mangunan di Yogyakarta, dan masih banyak &lt;br /&gt;lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada dua model besar penyelenggaraan sekolah alternatif itu. Ada &lt;br /&gt;yang berkompromi dengan sistem pendidikan formal tetapi ada yang &lt;br /&gt;tidak mau berkompromi. Model pertama biasanya mengambil bentuk &lt;br /&gt;sekolah formal meski dengan sejumlah penyiasatan, menganggap penting &lt;br /&gt;nilai ijazah, dan mengukur mutu berdasarkan standar nilai rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pengamat pendidikan Dr Mochtar Buchori memberikan ilustrasi kedua &lt;br /&gt;model itu dengan membandingkan antara pendidikan alternatif Sanggar &lt;br /&gt;Akar dan SMP Alternatif Qaryah Thayibbah. Menurut Mochtar, Sanggar &lt;br /&gt;Akar lebih merupakan perjuangan sosio-kultural, yang dipentingkan &lt;br /&gt;adalah bagaimana anak menemukan arti dalam kehidupannya. Karena itu &lt;br /&gt;soal ujian dan ijazah dianggap remeh. Sedangkan sekolah model Qaryah &lt;br /&gt;Thayibbah lebih dilatarbelakangi perjuangan sosial-ekonomis, &lt;br /&gt;bagaimana memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak petani di &lt;br /&gt;desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam model pendidikan pertama, anak-anak bisa menjadi kekuatan &lt;br /&gt;subversif dalam masyarakat tertentu. "Tergantung tujuannya, apakah &lt;br /&gt;pendidikan mau menormalkan atau mau melawan. Memberikan kemampuan &lt;br /&gt;belajar menjadi penting untuk memberikan kesempatan anak-anak &lt;br /&gt;marginal menumbuhkan jiwa kewiraswastaannya," kata Mochtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto mengatakan bahwa pendidikan &lt;br /&gt;alternatif untuk kaum miskin memang merupakan kritik radikal terhadap &lt;br /&gt;pendidikan formal. Paradigma yang dianut adalah paradigma pembebasan. &lt;br /&gt;Karena itu harus ada penyadaran kritis pada diri anak bahwa &lt;br /&gt;kemiskinan yang mereka alami bukan merupakan kenyataan yang terjadi &lt;br /&gt;begitu saja tetapi merupakan akibat dari proses pemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Bukan mengajak anak membangun konfrontasi tetapi justru &lt;br /&gt;mengajak anak secara visioner melihat sistem apa yang harus &lt;br /&gt;dibangun," kata Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam semangat perlawanan itu mungkinkah pendidikan alternatif &lt;br /&gt;berkolaborasi dengan pemerintah? Mengapa tidak? Menurut Eko Djatmiko, &lt;br /&gt;tidak ada masalah sekolah alternatif bekerja sama dengan pemerintah &lt;br /&gt;meskipun mereka mengembangkan semangat perlawanan. Demi pencerdasan &lt;br /&gt;bangsa, perbedaan-perbedaan antara formal dan nonformal, antara &lt;br /&gt;masyarakat dan negara, mesti disinergikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semangat perlawanan, kata Lodi Paat, Pengajar Pengantar Ilmu &lt;br /&gt;Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, yang selama ini terjadi &lt;br /&gt;juga bukan monopoli pendidikan nonformal atau sekolah alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Perlawanan seharusnya tidak hanya dilakukan sekolah-sekolah &lt;br /&gt;alternatif tetapi juga sekolah-sekolah formal. Dalam situasi &lt;br /&gt;sekarang, tanpa perlawanan, kita akan dirampok habis-habisan," kata &lt;br /&gt;Lodi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-1974877266539165245?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/1974877266539165245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-untuk-yang-miskin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1974877266539165245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1974877266539165245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-untuk-yang-miskin.html' title='Pendidikan untuk Yang Miskin'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUHCuQVLkpI/AAAAAAAAADQ/vGl9VsVK67Y/s72-c/mural.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-5673397411882934804</id><published>2008-12-11T17:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:42:05.392-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dede supriyatna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang wisudo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak alam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bambang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><title type='text'>Pendidikan Alternatif</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ANTARA PERLAWANAN DAN IJAZAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                        Oleh: P Bambang Wisudo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Sabtu, 17-09-2005.&lt;br /&gt;    Tanpa bersentuhan dengan pendidikan alternatif, Haryanti (34) &lt;br /&gt;mungkin tidak akan mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi atau &lt;br /&gt;bekerja menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekolah telah lama ditinggalkan Harti, demikian ia biasa &lt;br /&gt;dipanggil, ketika Sanggar Anak Alam berdiri di kampungnya di Lawen, &lt;br /&gt;Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seperti kebanyakan anak-anak &lt;br /&gt;desa pada masa itu, Harti berhenti sekolah setamat SD. Lepas dari &lt;br /&gt;sekolah ia hanya membantu ibunya mengerjakan tugas di dapur atau &lt;br /&gt;membantu bekerja di kebun. Sesekali ia belajar menari di grup &lt;br /&gt;ketoprak yang diasuh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Harti, gadis yang cepat belajar. Berbagai keterampilan cepat &lt;br /&gt;dikuasainya. Ia juga rajin membaca. Bakatnya mengajar juga tumbuh &lt;br /&gt;dengan pesat. Karena itu, meski hanya mengantongi ijazah SD, ia &lt;br /&gt;dipercaya mengajar di taman kanak-kanak (TK) yang didirikan Sanggar &lt;br /&gt;Anak Alam. Kegiatan TK itu terhenti setelah berjalan lima tahun &lt;br /&gt;setelah muncul protes karena gurunya hanya lulusan SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Harti tak putus asa. Keinginannya mengajar muncul kembali saat ia &lt;br /&gt;hijrah mengikuti suaminya ke Jombang, Jawa Timur. Ia direkrut untuk &lt;br /&gt;mengajar di TK Yayasan Al Muhamadi milik budayawan Emha Ainun Najib. &lt;br /&gt;Sambil mengajar, ia ikut program kelompok belajar. Berbekal ijazah &lt;br /&gt;penyetaraan itu, ia kini melanjutkan kuliah program Diploma &lt;br /&gt;Pendidikan Guru TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya membutuhkan ijazah untuk menunjang kegiatan saya mengajar," &lt;br /&gt;ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cita-cita tak bisa dicegah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Sekolah alternatif muncul sebagai respons terhadap kealpaan &lt;br /&gt;negara dalam memberikan hak-hak pendidikan kepada masyarakat bawah. &lt;br /&gt;Para aktivis pendidikan alternatif dengan sadar mendesain agar tumbuh &lt;br /&gt;kesadaran kritis pada anak didiknya, membantu mereka menemukan jalan &lt;br /&gt;untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka. Kesadaran &lt;br /&gt;kritis terhadap sistem yang memiskinkan merupakan agenda penting &lt;br /&gt;dalam pendidikan alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akan tetapi, ketika kesadaran itu tumbuh, anak-anak tersebut &lt;br /&gt;tidak sekadar ingin memperoleh pekerjaan yang layak agar dapat keluar &lt;br /&gt;dari kemiskinan yang mengimpit keluarganya. Mereka bahkan memiliki &lt;br /&gt;keinginan dan cita-cita yang tidak kalah dengan anak-anak "normal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebutlah Dede Supriyatna (21). Dede, yang dipanggil Ambon oleh &lt;br /&gt;kawan-kawannya, melewatkan masa kecil dengan menjual koran di &lt;br /&gt;perempatan jalan di Jakarta. Bapaknya dulu bekerja sebagai petugas &lt;br /&gt;satpam, harus menghidupi delapan anak. Beruntung, Ambon bersentuhan &lt;br /&gt;dengan Sanggar Akar sehingga ia bisa tetap bersekolah. Meski tak &lt;br /&gt;dianjurkan, Ambon terus belajar di sekolah formal. Padahal, kegiatan &lt;br /&gt;di sanggar biasanya berlangsung hingga dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tamat SMP, Ambon melanjutkan pendidikan ke STM. Meski belajar &lt;br /&gt;otomotif, ia ternyata lebih tertarik pada pelajaran musik yang &lt;br /&gt;didapatkannya di sanggar daripada mengutak-atik mesin. Pelajaran &lt;br /&gt;praktik di bengkel merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Ambon. &lt;br /&gt;"Sering saya tiduran di kolong mesin," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan bekal ijazah STM itu ia kuliah Pendidikan Seni Musik di &lt;br /&gt;Universitas Negeri Jakarta. Sebelumnya ia belajar piano gratis selama &lt;br /&gt;setahun di lembaga pendidikan musik yang dipimpin Dwiki Dharmawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di samping kuliah, kini ia memberikan les privat gitar dan &lt;br /&gt;mengajar ekstrakurikuler musik di SD Vincencius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekalipun bisa memperoleh uang, ia tidak mau memberikan les bila &lt;br /&gt;itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari di sanggar mulai pukul 19.00 &lt;br /&gt;hingga dini hari. "Setengah hidup saya, saya habiskan di sanggar. &lt;br /&gt;Saya ingin ikut mengembangkan sanggar," kata Ambon. "Tanpa Sanggar &lt;br /&gt;Akar, mungkin saya akan jadi orang biasa-biasa saja. Paling-paling &lt;br /&gt;kerja di pabrik. Siang kerja, malam tidur," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ambon merupakan salah satu dari delapan anak Sanggar Akar yang &lt;br /&gt;saat ini kuliah. Mereka pada mulanya adalah anak-anak dari kalangan &lt;br /&gt;marginal yang harus bergulat dalam keterbatasan ekonomi sehingga &lt;br /&gt;menutup mimpi-mimpi mereka akan masa depan. Di tengah keharusan &lt;br /&gt;mencari uang, belajar di sanggar, mereka juga belajar di sekolah &lt;br /&gt;formal. Pendidikan alternatif tidak hanya membuka peluang dari &lt;br /&gt;belenggu kemiskinan yang mengelilingi ruang kehidupan mereka, tetapi &lt;br /&gt;juga membuka diri mereka pada dunia yang jauh lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itu tercermin dalam keputusan mereka dalam mengambil bidang &lt;br /&gt;studi. Ada yang mengambil program studi Pendidikan Seni Rupa, &lt;br /&gt;Akuntansi, maupun Bahasa Inggris. Bahkan Rika (19) memilih belajar &lt;br /&gt;filsafat dan mulai semester ini mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi &lt;br /&gt;Filsafat Driyarkara. Mereka tidak bercita-cita menjadi pegawai negeri &lt;br /&gt;atau karyawan perusahaan. Kalaupun bekerja formal, mereka ingin &lt;br /&gt;menjadi guru. Namun, mereka umumnya lebih suka mengembangkan &lt;br /&gt;pendidikan alternatif seperti yang mereka dapatkan selama ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-5673397411882934804?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/5673397411882934804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-alternatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5673397411882934804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5673397411882934804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pendidikan-alternatif.html' title='Pendidikan Alternatif'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-719748599265163379</id><published>2008-12-11T17:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:38:47.325-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keseteraan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan kesetaraan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>PERLU REFORMASI RADIKAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendidikan Kesetaraan Malah Mengadopsi Pendidikan Formal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS, Jumat, 21-07-2006.&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas&lt;br /&gt;    Reformasi pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C ternyata tidak &lt;br /&gt;sesuai yang dijanjikan karena cenderung memindahkan sistem &lt;br /&gt;persekolahan dalam pendidikan nonformal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berbagai kalangan mendesak pemerintah melakukan reformasi &lt;br /&gt;pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C secara radikal agar dapat &lt;br /&gt;mengakomodasi keinginan masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan &lt;br /&gt;sesuai kebutuhan komunitas. Desakan itu muncul dalam &lt;br /&gt;diskusi "Pendidikan Kesetaraan: Peluang atau Ancaman bagi Sekolah &lt;br /&gt;Alternatif" yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar di Jakarta, Kamis &lt;br /&gt;(20/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari pengakuan sejumlah penyelenggara sekolah alternatif maupun &lt;br /&gt;mereka yang pernah mengikuti ujian kesetaraan, terungkap bahwa &lt;br /&gt;eligibilitas yang dijanjikan pemerintah juga tidak terwujud di &lt;br /&gt;lapangan. Beberapa sekolah negeri di Jakarta menolak menerima siswa &lt;br /&gt;yang berijazah kesetaraan. Bahkan, untuk mengikuti ujian kesetaraan &lt;br /&gt;masyarakat harus mengeluarkanuang ratusan ribu rupiah meski telah &lt;br /&gt;dinyatakan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Staf Direktorat Kesetaraan Depdiknas, Elih Sudiya Permana, &lt;br /&gt;mengungkapkan pihaknya juga memperoleh sejumlah pengaduan praktik &lt;br /&gt;pungutan terhadap peserta ujian kesetaraan. Praktik pungutan untuk &lt;br /&gt;kelulusan ujian kesetaraan juga dibenarkan Andri Cahyadi, pendamping &lt;br /&gt;anak jalanan di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut Koordinator Sanggar Akar Ibe Karyanto, pengaturan program &lt;br /&gt;kesetaraan saat ini makin blunder dengan diikutinya ketentuan-&lt;br /&gt;ketentuan pendidikan formal dalam program kesetaraan. Dalam jam &lt;br /&gt;belajar pun ada kecenderungan pemerintah mau mengatur lebih ketat. &lt;br /&gt;Untuk Paket C (setara SMA), ditetapkan lama belajar 969 jam dalam 180 &lt;br /&gt;hari per tahun, dengan 30 satuan kredit semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemerintah, kata Ibe, harus melakukan reformasi radikal terhadap &lt;br /&gt;program kesetaraan, sehingga program kesetaraan memiliki otonomi &lt;br /&gt;dalam menyelenggarakan pendidikannya dan tidak menjadi miniatur &lt;br /&gt;pendidikan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Mestinya pendidikan kesetaraan mengakomodasi beragam jenis &lt;br /&gt;pendidikan komunitas yang berkembang di masyarakat. Pemerintah cukup &lt;br /&gt;memfasilitasi kreativitas dalam masyarakat," tutur Ibe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lebih kaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Koordinator Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip) Yanti Sriyulianti &lt;br /&gt;menyatakan keheranannya mengapa pengaturan program pendidikan &lt;br /&gt;kesetaraan Paket A, B, dan C sekarang justru lebih kaku dibandingkan &lt;br /&gt;pendidikan formal. Mengambil contoh SD Hikmah Teladan Cimahi, &lt;br /&gt;Bandung, Yanti mengatakan bahwa sekolah formal pun bisa menetapkan &lt;br /&gt;kurikulum dan menentukan buku-buku ajarnya sendiri dan bahkan bisa &lt;br /&gt;mendapatkan akreditasi sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Pendidikan kesetaraan mestinya tidak menduplikasi pendidikan &lt;br /&gt;formal, termasuk dalam sistem evaluasinya," kata Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi Retno Listyarti, guru SMA Negeri 13 Jakarta Utara, &lt;br /&gt;pendidikan nonformal jelas tidak sama dengan pendidikan formal. &lt;br /&gt;Karena itu, indikator untuk mengukur keberhasilan anak didiknya &lt;br /&gt;sangat berbeda dan tidak mungkin disamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendidikan kesetaraan, kata Retno, tidak cocok diuji dengan model &lt;br /&gt;pilihan ganda. Dengan standar kelulusannya yang rendah, tak usah &lt;br /&gt;belajar pun peserta ujian kesetaraan bisa lulus. Evaluasi program &lt;br /&gt;kesetaraan mestinya diukur dari aspek kecakapan hidup, bukan semata-&lt;br /&gt;mata penguasaan keterampilan, apalagi penguasaan akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Suryanto dari Sanggar Ciliwung mengemukakan, pemerintah mestinya &lt;br /&gt;memberikan pengakuan pada pendidikan alternatif yang diselenggarakan &lt;br /&gt;masyarakat. Apalagi kenyataannya tidak ada nilai kurang bagi mereka &lt;br /&gt;yang mengikuti ujian kesetaraan asalkan bisa membayar.(wis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-719748599265163379?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/719748599265163379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/perlu-reformasi-radikal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/719748599265163379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/719748599265163379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/perlu-reformasi-radikal.html' title='PERLU REFORMASI RADIKAL'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-4725408292226623899</id><published>2008-12-11T17:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:36:10.742-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='susilo adinegoro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terapi musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='institut sosial Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='instititut sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak pinggiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><title type='text'>MUSIK, TERAPI PSIKOLOGIS ANAK</title><content type='html'>KOMPAS, Kamis, 13-05-1999.&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas &lt;br /&gt;    Anak-anak pinggiran/jalanan perlu ditangani dengan pendekatan &lt;br /&gt;individual, realistis, dan sesuai dengan bakat mereka. Dalam hal ini, &lt;br /&gt;musik bisa menjadi terapi psikologis bagi mereka. Karena dengan &lt;br /&gt;mengekspresikan diri melalui karya musik, mereka mendapatkan &lt;br /&gt;kebanggaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demikian benang merah diskusi "Musik sebagai Media Penyadaran &lt;br /&gt;Anak Pinggiran" yang diselenggarakan Sanggar Anak akar Institut Sosial &lt;br /&gt;Jakarta (ISJ) di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (12/5). Diskusi itu &lt;br /&gt;merupakan rangkaian Kampanye Perlindungan Hak Anak yang diadakan &lt;br /&gt;Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, mulai 10 Mei hingga 11 Desember &lt;br /&gt;1999 dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Diskusi itu menampilkan pembicara pemusik asal Bandung Harry &lt;br /&gt;Roesli, penulis Arswendo Atmowiloto, pimpinan Sanggar Anak akar Ibe &lt;br /&gt;Karyanto, dan pelatih musik Sanggar Anak akar Jeffar Lumban Gaol. &lt;br /&gt;Sebelumnya, Selasa malam lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail &lt;br /&gt;Marzuki, Sanggar Anak akar meluncurkan kaset volume kedua bertajuk &lt;br /&gt;Anak Pinggiran. Bersamaan dengan peluncuran kaset itu, mereka juga &lt;br /&gt;mementaskan operet berjudul Muka-muka di Kaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam diskusi kemarin, Arswendo Atmowiloto mengemukakan, &lt;br /&gt;sebenarnya anak-anak jalanan tidak butuh dikasihani, mereka hanya &lt;br /&gt;butuh diperhatikan dan diberi keterampilan. Arswendo melihat, &lt;br /&gt;penyadaran kepada mereka tetaplah merupakan penyadaran secara pribadi, &lt;br /&gt;secara individual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Yang penting menyadarkan bagaimana mereka dapat bertahan &lt;br /&gt;hidup tanpa mengandalkan kroni, tanpa mengandalkan maesenas, tanpa &lt;br /&gt;mengandalkan belas kasihan, juga tanpa mengharapkan keajaiban. 'Sang &lt;br /&gt;penyelamat' mereka adalah diri mereka sendiri," papar Arswendo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam bayangan Arswendo, pendekatan atau penyadaran pribadi &lt;br /&gt;lepas pribadi adalah membiarkan mereka menemukan cara terbaik untuk &lt;br /&gt;hidup. Maksudnya, jangan memaksa mereka untuk meninggalkan habitatnya, &lt;br /&gt;situasi dan kondisi mereka yang selama ini menjadikan mereka hidup. &lt;br /&gt;"Jangan paksa ajari pertobatan, nilai luhur atau tata krama. Mereka &lt;br /&gt;akan mempraktikkan kalau memerlukan," kata Arswendo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penyadaran melalui musik, berteater, berseni lukis, berkarya &lt;br /&gt;atau hidup bersama, pada akhirnya adalah penyadaran akan kemampuan &lt;br /&gt;individual untuk menjadi 'jagoan', supaya mampu bertahan di tengah &lt;br /&gt;kerasnya kehidupan yang harus mereka jalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kebanggaan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;    Sementara menurut pelatih musik Jeffar Lumban Gaol, harga diri &lt;br /&gt;dan kebanggaan anak-anak pinggiran dapat dibangkitkan melalui musik. &lt;br /&gt;Musik dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. "Yang saya tekankan &lt;br /&gt;pada mereka: jika kalian bermain musik, maka kalian akan &lt;br /&gt;diperhatikan," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pemusik Harry Roesli menyatakan, upaya menyadarkan anak-anak &lt;br /&gt;pinggiran agar mereka bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku &lt;br /&gt;adalah sebuah kerja yang sangat besar. Namun, kata Harry, sebenarnya &lt;br /&gt;ketidaksadaran anak-anak pinggiran itu merupakan ekses dari &lt;br /&gt;ketidaksadaran orang-orang yang berada di atas atau orang-orang yang &lt;br /&gt;memiliki kewenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Mencuri, buat norma kita itu kriminal. Tetapi buat mereka &lt;br /&gt;nilainya survival, kendati orang-orang yang normatif juga suka &lt;br /&gt;mencuri, korupsi, dan manipulasi. Malak atau berkelahi buat kita &lt;br /&gt;nilainya negatif, tetapi buat mereka itu nilai dari sebuah eksistensi &lt;br /&gt;di dunia mereka. Jadi penyadaran itu harus dimulai dari bapak-bapak &lt;br /&gt;kita," kata Harry. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dia mensinyalir jumlah anak pinggiran ini kian hari kian &lt;br /&gt;bertambah. Dari pemantauan di perempatan-perempatan jalan di Kota &lt;br /&gt;Bandung, setiap tiga hari ada lima anak baru. Karena itu dia sepakat &lt;br /&gt;bahwa musik memang efektif untuk penyadaran. Menurut dia, lagu-lagu &lt;br /&gt;anak jalanan jauh lebih kontekstual, lebih mengakar daripada lagu-lagu &lt;br /&gt;yang dibawakan grup musik yang telah terkenal saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, Ibe Karyanto mengungkapkan, yang lebih sering &lt;br /&gt;terjadi anak-anak jalanan ini belajar musik dari teman-teman mereka. &lt;br /&gt;Mereka sendiri yang menentukan jadwal latihan sore hari, karena pada &lt;br /&gt;pagi, siang atau malam hari ada yang kerja jualan koran atau calo &lt;br /&gt;taksi. "Jadi saya tidak mengajari mereka. Saya tidak ingin mereka &lt;br /&gt;hanya menjadi tukang. Saya ingin mereka mengenal potensi diri seperti &lt;br /&gt;lagu berjudul Membangun Mimpi di atas Kaki Sendiri," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menyinggung kaset Sanggar Anak akar volume kedua, Susilo &lt;br /&gt;Adinegoro selaku produser mengatakan, kaset tersebut diproduksi 3.000 &lt;br /&gt;buah. Sedangkan volume pertama yang berjudul Nyanyian Ranting Kering &lt;br /&gt;telah terjual 10.000 kaset dan permintaan tetap mengalir hingga kini. &lt;br /&gt;"Biaya produksi kaset volume kedua ini Rp 15 juta. Kaset itu akan kami &lt;br /&gt;pasarkan lewat acara-acara diskusi. Kami akan membuka jaringan pasar &lt;br /&gt;sendiri," kata Susilo. (ij/lok)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-4725408292226623899?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/4725408292226623899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/musik-terapi-psikologis-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4725408292226623899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/4725408292226623899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/musik-terapi-psikologis-anak.html' title='MUSIK, TERAPI PSIKOLOGIS ANAK'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-3099988985181374927</id><published>2008-12-11T17:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:33:02.341-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='operet anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elok dyah messwati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='elok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>NYANYIAN ANAK-ANAK PINGGIRAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berharap ada bintang jatuh,&lt;br /&gt;    biar aku bisa minta sesuatu... &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ANDAI benar ada bintang jatuh, mungkin anak-anak jalanan, &lt;br /&gt;anak-anak pinggiran, yang menyaksikannya akan mengucapkan harapan, &lt;br /&gt;"Tuhan, beri rezeki untukku hari ini. Tuhan, buka mata hati para &lt;br /&gt;penguasa kota, para petugas tramtib, supaya tidak mengejar-ngejar &lt;br /&gt;diriku mirip buronan dan menjebloskanku ke panti sosial."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Realitasnya, anak-anak &lt;br /&gt;jalanan di negeri ini, dari waktu ke waktu, justru harus berbenturan &lt;br /&gt;dengan aparat keamanan. Tindak kekerasan mereka rasakan. Tak cuma itu &lt;br /&gt;penderitaan mereka. Di rumah, mau tak mau mereka turut mendengar dan &lt;br /&gt;melihat berbagai kesulitan yang dihadapi orangtua mereka: tak punya &lt;br /&gt;uang, tak ada beras, tak punya telur, minyak pun habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Berangkat dari pengalaman keseharian anak-anak jalanan inilah &lt;br /&gt;operet Nyanyian Para Saksi digelar Sanggar Anak 'akar', 1-2 Oktober &lt;br /&gt;2000 di Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Operet yang disutradarai Ibe Karyanto dan penataan musiknya &lt;br /&gt;dibantu Oppie Andaresta ini merupakan produksi kedelapan Sanggar &lt;br /&gt;'akar'. Tujuh pementasan terdahulu, adalah Opera Bencana (Banjir), &lt;br /&gt;Nyanyian Ranting Kering, Hari-hari Hidupku, Senandung Akar Rumput, &lt;br /&gt;Opera Luka-lukaku, Opera Muka-muka di Kaca, dan Rahmat Membangun &lt;br /&gt;Mimpi. &lt;br /&gt;                              *** &lt;br /&gt;    NYANYIAN Para Saksi bercerita tentang pengalaman hidup Nina (9), &lt;br /&gt;bocah yang biasa mengamen di perempatan jalan. Nina hanyalah satu &lt;br /&gt;dari sekian banyak bocah kecil yang menjadi saksi kerasnya hidup yang &lt;br /&gt;membelit orangtua mereka. Ia menyaksikan bagaimana ayahnya digebuki &lt;br /&gt;aparat dan harus masuk rumah sakit. Sementara di rumah, mereka tak &lt;br /&gt;memiliki apa-apa untuk dimakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seperti biasa, Nina mengamen di perempatan bersama kawan-&lt;br /&gt;kawannya. Tak hanya Nina di jalanan. Ada pula anak-anak pedagang &lt;br /&gt;asongan koran atau penjual rokok eceran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Petualangan Nina sebagai bocah tidak hanya menjadi saksi, tetapi &lt;br /&gt;juga sebagai bocah yang sehari-hari menghadapi ancaman. Di jalanan, &lt;br /&gt;ketika sedang mengais rezeki, hampir setiap hari Nina dan bocah-bocah &lt;br /&gt;lainnya berhadapan dengan kejahatan para preman. Bahkan, mereka juga &lt;br /&gt;harus menghadapi ancaman para petugas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Masih banyak cerita duka anak-anak yang termarjinalkan. Akibat &lt;br /&gt;pertikaian politik, bocah-bocah kecil yang jelas tak ada sangkut-paut &lt;br /&gt;dengan politik, entah di Maluku, di Aceh, di Pontianak, atau di Poso, &lt;br /&gt;kini tak bisa sekolah. Mereka terkungkung di lokasi pengungsian, &lt;br /&gt;menjadi "saksi-saksi kecil" kekerasan bersenjata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Cerita dalam operet memang mirip dengan hidup mereka setiap &lt;br /&gt;harinya. Di Jakarta, anak-anak jalanan, entah pengamen ecek-ecek di &lt;br /&gt;perempatan, pedagang asongan, atau apa pun aktivitas mereka mencari &lt;br /&gt;nafkah, selalu diancam garukan petugas tramtib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Operet adalah representasi hidup mereka. Kenyataan yang terjadi &lt;br /&gt;sering lebih pahit. Simak saja. Saking muaknya pada Operasi &lt;br /&gt;Penertiban Penyandang Masalah Sosial yang dilancarkan Pemerintah &lt;br /&gt;Daerah Tingkat I DKI Jaya, anak-anak jalanan dari berbagai lokasi &lt;br /&gt;pada tanggal 25 September 2000 berdemonstrasi di Balaikota memprotes &lt;br /&gt;Gubernur DKI Jaya, Sutiyoso. Namun, bukan tanggapan positif yang &lt;br /&gt;mereka dapatkan. Justru tindakan represif dan pukulan/ bogem mentah &lt;br /&gt;para hansip sebagai jawaban protes mereka. &lt;br /&gt;                              *** &lt;br /&gt;     SIAPAKAH anak-anak anggota Sanggar 'akar' ini? Mereka adalah &lt;br /&gt;anak-anak dari keluarga perkotaan yang tidak mampu secara ekonomi. &lt;br /&gt;Mereka berasal dari berbagai lokasi di Jakarta. Mereka yang bertempat &lt;br /&gt;tinggal di Cakung, umumnya anak-anak petani sayur yang menanam sayur &lt;br /&gt;di bantaran sungai. Anak-anak dari Bantar Gebang yang  orangtuanya &lt;br /&gt;berprofesi sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah tersebut. &lt;br /&gt;Anak-anak dari Penas lama, yang biasanya anak-anak penjual gorengan, &lt;br /&gt;penjual ketoprak keliling, atau kuli bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Nina yang menjadi pemeran utama operet adalah murid kelas lima &lt;br /&gt;SDN 12 Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Setiap hari usai &lt;br /&gt;sekolah hingga pukul 15.00, Nina mengamen di perempatan lampu merah &lt;br /&gt;Kebon Nanas, Jakarta Timur. Kata Nina, bapaknya tidak bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ditanya berapa penghasilannya setiap hari, ia menjawab, "Tiga &lt;br /&gt;ribu perak. Yang dua ribu buat Emak, yang seribu buat jajan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sanggar 'akar' yang didirikan 22 November 1994 adalah media &lt;br /&gt;pendidikan kreatif yang dibangun bersama oleh Biro Advokasi &lt;br /&gt;Anak-Institut Sosial Jakarta dan anak-anak pinggiran. Kesulitan untuk &lt;br /&gt;mencari tempat belajar dan bermain yang nyaman adalah salah satu &lt;br /&gt;alasan yang mendesak dibanggunnya sanggar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bentuk sanggar sengaja dipilih untuk memfasilitasi terciptanya &lt;br /&gt;proses "belajar sambil berkarya" dan membuka peluang sebanyak mungkin &lt;br /&gt;kegiatan kreatif yang mampu mendukung pengembangan potensi anak. Di &lt;br /&gt;samping kegiatan membaca di perpustakaan, mereka membuat kerajinan &lt;br /&gt;(daur ulang, sablon), bermain musik, membuat tabloid, juga &lt;br /&gt;mengembangkan kegiatan dinamika kelompok belajar dan teater. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sebagian besar anggota Sanggar 'akar' adalah pengamen. Yang &lt;br /&gt;masih kecil-kecil mengamen di traffic light, yang sudah besar &lt;br /&gt;biasanya mengamen di dalam bus kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Kami punya acara pertemuan setiap hari Minggu. Sekali pertemuan &lt;br /&gt;biasanya terkumpul 90-100 anak. Selama tiga jam mereka belajar &lt;br /&gt;sosiodrama, latihan public speaking, mengkritik teman, dan bercerita &lt;br /&gt;lisan. Setelah latihan, mereka bebas main. Yang mau main musik, ya, &lt;br /&gt;main musik diajari temannya yang sudah bisa," kata Ibe Karyanto, &lt;br /&gt;pendamping anak-anak Sanggar 'akar'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kalau sudah memegang gitar, mereka akan menyanyikan serangkaian &lt;br /&gt;tembang yang lirik-liriknya mengharukan. Seperti Oppie Andaresta yang &lt;br /&gt;menyanyikan lagunya: //Pada saat terik lapar letih/mengais rezeki di &lt;br /&gt;ladang sampah/badanku yang sekecil ini pasti tak mampu menjangkau &lt;br /&gt;harga/semakin hari semakin menggila//Belum lagi datang preman/yang &lt;br /&gt;selalu mengompas hasil keringatku/ badanku yang sekecil ini tak mampu &lt;br /&gt;pertahankan semua hakku/semakin hari hidup semakin enggak &lt;br /&gt;aman/berharap ada bintang jatuh/biar aku bisa minta sesuatu... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Elok Dyah Messwati)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-3099988985181374927?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/3099988985181374927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/nyanyian-anak-anak-pinggiran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/3099988985181374927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/3099988985181374927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/nyanyian-anak-anak-pinggiran.html' title='NYANYIAN ANAK-ANAK PINGGIRAN'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-901150715075077288</id><published>2008-12-11T17:28:00.001-08:00</published><updated>2009-06-26T05:45:33.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='klaten'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='andre'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=': akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='solidaritas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lare mentes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Pentas Sanggar Akar</title><content type='html'>&lt;br /&gt;                   SOLIDARITAS ANAK-ANAK PINGGIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tema yang diangkat Sanggar Anak Akar melalui pementasan operet &lt;br /&gt;Nyanyian Ranting Kering di Taman Ismail Mazuki (TIM) Jakarta, Selasa &lt;br /&gt;(25/7), tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mereka masih &lt;br /&gt;saja mengangkat kisah sedih anak-anak jalanan yang diperlakukan &lt;br /&gt;sewenang-wenang oleh aparat ketenteraman dan ketertiban alias tramtib.&lt;br /&gt;    Memang begitulah realitas yang terjadi sampai saat ini. Anak-anak &lt;br /&gt;pinggiran seakan-akan dikutuk oleh sistem yang tidak adil: hidup &lt;br /&gt;miskin tujuh turunan. Mereka bukannya disantuni oleh negara, tetapi &lt;br /&gt;justru dianggap sampah yang harus disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Walaupun tema ini sering kami angkat, kenyataan yang kami &lt;br /&gt;hadapi memang belum ada perubahan. Perlakuan terhadap anak-anak &lt;br /&gt;jalanan bukannya bertambah baik," kata Andre, yang bergabung sebagai &lt;br /&gt;anak Sanggar Akar sejak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Andre dan Soesilo merupakan anak-anak bangkot Sanggar Akar yang &lt;br /&gt;menggarap produksi ke-15 operet Sanggar Akar. Berbeda dibandingkan &lt;br /&gt;tahun-tahun sebelumnya, kali ini seluruh kepanitiaan dan pementasan &lt;br /&gt;digarap oleh anak-anak sanggar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Untuk pertama kalinya saya bisa sepenuhnya menikmati &lt;br /&gt;pertunjukan ini sebagai penonton," kata Ibe Karyanto, Koordinator &lt;br /&gt;Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Operet Nyanyian Ranting Kering memang pernah ditampilkan Sanggar &lt;br /&gt;Akar beberapa tahun sebelumnya, tetapi pertunjukan Selasa lalu hadir &lt;br /&gt;dengan garapan dan dialog baru. Alasannya sederhana, anak-anak &lt;br /&gt;sanggar tidak punya cukup waktu untuk menggarap cerita baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selama sepuluh bulan terakhir mereka sibuk dengan kegiatan &lt;br /&gt;membangun rumah baru. Rumah yang lama, rumah semipermanen dari kayu &lt;br /&gt;bekas telah lapuk dimakan waktu. Kini, berkat dana sebuah organisasi &lt;br /&gt;nonpemerintah dari Belanda serta sumbangan dari para sahabat Akar, &lt;br /&gt;mereka telah memiliki rumah baru berlantai tiga dengan dinding batu &lt;br /&gt;bata. Mereka hanya mempekerjakan empat tukang. Selama 10 bulan, anak- &lt;br /&gt;anak sanggar yang cukup umur, siang malam bergotong-royong membangun &lt;br /&gt;rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Usai membangun sanggar, sejumlah aktivis sanggar terpanggil untuk &lt;br /&gt;menyelenggarakan pendidikan alternatif bagi anak-anak korban gempa &lt;br /&gt;bumi di Klaten. Dengan modal seadanya mereka mendirikan tenda belajar &lt;br /&gt;di Dukuh Pundung dan Jombor, Kecamatan Gantiwarno, Klaten. Berkat &lt;br /&gt;keberadaan tenda belajar itu pula, anak-anak dusun yang menjadi &lt;br /&gt;korban bencana itu bisa ikut merayakan Hari Anak Nasional yang &lt;br /&gt;pertama kalinya mereka ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hampir seluruh pemain teater adalah anak-anak baru, dibawah 18 &lt;br /&gt;tahun. Anak-anak itu menggunakan pakaian keseharian mereka. Gerak dan &lt;br /&gt;tari natural ditampilkan dalam penghayatan dan kegembiraan. Mereka &lt;br /&gt;tidak hanya menguji diri dan tampil di atas panggung, tetapi juga &lt;br /&gt;mencoba menggalang solidaritas untuk kawan-kawan mereka yang menjadi &lt;br /&gt;korban gempa bumi di Klaten. Hasil pementasan dan pengumpulan dana &lt;br /&gt;spontan yang dilakukan sebelum pentas dimulai akan dipergunakan untuk &lt;br /&gt;meneruskan kegiatan tenda belajar di Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Solidaritas tidak harus menunggu kelimpahan. Solidaritas terhadap &lt;br /&gt;sesama melekat dalam keseharian mereka, ketika mereka harus saweran, &lt;br /&gt;mengumpulkan recehan, sekadar untuk dapat izin menjenguk kawan-kawan &lt;br /&gt;mereka yang digaruk petugas dan "diinapkan" di panti-panti &lt;br /&gt;sosial.... (wis)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-901150715075077288?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/901150715075077288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pentas-sanggar-akar_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/901150715075077288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/901150715075077288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pentas-sanggar-akar_11.html' title='Pentas Sanggar Akar'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-6554251550941820279</id><published>2008-12-11T17:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:29:28.776-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='klaten'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='andre'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=': akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='solidaritas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lare mentes'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Pentas Sanggar Akar</title><content type='html'>SOLIDARITAS ANAK-ANAK PINGGIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tema yang diangkat Sanggar Anak Akar melalui pementasan operet &lt;br /&gt;Nyanyian Ranting Kering di Taman Ismail Mazuki (TIM) Jakarta, Selasa &lt;br /&gt;(25/7), tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mereka masih &lt;br /&gt;saja mengangkat kisah sedih anak-anak jalanan yang diperlakukan &lt;br /&gt;sewenang-wenang oleh aparat ketenteraman dan ketertiban alias tramtib.&lt;br /&gt;    Memang begitulah realitas yang terjadi sampai saat ini. Anak-anak &lt;br /&gt;pinggiran seakan-akan dikutuk oleh sistem yang tidak adil: hidup &lt;br /&gt;miskin tujuh turunan. Mereka bukannya disantuni oleh negara, tetapi &lt;br /&gt;justru dianggap sampah yang harus disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Walaupun tema ini sering kami angkat, kenyataan yang kami &lt;br /&gt;hadapi memang belum ada perubahan. Perlakuan terhadap anak-anak &lt;br /&gt;jalanan bukannya bertambah baik," kata Andre, yang bergabung sebagai &lt;br /&gt;anak Sanggar Akar sejak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Andre dan Soesilo merupakan anak-anak bangkot Sanggar Akar yang &lt;br /&gt;menggarap produksi ke-15 operet Sanggar Akar. Berbeda dibandingkan &lt;br /&gt;tahun-tahun sebelumnya, kali ini seluruh kepanitiaan dan pementasan &lt;br /&gt;digarap oleh anak-anak sanggar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Untuk pertama kalinya saya bisa sepenuhnya menikmati &lt;br /&gt;pertunjukan ini sebagai penonton," kata Ibe Karyanto, Koordinator &lt;br /&gt;Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Operet Nyanyian Ranting Kering memang pernah ditampilkan Sanggar &lt;br /&gt;Akar beberapa tahun sebelumnya, tetapi pertunjukan Selasa lalu hadir &lt;br /&gt;dengan garapan dan dialog baru. Alasannya sederhana, anak-anak &lt;br /&gt;sanggar tidak punya cukup waktu untuk menggarap cerita baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selama sepuluh bulan terakhir mereka sibuk dengan kegiatan &lt;br /&gt;membangun rumah baru. Rumah yang lama, rumah semipermanen dari kayu &lt;br /&gt;bekas telah lapuk dimakan waktu. Kini, berkat dana sebuah organisasi &lt;br /&gt;nonpemerintah dari Belanda serta sumbangan dari para sahabat Akar, &lt;br /&gt;mereka telah memiliki rumah baru berlantai tiga dengan dinding batu &lt;br /&gt;bata. Mereka hanya mempekerjakan empat tukang. Selama 10 bulan, anak- &lt;br /&gt;anak sanggar yang cukup umur, siang malam bergotong-royong membangun &lt;br /&gt;rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Usai membangun sanggar, sejumlah aktivis sanggar terpanggil untuk &lt;br /&gt;menyelenggarakan pendidikan alternatif bagi anak-anak korban gempa &lt;br /&gt;bumi di Klaten. Dengan modal seadanya mereka mendirikan tenda belajar &lt;br /&gt;di Dukuh Pundung dan Jombor, Kecamatan Gantiwarno, Klaten. Berkat &lt;br /&gt;keberadaan tenda belajar itu pula, anak-anak dusun yang menjadi &lt;br /&gt;korban bencana itu bisa ikut merayakan Hari Anak Nasional yang &lt;br /&gt;pertama kalinya mereka ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hampir seluruh pemain teater adalah anak-anak baru, dibawah 18 &lt;br /&gt;tahun. Anak-anak itu menggunakan pakaian keseharian mereka. Gerak dan &lt;br /&gt;tari natural ditampilkan dalam penghayatan dan kegembiraan. Mereka &lt;br /&gt;tidak hanya menguji diri dan tampil di atas panggung, tetapi juga &lt;br /&gt;mencoba menggalang solidaritas untuk kawan-kawan mereka yang menjadi &lt;br /&gt;korban gempa bumi di Klaten. Hasil pementasan dan pengumpulan dana &lt;br /&gt;spontan yang dilakukan sebelum pentas dimulai akan dipergunakan untuk &lt;br /&gt;meneruskan kegiatan tenda belajar di Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Solidaritas tidak harus menunggu kelimpahan. Solidaritas terhadap &lt;br /&gt;sesama melekat dalam keseharian mereka, ketika mereka harus saweran, &lt;br /&gt;mengumpulkan recehan, sekadar untuk dapat izin menjenguk kawan-kawan &lt;br /&gt;mereka yang digaruk petugas dan "diinapkan" di panti-panti &lt;br /&gt;sosial.... (wis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-6554251550941820279?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/6554251550941820279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pentas-sanggar-akar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/6554251550941820279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/6554251550941820279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/pentas-sanggar-akar.html' title='Pentas Sanggar Akar'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-1611575501019321318</id><published>2008-12-11T17:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T17:27:05.435-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='susilo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan alternatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe karyanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibe'/><title type='text'>Anak-anak Jalanan di Sanggar Akar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengisi Kebahagiaan dengan Keterampilan dan Pendidikan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar Harapan, 23 Juli 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Anak bisa jadi belum bergaung di telinga anak-anak umumnya, bahkan di kalangan orang tua sekali pun. Namun di sebuah perumahan yang berlahan luas, tepat di pinggiran Kali Malang, di antara rumah papan dan beberapa jenis hewan peliharaan, beberapa anak sibuk mengangkuti kayu-kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dari komunitas Sanggar Akar ini, memang tahu bahwa Peringatan Hari Anak Nasional ini bermakna bagi mereka. Mereka akan mengadakan rangkaian kegiatan dengan tema ”Refleksi Citra Karya Pendidikan Anak-anak Merdeka”. Rangkaiannya, be-rupa bazar, pameran karya pendidikan kelompok dan organisasi masyarakat, panggung kreatif, ekspresi warna, pemutaran film anak-anak dan diskusi terbuka antartokoh pendidikan di Indonesia. Hampir keseluruhan kegiatan ini diadakan di Sanggar Akar pada akhir bulan Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hari Anak kalau bisa bukan cuma agenda semata, tapi juga bagaimana bisa mengungkapkan tentang hak-hak untuk anak terutama pendidikan untuk anak,” ujar Susilo, pendamping di Sanggar Akar. Hari anak, menurutnya, pada momen ini juga dijadikan oleh Sanggar Akar bukan hanya kegiatan internal, tapi juga merupakan kampanye publik tentang pendidikan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itu, anak-anak jalanan memang bisa mendapatkan impian yang mereka inginkan: bersekolah. Selain hampir tigaperempat dari anak-anak Sanggar Akar yang menjalani sekolah formal, ada juga yang benar-benar menggantungkan pengetahuannya dari menimba di sekolah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sekolah, bagi mereka, memang bisa nyata untuk mendapatkan ilmu. Tak seperti ”sekolah biasa”, walau secara fisik sekolah tempat mereka belajar dari kayu namun dari materi yang diajarkan, sekolah buat anak-anak jalanan di Sanggar Akar justru lebih istimewa. Seperti yang diakui oleh Dede, seorang lelaki yang sudah sepuluh tahun mengenyam pendidikan di sanggar ini. Menurutnya, bila sekolah formal, sangat menekankan teori, di sini lebih menekankan pada praktik. Seperti pengajaran bahasa Inggris secara lisan, pendalaman sejarah lokal, jelas mata pelajaran itu tak bisa didapat dalam pelajaran formal yang lebih kaku secara kurikulum. Dengan luas kelas sekitar tiga kali empat meter persegi, anak-anak telah mendapatkan materi pendidikan secara berkala dan intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan SH, anak-anak di sana memang terkesan lugas dan ringan tangan. Secara spontan, seorang remaja tampak menggergaji papan yang dipotong kecil-kecil. ”Untuk tempat penghapus di kelas, Mas,” ujarnya saat ditanya maksudnya menggergaji. Sementara beberapa yang lainnya mempersiapkan minuman dan makanan buat para tetamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan Belajar&lt;br /&gt;Areal Sanggar Akar yang berada di pinggiran Kali Malang itu, menurut Susilo memang merupakan tempat paling strategis dan ideal untuk pemukiman para anak jalanan. Selain areal yang luas, masyarakatnya lebih terbuka ketimbang pemukiman mereka sebelumnya – banyak suka duka mereka dapatkan sebelum akhirnya tinggal di tempat ini. Tanah di tempat itu juga cukup subur untuk ditanami. Di tempat itu, mereka juga memelihara ikan, burung dan beberapa ekor monyet. Perawatan tentu saja dilakukan bersama, anak-anak itu tampak menjalani saja semua pekerjaan dengan ringan dan riang.&lt;br /&gt;Kegiatan mereka yang lain adalah event-event kesenian yang sudah sejak lama mereka lakukan. Selain pementasan Nyanyian Kaleng Rombeng yang dilakukan di Taman Ismail Marzuki bulan lalu, penggarapan album kaset juga pernah mereka lakukan. Secara terbuka, Sanggar Akar juga kerap mengadakan acara kesenian secara spontan dan bebas pada minggu ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak juga diajarkan untuk mengelola koperasi. Selain memelihara hewan dan tanaman, anak-anak juga diajarkan untuk membuat kue, berorganisasi atau bahkan mengelola sebuah kegiatan yang sedang mereka lakukan. Untuk sebuah kegiatan yang dilakukan, setiap anak bisa saja menjadi humas atau sekretaris, semua diatur menurut kesepakatan antara anak-anak dan para pembimbing. Setelah sepuluh tahun Sanggar Akar berjalan, sesungguhnya mulai terjadi regenerasi di kalangan internal. Bila pada tahun-tahun yang lalu, sanggar tersebut memerlukan sukarelawan dari luar, saat ini anak-anak anggota yang telah dewasa dipercaya sebagai kakak pembimbing bagi adik-adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda&lt;br /&gt;Di awal bulan Agustus, anak-anak jalanan yang kini tergabung dalam Komunitas Sanggar Akar ini juga punya agenda akan mengadakan Kampore (singkatan dari Kampoeng Kere, sejenis ajang Jambore, red), sebuah kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh sanggar ini. Agak berbeda dengan pelaksanaan Kampore tahun sebelumnya, yang mengundang semua jaringan LSM, kesenian dan pendidikan anak dari setiap provinsi, kali ini pengadaan Kampore lebih ditujukan pada komunitas Sanggar Akar sendiri. Mulai dari membangun team work,membangun sikap solider dan toleran di kalangan mereka. ”Ini yang agak berbeda ketimbang tahun sebelumnya,”ujar Susilo, yang selama ini dikenal sebagai pendamping di Sanggar Akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap masyarakat luar, selain banyak menerima bantuan moril dan materil, para anak yang dididik di Sanggar Akar ini juga akan mendapat kesempatan dipertemukan dengan anak-anak dari beberapa sekolah, di bawah tema ”Kau dan Aku Berkarya Sama-sama”. Selain berdialog dan saling mengajarkan, para anak-anak Sanggar Akar juga akan mensosialisasikan kemampuan seni dan keterampilan mereka. Untuk maksud ini, menurut Susilo, masih sedang diusahakan dengan beberapa sekolah, antara lain SMP Al Azhar, SMP Yakobus dan SMU Negeri 4 Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Susilo, mereka juga akan mengadakan pameran, seperti pameran pendidikan, pertunjukan talkshow lewat radio. Anak-anak juga diberikan kesempatan untuk berdialog dengan masyarakat luas. Dengan kegiatan-kegiatan yang positif, berupa agenda internal dan eksternal, anak-anak ini memang terlihat cerdas dan responsif saat menerima tetamu yang datang ke areal mereka. Pada saat pertemuan dengan wartawan, mereka terlihat cepat dan kritis dalam merespons setiap pertanyaan. Tak hanya berupa keterampilan, mereka bahkan telah menjadi penulis walau masih di kalangan sanggar. Mereka juga bikin majalah dinding, menyablon atau me-lay-out majalah. Pengetahuan, keterampilan dan pendidikan, bukan monopoli orang-orang kalangan atas, semua manusia seharusnya berhak menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SH/sihar ramses simatupang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-1611575501019321318?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/1611575501019321318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/anak-anak-jalanan-di-sanggar-akar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1611575501019321318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/1611575501019321318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/anak-anak-jalanan-di-sanggar-akar.html' title='Anak-anak Jalanan di Sanggar Akar'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1385913113706344900.post-5529759124122237558</id><published>2008-12-11T07:36:00.000-08:00</published><updated>2009-06-26T05:45:33.028-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanggar akar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hak anak'/><title type='text'>Hak anak</title><content type='html'>&lt;br /&gt;	Kata hak anak memenag sudah tidak asing lagi untuk kita dengar. Bahkan,kata ini mungkin sudah membuat kita semua bosan karna terlalu sering di sebut. Tapi,masih terlalu sedikit orang yang tahu arti sesungguhnya hak anak tersebut, sehingga sampai saat ini pun masih sering terjadi sesuatu yang tidak beres  pada anak di kalangan masyarakat. Contoh konkrit yang kita temui sehari-hari misalnya anak di perlakukan semena-mena. Sering juga terjadi kekerasan karena kita belum pHm tentang apa hak anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Anak bukan objek yang boleh kita semena-menakan, melainkan anak adalah sebuah sosok manusia yang mempunyai harga diri dan hak untuk bebas berkembang.&lt;br /&gt;Hak anak adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan anak sebagai manusia ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Selain itu, hak anak juga bersifat sempurna yang artinya kita semua kita semua harus menghormati dan menjunjung tingg nilai-nilai tentang hak anak. Setidaknya, penjelasan ini menjadi kunci dasar bagi kita khususnya masyarakat Indonesia untuk bener-benar memposisikan anak sebagai manusia yang harus di lindungi dan di bombing proses tumbuh kembangnya.&lt;br /&gt;Negara dan pemerintah juga berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak, tanpa membedakan status dan latar belakang kehidupan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Seperti dalam UUD pasal 23 ayat 1. Di sana dijelaskan bahwa negar dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orangtu, wali, atau orang lain yang secara hokum bertanggung jawab terhadap anak. Anak bisa disebut satu-satunya penerus bangsa. Sebagai penerus bangsa tentunya anak harus mendapatkan perlakuan-perlakuan dan hak-hak yang selayaknya mereka dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Missal dalam UUD no.23 tahun 2002 dirumuskan tentang :&lt;br /&gt;1.	Hak hidup&lt;br /&gt;2.	Hak untuk tumbuh kembang&lt;br /&gt;3.	Hak untuk berpartisipasi secara wajar&lt;br /&gt;4.	Hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Kita perlu mengetahui hak-hak itu, dengan demikian, kita dapat mengetahui hak-hak kita sebagai anak, serta tanggung jawab pemerintah dan masyarakat sekitar terhadap proses tumbuh kembang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Nah, sekarang kalian yang masih merasa anak-anak sudah pada tahu kan….? Apa hak kamu sebagai anak Indonesia. Mulai sekarang  kamu tidak perlu takut lagi untuk merebut kembali hak kamu yang  telah di rampas. HIDUP ANAK! &lt;br /&gt;Oleh : kaminah&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1385913113706344900-5529759124122237558?l=sanggarakar-niat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/feeds/5529759124122237558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/hak-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5529759124122237558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1385913113706344900/posts/default/5529759124122237558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarakar-niat.blogspot.com/2008/12/hak-anak.html' title='Hak anak'/><author><name>niat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09719912145801746146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_p9N-wiktGl4/SUEoygDyI4I/AAAAAAAAAA4/2HldNjxSgbE/S220/logo+akar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
